
Tapi sayangnya, haru-biru dan semua keromantisan kami malam itu harus berakhir tatkala suara ketukan di pintu memecah keheningan.
"Nara, kamu sudah tidur belum, Sayang?"
Huft! Itu ibuku. Aku jadi serba salah. Aku tidak mungkin mengabaikan ibuku, tapi aku juga merasa tidak enak pada suamiku.
"Buka pintunya, Sayang. Itu Bunda," bisik Reza.
"Emm, ya. Maaf, ya Mas?"
Aku pun membuka pintu dan mendapati ibuku dengan minyak urut di tangannya.
"Oh," kata ibuku saat ia melihatku -- putrinya yang bak pengantin sungguhan.
Aku nyengir sesaat melihat keterkejutan ibuku. "Ada apa, Bund? Bunda masuk angin?"
Ibuku terlihat bingung, merasa tidak enak untuk mengganggu anak dan menantunya yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan. "Bunda... Bunda balik ke kamar saja, Sayang. Maaf, Bunda tidak tahu kalau--"
"Tidak apa-apa, Bund. Bunda mau Nara urut?"
Praktis ia menggeleng. "Tidak usah," sahutnya cepat. Ibuku langsung berbalik dan kembali ke kamarnya.
"Bund," panggilku.
Tapi ia hanya menoleh dan menyuruhku masuk ke kamar. Hal yang mana mungkin akan kulakukan meski berjuta kenikmatan dan kebahagiaan menantiku di dalam sana. Dan Reza yang sejatinya sudah mendengar dan mengerti dengan apa yang terjadi dan segala kecanggungan yang ada langsung bersuara -- menyuruh dan memperbolehkan aku untuk menyusul ibuku ke kamarnya. "Kamu urus Bunda dulu," katanya.
"Maaf, ya. Sebentar, nanti aku balik."
Reza mengangguk. Aku pun melesat ke kamar ibuku dan mendapatinya sedang mengoles minyak urut ke punggungnya. Aku jadi berpikir mungkin selama ini ibuku sering tidak enak badan seperti ini, tapi aku selalu jauh darinya. Pemikiran ini membuatku -- sebagai anak -- merasa sangat bersalah terhadapnya.
"Kok kamu menyusul Bunda sih, Nak?"
Aku tersenyum. "Nara tidak akan bisa bersenang-senang dengan suami Nara kalau bundanya Nara sedang tidak enak badan."
"Bunda yang tidak enak kalau begini."
"Tidak apa-apa, Bund...."
__ADS_1
"Tapi, Nak...."
"Ssst.... Biar sama-sama enak. Nara urut Bunda dulu. Kalau Bunda sudah enakan, baru nanti Nara balik ke kamar."
Ibuku mengangguk, tidak rewel lagi. "Terima kasih, ya," ucapnya.
"Tidak perlu berterima kasih. Nara kan anaknya Bunda."
Singkat cerita, aku kembali ke kamar sekitar dua puluh menit kemudian. Hari sudah jam sebelas lewat dan Reza sudah tertidur. Lagi-lagi aku merasa serba salah. Mau membangunkannya -- merasa tidak enak. Tidak dibangunkan -- nanti disalahkan. Jadi ya sudahlah, kucoba untuk membangunkannya saja. Kupanggil dan kutepuk-tapuk bahunya sepelan mungkin.
"Aku ngantuk, Sayang," sahutnya. "Kita tidur dulu, ya. Tidak apa-apa, kan?"
Hmm... ya sudahlah. Aku baru hendak berganti pakaian, tapi setelah kupikir-pikir karena Reza tidurnya dengan pakaiannya yang masih lengkap, jadi aku pun memilih tidur tanpa melepas gaun pengantinku dan langsung merebahkan diri di bahunya. Aku pun terlelap. Sehingga...
Empat jam kemudian...
"Mas... itu kamu, ya?"
Aku masih sangat mengantuk dan kesulitan membuka mata. Tapi rasa geli yang nikmat memancing kesadaranku.
Uuuh... rasanya seperti bercinta di dalam mimpi. Reza sedang menikmati surganya di bawah sana. Tak cukup membuatku geli dengan lidahnya, dia menyesapku berkali-kali hingga aku...
Ah, kau tahu maksudku. Dia membuatku siap dalam tidurku. Kemudian, dia pun masuk: hangat, penuh, jantan dan terbenam sempurna. Tapi...
"Sebentar, jangan bergerak dulu."
Kuusap-usap mataku sampai bisa terbuka.
"Kenapa, Sayang?"
Benar, itu Reza, suamiku. "Tidak apa-apa. Cuma mau memastikan kalau itu memang kamu." Aku pun terkekeh. "Monggo, dilanjut."
"Harusnya tadi... sebelum aku masuk. Sudah masuk baru dicek. Kalau orang lain, bagaimana?"
Aku nyengir. "Mau bagaiman lagi, aku ngantuk. Kamu yang tumben nyentuh aku pas aku lagi tidur."
"Takut tidak sempat, sebentar lagi sahur. Daripada seharian terbayang-bayang kamu terus dan batal puasa. Rugi dong."
__ADS_1
Jiaaah... seperti pengantin baru saja dia tidak bisa menahan hasrat saat berpuasa. Tapi, okelah, aku menikmati.
Tok! Tok! Tok!
"Nak, sahur...."
Mendadak semua hal terhenti.
"Iya, Bund. Nanti Nara turun."
"Jangan tidur lagi, sudah jam setengah empat."
"Iya, Bund. Nanti Nara menyusul."
"Oh, kalian lagi sibuk toh."
"Ih, Bunda...," aku memekik.
"Yo wis, monggo dilanjut, Sayang..."
"Bunda...."
"Ingat waktu, ya... keburu imsak."
"Iya, Bunda bawel...."
Ibuku tergelak di luar sana dan sukses membuat anaknya seketika manyun. Tak lama kemudian hening. Ibuku tidak menyahut lagi dan suara tawanya sudah tidak terdengar. Kemungkinan ia sudah turun dan menuju dapur.
"Mas...," kusentuh kepala Reza yang ia benamkan di tengkuk leherku. "Maaf, ya?" kataku.
Reza mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Malah lucu, kalian seperti teman seumuran."
"Ya gitu deh. Bunda memang--"
"Ssst... bisa kita lanjutkan?"
"Tentu. Ayo, gaskeun!"
__ADS_1