
Setelah acara sungkeman, acara selanjutnya adalah sesi foto keluarga. Aku bahagia, meski sebenarnya ini tidak sempurna. Sebab, kami tidak pernah foto keluarga dengan lengkap karena keretakan keluarga di masa lalu.
Tapi ya sudahlah, biarkan saja bagian yang tidak bisa diperbaiki itu, mungkin sampai tutup usia akan tetap seperti itu.
Di momen ini, aku dan Reza sepakat untuk sekalian merealisasikan niat kami untuk foto maternity shoot. Dari bulan lalu aku sudah kepingin untuk melakukan sesi foto kehamilan ini, bahkan sebenarnya aku sudah kepingin sejak dua bulan yang lalu, saat kandunganku mulai terlihat di usia enam bulan. Tetapi, menurut Reza -- sekalian saja pas lebaran. Jadilah sekarang, di usia ke delapan bulan lebih -- kami baru melaksanakan foto meternity shoot itu. Biar minta tolong sepupuku, karena malas katanya kalau harus ke studio foto atau mengundang photographer ke rumah. Aku senang, bahagia, dan bersyukur atas semua kebahagiaan yang kudapatkan belakangan ini.
"Sayang," panggil Reza sewaktu aku sedangĀ melihat-lihat hasil foto maternity shoot yang baru kuunggah ke sosial mediaku.
Aku menoleh, dan mendapati dia yang ragu-ragu mengulurkan ponselnya kepadaku.
"Ayahmu," katanya. "Dia ingin bicara." Kemudian Reza berbisik. "Tolong, ya. Kesayangan Mas jadilah anak yang baik." Dia mengelus kepalaku dan menggenggam tangan kananku. Seolah dia sedang memastikan kalau aku akan bicara dengan baik dan tidak akan kasar terhadap lelaki yang hingga saat ini masih kuanggap sebagai orang asing bagiku.
Awalnya aku ingin menolak, tapi karena cara Reza yang seperti itu, jadinya aku menurut. "Emm...," aku bergumam bingung dan merasa ragu untuk bicara. Akhirnya aku hanya berdeham.
Di seberang sana, ayahku mengucapkan salam, dan aku menjawab sebagaimana mestinya.
"Apa kabarmu, Nak?"
"Aku... baik."
"Kandunganmu bagaimana? Sehat? Sudah berapa bulan, Sayang?"
Sayang? Jangan memanggilku Sayang!
Aku suka ketika orang-orang di sekitarku memanggilku Sayang. Kecuali dia. Telingaku risih mendengarnya. "Ya, sehat. Sudah delapan bulan... lebih."
__ADS_1
"Berarti bulan depan sudah lahiran, ya?"
Benar. Dan sebaiknya Anda tidak usah datang. Tidak usah bersikap sok baik pada cucumu. Sebagaimana sikapmu pada Inara kecil dan Ihsan kecil dulu. "Emm... iya. Pertengahan Juni."
"Kabari Ayah, ya? Ayah ingin melihat cucu-cucu Ayah nanti."
Sebenarnya aku ingin terang-terangan menolak, tapi lidahku keluh, dan entah kenapa aku merasakan mataku berkaca. Suatu keadaan yang tidak jelas. Aku marah, benci, kesal, sedih, atau apa? Aku tidak tahu. Tidak mengerti sama sekali. Aku tidak tahu, apakah aku senang atas telepon itu atau justru berharap dia tidak perlu meneleponku sama sekali? Tapi jelas air mataku menetes dan aku langsung menghapusnya. "Inshaallah, akan kukabari," kataku akhirnya.
"Oh ya, selamat hari raya idulfitri, Sayang. Mohon maaf lahir dan batin. Jika berkenan, maafkan semua kesalahan Ayah di masa lalu. Ayah sangat berharap."
Dengan susah payah, kuhapus air mataku lagi. "Aku belum bisa," kataku. "Bukankah dengan aku menerima kehadiran Anda itu sudah cukup untuk saat ini?"
Ayahku terdiam. Butuh beberapa saat baginya untuk kembali bersuara. "Iya, Nak. Baiklah. Sekali lagi -- selamat idulfitri. Ayah berharap kebahagiaan selalu menyertaimu."
"Aamiin, terima kasih doanya."
Tidak akan semudah itu. Anda tidak akan mampu menebus dua puluh dua tahun kesakitanku karena kehilangan sosok ayah. Meski dua puluh dua tahun ke depan aku bersikap dingin kepada Anda, itu tidak akan pernah cukup membalas rasa sakitku. Tidak akan pernah.
"Sayang...," Reza memanggilku setelah beberapa menit. "Kita makan, yuk? Aku lapar. Kamu dan anak-anak juga harus makan."
Aku masih berdiri di depan cermin untuk beberapa saat dan memejamkan mata. "Iya, Mas. Sebentar." Lalu segera membuka pintu.
Tapi, dengan cepat Reza menyelinap masuk sebelum aku sempat keluar.
"Mau ngapain? Katanya mau makan?"
__ADS_1
"Makan kamu dulu sebentar."
"Mas... kita lagi di rumah orang. Ini tidak sopan namanya...."
Reza menggeleng. Dia yang sejatinya sudah berdiri di depanku -- merapatkan tubuhnya dan menghimpitku ke dinding. "Jangan selalu berpikiran sempit," katanya. "Ini rumah tantemu. Kita sepasang suami istri yang halal. Istriku sedang merasakan kepedihan, dan aku sebagai suami ingin menjadi sosok yang melebur rasa pedih yang dirasakan istriku. See, ada banyak alasan untuk mematahkan fakta ketidaksopanan itu."
Rasanya aku ingin tertawa, baru begini saja dia berhasil menghiburku. Aku teringat masa-masa sebelum kami menikah, betapa dia sangat sering seperti ini, merapatkan diri padaku hingga menempel dan menghimpitku ke dinding -- mendendangkan hatiku dan menyulapnya menjadi bunga-bunga yang bermekaran. "Terserah kamu sajalah."
Dia nyengir. "Memang terserah padaku, karena kamu milikku. You are mine, Baby."
"Mmm-hmm... lalu?"
Ciumannya langsung mendarat. Dia menikmati dan melahap bibirku dengan ganas, plus memainkan lidahnya dengan lincah.
Setelah aku merasa engap, kudorong dia dengan lembut. "Sudah, ya. Jangan sampai kebablasan. Masih ada banyak waktu."
Dia mengedikkan bahu. "O-ke. Tapi kamu jangan sedih lagi. Tidak perlu memaksakan apa pun. Jalani saja apa adanya. Cukup bersikap sopan pada ayahmu, aku tidak akan meminta lebih. Berbahagialah, jadilah pemenang di hari kemenangan ini."
Aku mengangguk, dan mendapatkan pelukan plus ciuman hangat di kening sebelum kami keluar dari toilet.
Ceklek!
Pintu terbuka dan lima pasang mata menatap dengan wajah cengengesan.
"Anak kecil... pada ngapain, sih? Nguping, ya? Ayo, pada bubar sana!"
__ADS_1
Eit dah, bukannya bubar, mereka malah berbaris: antre THR.