
"Jaga dirimu. Segera hubungi aku kalau terjadi apa-apa," pesan Ihsan sambil memelukku sewaktu ia dan Aarin berpamitan. Setelah itu dia sempat melayangkan tatapan yang -- sarat pesan ancaman pada Reza sebelum memasang kaca mata hitamnya, yang selalu ia pakai ketika berkendara.
Mayra yang mendengar kalimat itu langsung berkomentar, "Dia sangat sayang padamu," katanya.
Aku mengangguk. "Yeah. Dia menggantikan peran seorang ayah untukku, sekaligus menjadi seorang kakak. Padahal kan aku kakaknya."
Senyum Mayra pun langsung mengembang. "Selalu bertahan, ya Ra," ujar Mayra tiba-tiba. Raut wajahnya seketika berubah serius dan matanya mulai berkaca-kaca. Dia mulai menasihatiku lagi -- dengan sayang. "Tidak ada rumah tangga yang tidak menempuh cobaan," katanya. "Sepertiku, aku dan Alfi memang tidak pernah bertengkar, sekali pun tidak pernah. Tapi bukan berarti tidak ada air mata. Aku juga sering menangis, sering sekali. Hampir setiap kali saat aku terbangun di tengah malam, meratapi kesendirianku. Sedangkan suamiku hangat bersama istrinya yang lain. Rasanya sakit. Kalau menurut orang lain itu artinya aku tidak menjalani ini dengan ikhlas, maka kuakui, berarti aku tidak ikhlas. Sebab aku tidak bisa memungkiri rasa sakit itu. Kenyataannya memang sakit. Jadi, jaga rumah tanggamu baik-baik, ya? Berbagi suami itu jauh lebih sakit daripada jatuh dari tangga."
Mungkin Mayra mengira nasihatnya itu seratus persen bisa menguatkan aku supaya aku terus bertahan. Tetapi dia belum mengenalku begitu baik, bahwa keinginan di dalam diriku -- untuk bertahan atau mundur -- sama besarnya. Meski saat ini aku masih memilih untuk bertahan.
"Aku mengerti rasa sakitmu, May. Jujur, aku tidak bisa menilai apa kamu ikhlas dan terpaksa atau tidaknya. Tapi yang pasti itu pilihanmu. Dan seandainya aku berada di posisimu dengan latar belakang masalah yang sama persis, atau lebih buruk, mungkin aku juga akan memilih pilihan yang sama. Begitu juga sebaliknya, seandainya aku dalam keadaan baik-baik saja atau tanpa alasan urgen, tapi Reza tetap berpoligami, maka... aku akan memilih mundur."
Aku menyadari itu bukanlah jawaban yang bagus, sehingga Mayra menatapku dengan raut kecewa.
"Hei, itu kan kalau terjadi. Masa kamu mau aku bertahan juga kalau dia berpoligami? Kamu sendiri yang bilang kalau rasanya sakit, lebih sakit daripada jatuh dari tangga, ya kan?" Aku cekikikan.
Kalimatku itu menghasilkan senyum datar. Beruntung saat itu Alfi sudah berjalan keluar bersama Reza, dan dengan Tirta di gendongannya, lalu mereka langsung berpamitan.
Sesaat setelah mobil mereka tidak kelihatan lagi, Reza pun langsung menutup pagar depan. Di saat itulah aku langsung masuk dan cepat-cepat menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah -- mencuci pakaian kotor. Sewaktu aku memisahkan baju-baju putih dari yang berwarna dan memasukkannya ke dalam mesin cuci, Reza datang dan berniat membantuku. Tetapi aku tidak suka. Dalam keadaan seperti itu aku lebih suka kami sibuk sendiri-sendiri, sebab aku mengkhawatirkan diriku sendiri yang mudah tersulut api. Aku takut aku akan lepas kontrol dengan topik apa pun yang mungkin akan kami bahas. Karena aku tidak mungkin terus-terusan mendiamkannya saat dia mengajakku bicara.
"Aku tidak butuh bantuan," kataku. "Kalau kamu tidak ada pekerjaan, tolong, duduk saja di sana. Itu lebih dari membantu."
Reza tidak beranjak. Meski tidak membantuku, ia tetap berdiri di dekatku -- hingga membuatku jengah.
__ADS_1
"Omong-omong soal renovasi, kamu benar-benar suka dengan ideku?"
Aku mengangguk. "Yeah," sahutku singkat, tanpa melihat dan tanpa tersenyum padanya.
"Oke. Aku akan minta Erik untuk mengurus semuanya."
Aku hanya mengangguk. Lalu dengan alasan kerongkongan kering dan pura-pura batuk, aku berjalan ke dapur, membuka kulkas, mengambil satu kaleng minuman rasa cincau dingin dan meneguknya hingga tandas -- di depan Reza yang tak hentinya mengintiliku. "Bisa tidak duduk saja di sana? Jangan mengintil terus padaku," kataku dengan nada yang masih datar.
"Baik." Lalu ia langsung duduk dengan kedua tangan bertelekan di atas meja ala bar itu. "Mungkin kamu punya ide mau renovasi seperti apa."
Hmm... kutahan napasku dan aku menggeleng. "Ini rumahmu. Lakukanlah sesukamu. Aku tidak ingin ikut campur."
"Kamu masih marah?"
Putus asa. Dia menatapku dengan nelangsa. "Lalu tadi itu apa? Kamu bahkan meminta Ihsan meminta maaf padaku. Aku dan Ihsan sudah berbaikan. Kita sudah bicara, sudah membahas soal renovasi, bahkan orang-orang merasa senang melihat kita sudah baik-baik saja. Tapi sekarang?"
Aku menunggu sampai dia menyelesaikan pidato berapi-apinya. "Masalahmu denganku. Bukan dengan Ihsan. Aku ingin dia tetap menghormatimu sebagai kakak iparnya. Meski kamu, kamu tidak pantas untuk dihormati."
Reza mendesa. "Tolong, maafkan aku."
Kuentakkan kaleng minumanku dan aku mendelik kepadanya. "Itu," kataku. "Kamu selalu menganggap semuanya mudah. Semudah kamu melakukan kesalahan, semudah itu juga kamu meminta maaf. Tapi aku tidak. Tidak semudah itu aku bisa memaafkanmu. Hatiku sangat sakit ketika aku melihatmu--" kalimatku terputus sejenak, aku sesak, "kamu saling menempel dengan Salsya."
Pemilihan kata yang cukup baik, meskipun sebenarnya aku ingin mencetuskan kalimat yang lebih kasar. Dan itu membuat Reza mengerutkan hidungnya karena tak suka. "Aku sudah menjelaskan apa yang terjadi. Aku sudah sangat jujur padamu. Semua ini terjadi bukan karena aku sengaja untuk menyakitimu. Sama sekali bukan."
__ADS_1
Aku tersenyum masam mendengar pembelaan dirinya yang konyol itu. Alasan yang payah dan sangat bodoh. "Itu tidak akan terjadi kalau kamu tidak membiarkan perempuan jalan* itu bermalam di sini. Apa aku perlu mengingatkan kalau kamu keluar dari kamar dan sengaja menemuinya di beranda, di tengah malam saat semua orang tertidur? Hmm?"
"Tapi aku--"
"Kamu tidak berjalan dalam keadaan tidur!"
"Aku tahu."
"Kamu sengaja keluar untuk menemuinya!"
"Memang, tapi kan--"
"Itu artinya kamu sengaja! Kamu sengaja melakukan kesalahan itu, dan sengaja menyakitiku."
Dia muram. "Sayang...," katanya, "tolong... jangan begini...."
Aku menggeleng dengan frustasi setelah adu mulut itu, dan, lengkap dengan isakan tangis yang tertahan. "Mungkin, kalau aku tidak terbangun, kamu sudah menikmati tubuhnya yang cantik itu. Mungkin kalian sudah masuk ke dalam kamar, telanjan*, bahkan bergumu* di ranjang. Bisa jadi. Dan itu sangat mungkin." Aku berbalik, memalingkan wajahku yang sudah dialiri tetesan air mata dan berjalan ke wastafel. Ada beberapa gelas bekas kami sarapan untuk kujadikan alasan menghindari tatapan matanya. "Omong-omong selain cantik, kulitnya juga putih, bersih, dia juga wangi. Laki-laki mana tidak tergiur. Tidak seperti aku: kulitku gelap, bicaraku kasar, kelakuanku pun barbar. Alasan yang tepat untuk berselingkuh."
Entah sejak kapan Reza bangkit dari kursinya, tahu-tahu dia sudah ada di belakangku, memelukku dengan erat -- meski aku tidak membalas pelukannya.
"Aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja. Bahkan aku tidak tahu apa aku bisa memaafkanmu untuk masalah ini."
Tetapi Reza tidak bergeming. Tidak sedikit pun. Tidak ada kata-kata lagi yang terlontar dari mulutnya.
__ADS_1
Andai kamu bisa bersikap tegas dan melepaskan diri dari Salsya. Aku ingin selalu bersamamu, hidup dan menua bersamamu. Kenapa kamu menjadikan keadaan ini begitu sulit? Aku lelah. "Ini tidak akan selesai dengan mudah. Tidak akan selesai hanya dengan kamu memelukku, bahkan sekalipun kamu mengajakku bercinta. Aku butuh ruang, Mas. Tolong, biarkan aku sendiri."