
Aku gelisah sepanjang malam. Tidak bisa tidur nyenyak, terutama karena pikiranku yang kacau, ditambah luka lebamku yang terasa sakit, membuatku tidak bisa tidur terlentang. Maka dari itu, daripada aku tidak melakukan apa-apa di kamar, kuputuskan untuk bangun. Aku turun ke lantai bawah, masuk ke dapur dan mulai masak -- mie tek-tek kesukaan Reza -- untuk semua orang.
Sewaktu aku menumis dan racikan bumbu-bumbu dapur itu menguar memenuhi ruangan, Mayra terbangun, lalu dia membantuku masak. Senyuman manisnya menyapaku dengan hangat. Aku tahu, dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengumandangkan kultum paginya untukku.
"Aku tidak keberatan untuk mendengar nasihatmu," kataku sebelum dia mulai buka suara.
Waktu itu Mayra sedang mencuci tangannya di wastafel, dan dia tersenyum sekali lagi padaku. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.
"Yeah, tentu. Kalau tidak keberatan, tolong ambilkan beberapa mie di dalam laci dan tolong sekalian direbus."
Mayra mengangguk dan langsung mengeksekusi mie-mie itu dengan cepat. "Bagaimana keadaanmu?"
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik."
"Hati dan perasaanmu?"
"Sedikit kacau. Tapi aku bisa mengatasinya. Tidak perlu khawatir."
Mayra seperti mencari-cari keyakinan di wajahku. "Aku tahu, kamu sosok istri yang kuat, dan tegar."
Mayra tersenyum, lagi. Lalu dia mengatakan padaku, menurutnya kisah cintaku itu persis cinta segitiga antara Sarah, Doel, dan Zaenab. Salsya persis seperti Zaenab, mantan pacar yang sok lemah dan memanfaatkan kehamilannya untuk merusak rumah tangga orang, tuturnya. "Dan kamu, persis seperti Sarah, sosok yang keras, bisa dibilang kalau dia itu perempuan tangguh -- sama sepertimu. Tapi kuharap, ketangguhan itu tidak membuatmu mengambil keputusan yang salah seperti yang pernah dilakukan oleh Sarah. Jangan pernah menghilang."
Kupertimbangkan jawabanku sesaat, karena ini mengarah ke obrolan yang cukup serius antara kami berdua. "Aku tidak tahu, May. Aku belum memikirkan sejauh itu. Tidak tahu bagaimana nanti."
__ADS_1
Mayra mendekat padaku dan menaruh kedua tangannya di bahuku. "Aku mengharapkan yang terbaik, Ra. Baik untukmu, juga baik untuk Reza. Tapi kalau akhirnya kamu menyerah, yah... mau bagaimana. Aku hanya minta -- jangan menghilang tanpa jejak seperti Sarah. Itu saja."
Aku menggeleng. "Tidak akan. Tapi seandainya keadaan mengharuskan aku untuk pergi, aku akan pergi baik-baik, berpisah baik-baik dengan cara yang seharusnya. Karena aku bukan ayahku. Dan... mengenai itu, mungkin ayahku mau menguruskan perpisahan itu untukku. Aku akan berbaikan dengannya kalau dia mau melakukan hal itu untukku."
Mayra mengamatiku tak berdaya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Aku harap itu tidak akan pernah terjadi. Kalian berhak bahagia dengan cerita cinta yang berakhir bahagia. Maksudku -- bahagia yang tiada akhir."
Dalam hati aku mengaminkan, bersamaan dengan mematikan kompor yang sudah panas, lalu mengedikkan bahu. "Semoga, itu tergantung bagaimana sikap sahabatmu. Oh ya, omong-omong soal sikap, dia itu persis si Doel: plinplan dan lemah. Aku tidak tahu apakah dia akan sama tidak bertanggung jawabnya seperti si Doel kalau nanti aku hamil dan punya anak." Aku mendengus. "Seperti ayahku. Dan, yeah, aku tidak tahu, apa saat ini aku menyesali pernikahan ini, atau...."
Ya Tuhan, aku lupa mencicipi masakanku. Segera kuambil sendok dan mencicipi kuah mie-ku, dan, rasanya pas. "Nanti kalau ada yang mau sarapan, tinggal panaskan mie dan kuahnya dengan panci kecil."
Mayra mengangguk. Aku pun permisi padanya untuk kembali ke kamar.
__ADS_1