
"Kamu tidak ingin pelaku sebenarnya tertangkap?"
Aku mengedikkan bahu. "Aku bersyukur dia hanya membiusku. Entah tujuan sebenarnya untuk menyelamatkan aku atau bukan, tapi aku bersyukur dia tidak membunuhku dan tidak mencelakai kandunganku. Itu saja. Aku berharap kasus ini mengambang dan akhirnya ditutup, lalu aku bebas dari tuduhan."
"Sayang...."
"Mas...."
"Kita--"
"Tolong?" potongku. "Atau kamu juga akan terseret. Mungkin bunga ini sebagai kode kalau dia tahu persis tentang kita. Mungkin ini isyarat kalau kamu akan menjadi sasarannya kalau kita terus mengusut kasus ini. Aku yakin, orang ini tidak akan melakukan apa pun padaku. Kalau dia memang berniat mencelakaiku, dia bisa membunuhku seperti dia membunuh Salsya. Iya, kan?"
Reza mengangguk -- anggukan yang hanya berarti dia ingin aku tenang. "Iya, iya, iya. Iya, Sayang. Aku paham. Rileks."
__ADS_1
"Aku bingung. Aku takut pada setiap kemungkinan. Orang itu licik. Dia membuat seolah Salsya bunuh diri. Tapi dia juga menempatkan aku sebagai satu-satunya orang yang dicurigai polisi. Sekarang... sekarang dia juga menunjukkan seolah kamu adalah pelakunya. Entah hanya untuk menakutiku atau dia memang ingin menyeretmu sebagai tertuduh?"
Reza menggenggam tanganku, dan matanya awas menangkap ekspresi di wajahku. "Apa sekarang kamu juga takut padaku? Apa ini akan berpengaruh pada hubungan kita?"
Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak takut padamu. Biar saja, biar saja sekalipun memang benar kamu pelakunya. Aku tidak peduli. Aku akan menganggap kalau itu caramu melindungiku. Aku ingin terus bersamamu, Mas. Sekalipun itu benar kamu. Sekalipun aku harus hidup dengan seorang pembunuh. Aku rela -- aku mau menghabiskan seluruh hidupku bersamamu. Aku hanya takut kita -- atau salah satu dari kita tertahan. Aku tidak mau."
"Ya, aku mengerti, Sayang. Pokoknya, kamu bersikap saja seperti korban, karena dalam kasus ini kamu memang hanya korban, oke?"
Reza pun mencium keningku. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Kita berjuang dan menghadapi semuanya bersama, ya. Kamu tidak sendirian. Ada banyak orang yang sayang dan peduli padamu. Ada banyak orang yang akan mendampingimu melewati semua ini: ibumu, adikmu, ayahmu, dan semua keluarga besarmu. Dan pastinya--"
"Ada kamu, dan ada terapi cinta darimu, ya kan?"
Uuuuh... Reza tertawa riang. "Mau diterapi sekarang, Sayang? Yuk, mari kita lanjutkan sesuatu yang sempat tertunda. Dan percayalah, aku akan membuat harimu jadi terasa lebih indah."
__ADS_1
"Well, itu penawaran terbaik di sepanjang siang ini."
Hah! Reza langsung menggendongku. "Lets do it, Baby. Mari bercinta denganku, suami yang akan selalu ada untukmu."
Ya Tuhan, betapa manisnya dia.
Puji syukur, aku memiliki suami yang selalu ada, yang kedepannya akan menemani dan melindungiku sepanjang waktu. Juga ada ibu dan adikku, beserta keluarga besarku. Aku tahu, kami semua tahu, kasus ini tidak akan selesai dengan mudah. Akan memakan waktu yang lama dan proses yang bergulir panjang. Tapi sebagai gantinya, aku sudah mendapatkan kembali apa yang hilang dari hidupku. Ayahku. Dan sebentar lagi -- akan hadir anugerah terindah yang sangat kami nantikan, kedua jagoan kecilku yang akan segera lahir.
Selamat jalan, Salsya.
Ini -- akhir kisah yang harus kututup, sekaligus awal untuk babak hidupku yang baru.
Hidup mesti terus berlanjut.
__ADS_1