
"Aku... sori. Aku izin...."
Dia tidak menyelesaikan kata-katanya, hanya langsung menurunkan kaca jendela di sampingnya. Lagipula, jelas, dia tidak menganggap izinku suatu hal yang penting.
"Aku kalah di hari kemenangan," kataku. Lalu menghapus air mata di pipi. Air mata kekalahan.
Mendengar itu Reza sempat menoleh, tapi tidak merespons atau memberikan komentar apa pun.
"Ada apa, Sya?"
"Bisa keluar sebentar?"
"Sori, tapi kami harus pergi."
"Aku mohon, Za," Salsya mengiba dan memautkan kedua belah tangannya di lengan Reza yang bertengger di kemudi mobil.
Reza yang tidak sampai hati kepada wanita itu akhirnya menuruti permintaannya. Dia membuka pintu dan keluar dari mobil. Lalu, tanpa aba-aba dan tanpa Reza sempat bertanya, Salsya langsung meraih tangan suamiku itu dan menciumnya bak seorang istri yang salehah dan taat pada suami.
"Setan...!" pekikku. Aku membuka pintu dan keluar secepat kilat. "Woi, Pelacu*!"
Aku refleks mengambil sebongkah batu dan melemparkannya ke arah Salsya -- nyaris mengenai kepalanya kalau saja Reza tidak refleks menarik Salsya ke dalam pelukannya. Di saat itulah aku terdiam -- sesaat -- mematung dengan derai air mata.
"Waw!" decakku akhirnya. "Super sekali. Benar-benar adegan yang sangat manis."
__ADS_1
Tentu saja, Salsya yang menurut Mayra adalah sosok perempuan yang pintar menempatkan diri dalam segala situasi -- benar-benar lihai memanfaatkan keadaan, dia langsung menunjukkan ketakutannya, dia menangis dan memeluk Reza dengan sangat erat.
"Apa kamu akan membiarkan aku berdiri di sini begitu saja? Kamu ingin aku pergi dan menerima kekalahan? Iya, Mas?"
Reza menggeleng, barulah ia melepaskan Salsya dengan upaya sekuat tenaga. Mendorong paksa tubuh perempuan mungil itu dan segera memutari mobil untuk menghampiriku.
"Za," panggilnya.
Aku tahu, dia tidak rela karena Reza lebih memilihku daripada dirinya. Dan itu membuatku darahku semakin mendidih.
"Stop, Sya!" lengkingku. "Jadilah pelacu* untuk lelaki lain! Berhenti mengejar suamiku, Jalan*!"
Level berapa intonasiku? Menurutmu saja. Yang pasti, aku berkata dengan intonasi sangat tinggi sehingga beberapa peziarah yang ada di sekitar sana menonton huru-hara yang terjadi di antara kami.
"Sayang...."
"Sudah dong, lebih baik kita pulang, ya?"
"Kenapa? Kamu tidak rela aku mempermalukan pelacu* ini? Hmm?"
Geram. Reza mencengkeram kedua bahuku dan melotot tajam. "Jaga bicaramu," katanya. "Malu didengar orang."
"Aku bisa jaga bicaraku asal pelacu* ini menjaga kelakuannya."
__ADS_1
"Ya Tuhan... tolong jangan begini, Sayang." Reza menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa? Heh? Kamu mau membela dia? Iya, Mas? Silakan! Terus saja kamu bela dia."
Reza mencengkeram pergelangan tanganku dan hendak menarikku ke mobil ketika Salsya dengan polosnya mengajukan pertanyaan, "Kenapa, Ra? Apa salahnya aku mencium tangan calon suamiku? Di mana salahnya? Aku berhak, Ra."
Astaga...! Aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku tidak habis pikir dengan segala upaya Reza menghindarinya, kenapa Salsya masih berpikir kalau Reza adalah calon suaminya?
"Tolong, sekarang katakan dengan tegas kalau kamu tidak akan pernah menikahinya," pintaku.
Hening.
"Za, kamu akan tetap menikahiku, kan?"
Reza tidak menjawab, entah ragu atau apa dan kenapa, aku tidak mengerti. Aku yang emosi pun langsung memukul-mukul dadanya dengan keras. "Katakan sekarang! Ucapkan dengan tegas! Usir dia dari kehidupanmu!"
Reza menahan kedua bahuku supaya aku berhenti memukulinya. Sesaat kemudian dia memelukku -- menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Maaf, Sya. Aku tidak akan pernah menikahimu. Tolong jangan mengganggu kami lagi. Permisi."
Bagus!
Tepat seperti yang kuharapkan.
__ADS_1
Adegan selanjutnya adalah: Reza langsung menggendongku dan mendudukkan aku ke kursi penumpang. Dia memasang seatbelt-ku dan segera masuk ke mobil, duduk di balik kemudi. Kami pun segera melaju kendati Salsya masih mematung dengan derai air mata di sana, di tempatnya berdiri tadi.
Berdirilah di sana sampai mati. Aku menunggu kematianmu, Sya. Aku akan sangat senang menghadiri pemakamanmu nanti.