Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Kesalahan Yang Sama


__ADS_3

Hari-hari berikutnya berjalan dengan cepat dan semuanya hampir terasa normal. Hanya saja, Salsya beberapa kali datang ke rumah kami setelah video permintaan maaf Reza padaku beredar, dan bahkan langsung diunggah oleh Reza sendiri. Seakan tidak percaya rumah kami tak berpenghuni, Salsya selalu menekan bel selama beberapa belas menit sampai dia sendiri jengah dan memilih pulang. Dia juga pernah menunggu di depan rumah kami hingga beberapa jam, bahkan dia pernah bertahan hingga sore demi bisa bertemu dengan Reza. Kau tahu, itu membuatku sangat cemas. Aku takut Reza tidak kuat menahan perasaan ibanya pada Salsya hingga dia mungkin akan membukakan pintu dan menemui perempuan itu, terlebih saat Aulian Attara Dinata, anaknya Salsya -- menangis sampai suaranya melengking terdengar hingga ke lantai atas, mungkin karena ia terlalu lama berada di luar dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Tapi untung saja apa yang kukhawatirkan itu tidak terjadi. Sebab, Reza memilih memborgol tangannya dengan tanganku hingga dia bisa menahan diri dan tetap di sisiku. Dan pernah juga di lain hari, saat Salsya datang sendirian dan menunggu di luar pintu, aku pernah sengaja menarik Reza ke kamar dan mengajaknya bercinta. Agak gila, ya? Atau terlalu kejam? Terserah. Aku ingin menjaga suamiku dan keluarga kecilku supaya tetap utuh. Kalau tidak, aku tidak akan menjilat ludahku sendiri, rumah tangga kami pasti akan benar-benar berakhir di pengadilan. Aku tidak ingin itu terjadi, juga tidak ingin menurunkan gengsi dengan memaafkannya lagi. Dia akan besar kepala dan akan menginjak-injak harga diriku kalau aku memaafkannya lagi dan lagi. Tidak akan. Jangan harap.


Tetapi, mau tidak mau, kedatangan Salsya yang nampak kurus dan frustasi -- membuat hati Reza terenyuh. Dia jadi sering melamun dan hilang selera berhari-berhari. Yap, dia tidak melihatnya secara langsung, itu terjadi sewaktu dia diam-diam mengecek cctv, lalu pada suatu malam -- dia diam-diam keluar dari kamar dan menelepon Kayla. Dia meminta Kayla untuk membujuk Salsya supaya menjaga kesehatan, supaya bayinya pun bisa memperoleh ASI yang cukup.


"Aku tidak bisa menemuinya, Kay. Nara sudah dua kali masuk rumah sakit. Aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa anak-anakku. Kalau Nara sampai tahu, itu pasti akan membuatnya stres."


Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Kayla di seberang sana. Aku tidak dapat mendengar suaranya dalam sambungan telepon itu. Tapi aku bisa menebaknya dari jawaban Reza yang bisa kudengar dengan jelas. Dia tidak tahu kalau aku terbangun dan diam-diam menguping sewaktu dia menelepon Kayla.


"Aku tahu, tapi aku tidak akan mengorbankan darah dagingku karena keegoisan dan kegilaan Salsya. Tidak akan."


"Apa namanya kalau bukan egois dan gila? Dia sampai tega menyiksa dirinya sendiri, sampai anaknya sendiri jadi kekurangan ASI."


"Tolong, Kay. Tolong kamu mengerti. Menyembuhkan frustasi Salsya itu berarti sama saja aku membuat Nara yang frustasi. Aku tidak mau mengorbankan anak dan istriku. Atau begini, bilang saja kalau sebenarnya aku peduli padanya, dan sebagai balasannya dia harus bisa mengurus dirinya sendiri dan anaknya dengan baik. Bilang, kalau dia memang mencintaiku, dia harus melakukannya untukku. Dia harus sehat, juga demi anaknya."


Demi anaknya. Yeah, demi anaknya. Aku tahu itu demi malaikat kecil yang suci itu. Kucoba meredam emosi-emosiku secara kilat. Baiklah, sabarlah sedikit, Inara. Yang penting sekarang -- hentikan Kayla. Dia sedang berusaha memengaruhi suamimu. Aku berdeham pelan. "Mas?" panggilku.

__ADS_1


"Sayang?"


Hmm... dia terkejut melihatku yang sudah berdiri tepat di bekakangnya, dan mendengar semua percakapannya dengan Kayla.


"Sori, aku... aku harus menutup teleponnya sekarang."


Seperti sedang ketahuan menelepon selingkuhan, Reza langsung terdiam seribu bahasa dengan wajahnya yang mendadak pucat.


"Setiap pilihan itu ada konsekuensinya masing-masing. Jika kamu memilih dia, kamu akan menyakitiku, juga dirimu sendiri, bahkan juga menyakiti anak-anak kita. Tapi kamu tidak bisa memilih keduanya, aku dan anak-anakku tetap akan merasakan sakit. Sakit karena diduakan. Begitu pula jika kamu memilihku tapi tetap memikirkan dia, itu juga sama saja. Sama-sama menyakitkan bagiku."


"Minta Erik dan karyawan perempuan untuk membelikan kebutuhan bayi itu. Beri dia susu formula kalau ibunya tidak bisa menghasilkan ASI dengan baik. Kamu juga boleh menitipkan uang untuk mereka. Tapi, jika Salsya tidak memanfaatkan semua itu dengan baik, kamu tidak perlu merasa bersalah."


Seperti langsung terpengaruh, dengan segera Reza membuka ponselnya untuk menghubungi Erik. Tapi seketika dia tersadar dan takut aku malah salah mengartikan sikapnya, dia tidak jadi melakukan itu. "Besok saja aku hubungi Erik. Sekarang... emm...."


"Fokus pada rumah tangga kita. Jangan meninggalkan istrimu di tengah malam hanya untuk memikirkan perempuan lain." Aku langsung berbalik untuk pergi, tapi kusempatkan berhenti sejenak. "Aku bukan bermaksud mengancam, tapi kamu harus ingat, ini kesempatan terakhirmu."

__ADS_1


Aku pun pergi dengan sedikit rasa kecewa di hati. Dan karena kesal aku turun ke dapur lalu membuka laci dengan kasar untuk mengambil obat tidur. Aku butuh obat itu untuk menenangkan diriku sendiri. Aku khawatir jika aku tetap terjaga, maka pikiranku akan lebih kacau dan memicu pertengkaran dengan suamiku, dan bisa saja hal yang lebih buruk juga akan terjadi. Mungkin bukan sekadar bahunya yang akan kutusuk kali ini. Tapi yang pasti, ini demi kandunganku. Aku mesti istirahat dan menjaga pikiranku agar tetap waras, demi anak-anakku. Tetapi...


"Itu obat apa?" tanya Reza yang bergegas turun dari tangga setelah mendengar gerabak-gerubuk di lantai bawah.


Suaranya yang tiba-tiba memecah keheningan membuatku terkejut. Botol obat itu pun terlepas dari tanganku hingga butiran-butiran pil di dalamnya jatuh dan berceceran ke lantai. Dengan sigap, kuambil lagi botol itu dari lantai dan hendak mengeluarkan isinya yang tersisa. Begitu pula dengan Reza yang tak kalah sigap, dengan cepat ia berhasil merebut pil-pil itu dari tanganku.


"Apa?" tanyaku dengan nada tinggi. "Itu hanya obat tidur. Kamu kira aku mau mencelakai diriku sendiri? Kamu kira aku akan mengorbankan anak-anakku hanya karena kelakuanmu? Hmm? Aku bukan Salsya. Aku bukan mantan pacarmu yang jalan*, murahan, dan bodoh itu. Sudahlah, lupakan. Itu hanya obat tidur dan aku membutuhkannya. Berikan padaku."


Reza menggeleng. "Tidak. Kita kembali ke kamar. Kamu bisa tidur tanpa ini."


"Jangan membuatku marah, please? Ya? Tolong, hanya satu butir."


Tanpa menyahut, Reza langsung membaca keterangan informasi kandungan obat, kegunaan dan efek sampingnya yang tertera pada botol itu. "Ada resep dokternya?"


Sama, tanpa menyahut -- kuambil resep dokter yang kusimpan di laci, di dekat aku menyimpan botol pil itu. Setelah membaca dan menaruh konsentrasi penuh pada "penelitiannya" -- Reza mengeluarkan sebutir pil dan memberikannya padaku.

__ADS_1


"Jadi, sudah puas sekarang? Hmm? Terima kasih!"


__ADS_2