Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Cinta Yang Rumit


__ADS_3

Aku pergi sebentar.


Tolong jangan ke mana-mana.


Telepon aku kalau kamu butuh sesuatu.


Aku menemukan secarik kertas bertuliskan pesan itu di atas meja kecil di samping ranjang rawatku ketika aku selesai mandi. Aku tidak tahu Reza pergi ke mana, juga tidak berniat untuk bertanya.


Sepeninggal Reza, aku memilih untuk menelepon ibuku dan menceritakan apa yang sudah terjadi. "Nara bingung, Bund. Nara sudah berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga ini. Sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi istri yang baik untuk Mas Reza. Nara sudah berkali-kali memaafkan dia. Tapi, tetap saja ini yang Nara dapat. Nara harus bagaimana?"


Aku tahu ibuku menghela napas dalam-dalam di seberang sana, *esahannya sampai terdengar olehku. "Kata orang, kita harus mempertahankan rumah tangga kita apa pun yang terjadi. Itu benar. Tapi tidak ada salahnya kalau pada akhirnya kita menyerah. Kalau segala daya dan upaya sudah kita lakukan, bahkan berulang-ulang, tapi pasangan kita tidak bisa menghargai itu, Bunda tidak akan mencegah keputusanmu, Nak. Kamu boleh berpisah. Karena sekuat apa pun kamu mempertahankan sesuatu yang bukan ditakdirkan untukmu, pada akhirnya akan tetap terlepas. Begitu juga sebaliknya, meski kamu berusaha melepas dan menghindari apa yang memang ditakdirkan untukmu, dia akan tetap kembali padamu. Jadi, Bunda minta kamu jangan membebankan pikiranmu dengan hal-hal tentang Salsya lagi. Anggap saja begini, terserah Reza mau melakukan apa pun dengan perempuan itu, kalau pada akhirnya dia terbukti menjalin hubungan serius dengannya, ya mau bagaimana, kamu lepaskan dengan ikhlas. Dan, Bunda harap mulai sekarang kamu fokus saja pada kandunganmu. Oke, Sayang? Dunia kita tidak akan hancur hanya karena kehilangan seorang lelaki. Tapi ketika hal buruk terjadi pada buah hati kita, dunia langsung terasa kiamat. Bunda tidak mau kamu mengalami hal itu. Kamu paham? Bisa janji untuk menuruti pesan Bunda?"


"Mmm, ya. Nara janji, Bund. Pasti. Nara akan jaga diri dan jaga kandungan Nara baik-baik."


Berkat nasihat itu, aku memutuskan untuk berlaku sama seperti Reza: seperti koin yang memiliki dua sisi. Bukan pada karakterku, tapi pada sikapku. Di satu sisi aku akan tetap bersikap sebagaimana mestinya seorang istri terhadap suami. Tapi di sisi lain, aku juga akan mempersiapkan diri dan mentalku jika pada akhirnya aku harus menempuh jalan menuju perpisahan. Sebab itu aku memutuskan untuk menelepon Rizki setelah mengakhiri telepon dengan ibuku. Setelah berbasa-basi seadanya, aku langsung menanyakan persyaratan untuk mengajukan cerai di pengadilan. Sayangnya, waktu itu Reza sudah kembali sebelum Rizki menjawab pertanyaanku. Bahkan Reza sempat mendengar pertanyaan itu.


"Maaf, Kak. Tolong whatsapp saja, ya. Aku harus menutup teleponnya sekarang. Aku mau ke toilet, mual. Maaf, ya."


Tut! Aku langsung menutup sambungan telepon, dan untuk menghindari Reza aku pun pergi ke toilet -- cukup lama.

__ADS_1


"Sayang, kamu lagi apa? Jangan lama-lama di dalam. Kamu belum sarapan."


What? Aku terkejut karena sikap Reza yang kembali biasa saja, bahkan setelah tertegun karena mendengar pertanyaanku pada Rizki. Begitu pula saat aku membuka pintu, Reza masih berdiri di depan sana, lalu meraih dan memapahku kembali ke ranjang rawat.


"Aku mau duduk di sofa," kataku. Aku baru hendak mengambil nampan sarapanku, tetapi Reza dengan sigap melarangku. Dia memintaku untuk duduk, sementara dia mengambil nampan itu dan sebotol air mineral untukku.


Aku menggeleng. "Kamu tidak usah repot-repot. Aku bisa sendiri, kan aku tidak sakit."


Dia tersenyum, duduk di sampingku lalu menyuapiku. "Aku tahu, Sayang. Tapi aku mau melakukan ini. Tolong, biarkan aku mencintaimu dengan segala cara yang kubisa. Aku ingin kita memberikan kesempatan satu sama lain untuk memperbaiki rumah tangga kita. Aku dengar, kok, pertanyaanmu pada Rizki tadi. Tapi tidak apa-apa. Kamu juga belum bisa mengajukan perceraian sekarang. Dan, soal aku melanggar sumpah, aku sadar aku salah. Bahkan seharusnya aku bersumpah untuk tidak menemuinya, bukannya tidak memedulikannya. Aku harusnya tahu mana yang bisa kulakukan dan mana yang tidak. Tapi... kalau akhirnya aku mati, aku harap -- aku mati saat aku bersamamu, dan... kalau bisa, setelah aku melihat anak-anakku lahir."


Ya Tuhan... air matanya menetes lagi. Sementara hatiku terasa nano-nano, perasaanku tidak jelas. Aku tidak mengerti, aku merasakan ada getaran saat mendengarkan ucapan suamiku, tapi juga terasa sakit seperti dicubit-cubit, berbarengan dengan rasa sesak yang memenuhi rongga dada. Dan pada akhirnya menghasilkan tetesan air mata di mataku sendiri.


Apa ini kamu yang sebenarnya, Mas? Kamu yang tulus, atau... kamu sedang berpura-pura agar hatiku tersentuh? Rasanya sulit sekali untuk mengenalimu saat ini. Kenapa cerita cinta kita menjadi serumit ini? Kuusap air mataku dengan segera. "Kamu sudah menelepon Erik?"


"Tidak apa-apa, kok. Atau kamu mau langsung menemui Salsya? Ajak dia belanja. Kalian bisa belanja bersama untuk membeli semua yang dia butuhkan."


Ya Tuhan... sakit sekali rasanya. Aku tahu aku tidak bisa ikhlas, aku malah menjadi orang yang munafik.


Reza tertegun, sejenak kemudian dia mengulum bibirnya -- menahan perasaannya yang juga sakit. "Aku tidak akan pergi."

__ADS_1


"Oke. Terserah kamu. Kamu bisa suruh Erik saja. Tidak baik kalau perasaan bersalah dan rasa kasihanmu itu tidak diungkapkan. Takutnya nanti jadi penyakit hati. Itu juga akan menjadi beban pikiranku kalau aku melihat kamu murung terus. Anak-anakmu juga tidak akan suka melihatmu seperti itu. Mereka membutuhkan perhatianmu juga. Butuh dipikirkan juga olehmu."


Dia menaruh mangkuk buburku, lalu menyentuh dan mencium perutku. Saat itu aku tidak mendengar pasti, tapi sepertinya dia menggumamkan permintaan maaf pada anak-anaknya.


"Aku ingin tahu jenis kelamin mereka."


"Lain kali saja. Aku mau pulang."


"Tapi--"


"Aku tidak mau. Tolong jangan memaksa.".


Reza mengangguk lalu mengelus perutku sekali lagi. "Aku akan mengurus administrasinya nanti. Kita akan pulang setelah hasil lab-nya keluar."


Hah? Aku ternganga. "Hasil lab?"


"Aku memeriksakan kandungan di dalam darahmu. Hanya untuk memastikan kalau semuanya baik-baik saja."


Reaksi awalku adalah melotot, lalu menggeleng dan mendengus kesal. "Kamu tidak percaya padaku? Aku bukan kamu yang suka berbohong dan tidak bisa dipercaya."

__ADS_1


"Bukan begitu. Aku hanya ingin memastikan kalian semua dalam keadaan baik. Sumpah, hanya itu."


Tenang, Nara. Tenang. Anggap dan percaya saja dia jujur, dia ingin memastikan kamu baik-baik saja. Tapi jangan terlalu besar kepala, mungkin itu seratus persen hanya karena dia mengkhawatirkan anak-anaknya. Kuhela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, lalu tersenyum. "Terserah!"


__ADS_2