Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Introgasi Pertama


__ADS_3

Hari itu juga aku meminta Reza untuk langsung memanggilkan polisi, tapi aku ingin bercerita lebih dulu sebelum mereka mengajukan pertanyaan. Dan aku ingin semua orang ikut mendengarkan hingga aku tidak perlu menceritakan ulang kepada siapa pun yang ingin tahu. Maka semua orang pun hadir. Polisi, kedua orang tuaku, Ihsan, Rizki, Erik, juga Alfi dan Mayra, mereka juga ikut hadir. Begitu juga Reza yang selalu berada di sisiku. Dan aku pun memulai cerita, kuawali itu dengan kejujuran. Dimulai dengan whatsapp Salsya sore itu, lalu aku menukar ponsel Reza dan sengaja mengatur siasat supaya Reza keluar dari rumah. Lalu tentang kedatangan Salsya, pembicaraan kami yang waktu itu sengaja kurekam dan ada kamera tersembunyi di dalam kotak tisu, tapi rekaman itu hanya berada di ruang tamu dan mengarah ke Salsya. Kukatakan di depan mereka semua aku tidak tahu apa saja yang berhasil di tangkap oleh kamera itu, terlebih saat kami berada di ruang keluarga, lampu ruang tamu juga mati.


Saat itulah salah seorang polisi menghubungi polisi yang berjaga di TKP untuk mengamankan barang bukti, kotak tisu yang sudah terjatuh ke lantai saat terjadi pertikaian antara aku dan Salsya.


Setelah itu, aku diminta melanjutkan cerita. "Salsya kalaf. Dia tidak terima dengan permintaan saya. Terlebih saat saya mengatakan tentang sumpah pranikah yang diucapkan suami saya, yang berarti suami saya tidak akan pernah berpoligami. Dia marah dan berpikir untuk menyingkirkan saya, demi -- supaya dia bisa bersama Mas Reza. Dia mengeluarkan pisau dari dalam tasnya dan hendak membunuh saya. Kalau rekaman itu masih ada, kalian semua bisa melihat sendiri bahwa pisau itu memang milik Salsya, dia membawa pisau itu di dalam tasnya, dan bagaimana Salsya yang sangat jelas terlihat -- dia seorang ODGJ. Saya tidak melarikan diri karena saya tahu saya tidak mampu berlari cepat dalam keadaan hamil besar, dan -- saya, sebagai orang yang bisa ilmu beladiri, saya hanya berusaha bertahan dan berniat melumpuhkan lawan, sebab itu Salsya mengalami beberapa luka, tapi saya tidak berniat membunuhnya, karena saya masih sadar, saya hanya rakyat biasa, yang walau tanpa sengaja membunuh -- akan tetap mendapatkan hukuman penjara, meski untuk membela diri sekalipun. Saya sadar, jadi saya sangat berhati-hati supaya tidak sampai membunuhnya. Dalam pertikaian itu saya sempat menghentakkan kepala Salsya ke lantai, satu kali. Hanya satu kali. Saya mengira dia pingsan. Tapi ternyata dia hanya pura-pura. Di saat saya lengah dan hendak berdiri, dia menghantam saya dengan kakinya. Di sini, mengenai paha, sampai saya jatuh dan terlentang. Di saat itulah lampu di ruang tamu dan lampu ruang keluarga padam. Setelah itu saya tidak sadarkan diri karena obat bius. Saya tidak tahu siapa yang melakukan itu, dan apa tujuannya. Mungkin untuk melindungi saya, bisa jadi. Atau sengaja karena punya masalah pribadi dengan Salsya, bisa jadi. Saya benar-benar tidak tahu. Mungkin itu Salsya, tapi kalau itu memang Salsya, seharusnya dia membunuh saya bukan hanya membius. Dan kenapa dia justru menusuk dirinya sendiri. Saya tidak mengerti semua itu. Yang pasti, sewaktu saya sadarkan diri, saya sudah terbaring di rumah sakit ini. Hanya itu yang saya tahu."

__ADS_1


Pembohong yang lihai. Sepertinya julukan itu harus kuberikan pada diriku sendiri. Aku bisa menutupi kebenaran di ujung tragedi ini. Aku -- bisa bersikap seolah memang begitulah adanya. Lagipula, apakah Salsya pantas mendapatkan keadilan? Bagaimana kalau memang pelaku pembunuhan itu adalah orang yang menyimpan dendam pada Salsya? Mungkin bukan hanya aku satu-satunya orang yang disakiti Salsya? Mungkin ada banyak. Dan semua ini hanya menjadi teka-teki.


Setelah mendengar ceritaku, pihak kepolisian mulai mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang formal, tapi aku lupa kalimat dan nada mereka menyampaikan pertanyaannya. Aku hanya ingat -- pertanyaan pertama, polisi menanyakan perihal tujuan kedatangan Salsya, apa yang ingin dia bahas dengan Reza. Dan jawabanku -- aku tidak tahu karena aku tidak menanyakan itu padanya.


Pertanyaan ketiga, apakah aku -- secara pribadi -- merasa curiga terhadap seseorang yang kemungkinan menjadi pihak ketiga dalam peristiwa pembunuhan itu.

__ADS_1


"Saya tidak bisa menyebutkan nama -- satu pun. Tapi kalau soal mencurigai orang, setiap orang bisa dicurigai." Bahkan ini terasa membuat saya gila dan mencurigai diri sendiri.


Dan, tentu akan ada banyak pertanyaan lain jika saja saat itu anak-anak di dalam kandunganku tidak segera berunjuk rasa.


Terima kasih, Sayang. Mama juga lelah dengan semua teka-teki ini. Terima kasih unjuk rasa kalian meski ini sedikit sakit.

__ADS_1


__ADS_2