
"Dokter, kandungan saya baik-baik saja, kan?"
Dokter mengangguk. "Kandungan Ibu baik-baik saja," katanya.
Aku lega, aku langsung mengajak kedua anakku bicara saat dokter dan perawat keluar dari ruang rawatku.
"Sayang, Nak," panggilku, suaraku gemetar. "Bangun, Sayang. Respons Mama. Kalian baik-baik saja, kan?"
Meski pelan, tapi aku merasakan mereka bergerak. Kaki-kakinya menelusur memberikan efek gelombang di kulit perutku.
Ya Tuhan, betapa leganya perasaanku. "Terima kasih karena kalian mampu bertahan. Mama minta maaf menyebabkan kalian ikut terjebak dalam bahaya karena kebodohan Mama."
"Jangan menangis," kata Reza. Tanpa kusadari dia sudah berada di sampingku. Matanya merah dan sembab, pun ibuku yang berdiri di pintu berusaha menyembunyikan air matanya.
Tanpa peduli pada apa pun, aku membuka tanganku -- isyarat tanpa kata, meminta Reza memelukku. "Aku takut," kataku.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibuku. Ia sudah duduk di sampingku.
Aku bingung. Apa aku harus menceritakan apa adanya? Atau aku mesti menuruti kata-kata sosok hitam itu?
"Aku tidak tahu," kataku akhirnya. "Aku pingsan."
Pengecut. Memang. Tapi setidaknya aku berterima kasih dia tidak mencelakaiku dan anak-anakku. Entah dia bermaksud melindungiku dari Salsya atau sekadar kasihan padaku, terserah. Aku lega, aku dan anak-anakku masih hidup.
"Nara tidak mau mengingat kejadian itu lagi."
"Iya, iya, Sayang," kata Reza.
"Tapi... Salsya? Bagaimana keadaannya? Apa dia selamat?"
Hening.
"Mas? Bunda?"
Ya Tuhan, apa Salsya?
__ADS_1
"Dia meninggal sewaktu dilarikan ke rumah sakit. Dan dinyatakan meninggal karena bunuh diri."
Jantungku berdegup kencang, kendati semestinya tidak demikian, sebab itu adalah hal yang bisa kuprediksi.
Harusnya kamu senang, Nara. Ini yang kamu harapkan selama ini, kematian Salsya. Tidak akan ada lagi yang mengganggu rumah tanggamu. Tapi, kenapa? Kenapa aku justru tidak senang?
Aku tahu. Karena sejatinya aku orang baik. Aku tidak bisa bahagia di atas kematian orang lain. Pembunuh itu, dia salah. Aku bukan pemenangnya. Karena pemenang akan merasa senang saat ia menang. Sementara aku?
Tidak. Aku tidak senang. Aku bukan pemenang. Dia, dia yang menang. Sesuai keinginannya, Salsya dinyatakan mati bunuh diri karena sidik jari di pisau itu sidik jarinya sendiri. Lalu, aku.... Aku tahu masalah ini akan berlanjut, dan aku tidak akan terlepas begitu saja sebab Salsya memiliki luka-luka di tubuhnya karena berkelahi denganku. Apa aku harus mengakui perkelahian itu? Tapi dia mati karena tertusuk pisau. Jadi.... "Auw... sakit."
"Tenang, Sayang. Ayo, kamu istirahat. Berbaring."
Aku mengangguk, menurut, dan aku harus tenang. Aku tidak membunuhnya. Rileks, Nara. Kuhela napas dalam-dalam. "Aku lapar," kataku. "Aku semalam pesan banyak makanan, kan? Basi, ya?"
"Semalam kubagikan ke orang-orang di depan rumah sakit. Tidak apa-apa, kan?" kata Reza.
Aku mengangguk. "Ya. Daripada mubazir. Beli yang baru, ya? Aku mau makan."
Dengan mata berkacanya Reza mengiyakan. "Delivery order, ya. Aku tidak mau meninggalkanmu lagi."
Reza mengangguk, memaksakan senyum dan mengeluarkan ponselnya.
"Eh, ponselmu?"
Ponsel baru.
"Ponselku sudah ketemu," sahutnya. "Sudah dibawa oleh pihak berwajib dan dijadikan barang bukti. Rumah kita juga dipasang garis polisi. Ini ponsel baru, nomor baru."
Aku paham, dan aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut. "Aku mau makan makanan rumah sakit dulu kalau begitu. Aku sangat lapar, kasihan bayiku."
"Mau makan sekarang? Bunda suapi, ya."
Ibuku lekas beranjak, mengambil nampan makananku dan menyuapiku makan. Adegan saling menutupi perasaan perih di hati masing-masing itu pun terus berlanjut. Pun orang-orang yang menyimpan rasa penasaran tetap menyimpan rasa itu di hati mereka masing-masing. Bahkan aku yakin, pasti polisi juga sudah sangat kepingin mengintrogasiku.
Aku berdeham. "Bund, apa ayah... maksudku... apa dia -- dia... tahu masalah ini?"
__ADS_1
"Siapa? Ayahmu?"
"Em."
"Dia sedang mempelajari kasus ini, dibantu Rizki juga."
"Oh. Baguslah. Berarti memang dia benaran peduli padaku."
Hening. Reza bungkam. Sementara ibuku gemetar memegang porselen makananku. Aku tahu perasaan mereka sama ketar-ketirnya denganku.
"Mas?"
"Emm? Ya, Sayang?"
"Itu...."
"Kenapa?"
Kuhela napas lagi. Dadaku sesak. "Polisi menungguku, ya? Mereka akan mengintrogasiku?"
"Bund, maaf. Reza perlu bicara empat mata dengan Nara. Bisa tolong...."
Mengangguk. Ibuku mengerti dan segera keluar meninggalkan kami berdua.
Dalam hening, Reza memelukku dan menciumku dengan gusar. Aku merasakan ada ketakutan di dalam dirinya. Pelukan dan ciumannya berbeda, memang dengan cinta. Tapi tidak ada kehangatan apalagi nafs* di sana.
"Kenapa, Mas?"
"Aku takut," katanya.
"Takut?"
Dua hal yang kupikirkan tentang ketakutannya. Pertama, mungkinkah dia berpikir kalau aku pelakunya hingga ia takut aku dinyatakan bersalah dan dipenjara?
Atau... kemungkinan yang kedua: mungkinkah sebenarnya dia...?
__ADS_1