
Keduanya.
Dia sengaja membalas mode ngambekku, sekaligus memberikan kode supaya aku segera menyusulnya -- ke kamar mandi.
"Mas, mana kalungnya?"
Eh?
Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya dan menyandarkan tubuhku ke dinding.
"Kamu menginginkannya?"
"Tentu."
"Yakin?"
"Yeah."
"Ayo."
"Eh? Maksudnya?"
"Katakan ya atau tidak?"
"Ya. Jadi, di mana?"
"Di sini."
Ouw! Dia menekanku dengan senjata andalannya. "Jangan bercanda, Mas. Maksudku kalungku... di mana...?"
"Di sini," katanya seraya menekanku lagi. "Buka saja dulu."
Hmm...
Buka...
__ADS_1
Tidak.
Buka...
Tidak.
Buka sajalah, siapa tahu benaran ada situ, kan?
Dan, aku membukanya.
Fix! Ada!
Memang ada.
Ada hasrat.
"I want you, now," katanya, bicara pelan di depan wajahku dengan sorot mata menusuk ke jiwaku.
Ya Tuhan....
Tapi tidak apa-apa, dapat pahala, dapat kenikmatan, dapat kalung, pula. Kurang apa lagi? Kubuka pakaianku dan menjatuhkannya ke lantai. Lalu...
"Tidak masalah," katanya.
Seperti sebuah magic, kalung itu sudah berada dalam genggaman tangannya. "Sini, mendekatlah padaku."
Tentu saja, aku bahkan nyaris melompat ke tubuhnya. Dia membawaku ke depan cermin. Sambil berdiri di belakangku, dia melepaskan kalung lamaku dan memakaikan kalung baru itu -- hanya untuk mencobainya.
"Suka?" tanya Reza. Matanya menatap tajam pada pantulan cermin di depan kami.
Aku mengangguk, senang, bahagia, dan girang. "Lebih dari suka. Ini sangat cantik.
"Senang?"
"Lebih dari itu."
__ADS_1
"Ya," katanya. "Senyumanmu mengatakan segalanya."
Tentu saja, senyum melambangkan kebahagiaan, bukan? "Terima kasih. Kamu membuatku merasa sangat berharga."
"Aku baru mau bercanda -- mau tanya apa kamu tidak merasa sebaliknya karena bisa dibujuk dengan berlian?"
Aku menggeleng dengan tawa tanpa suara. "Maksudnya? Apa aku tidak merasa murahan, begitu? Hmm? Ini berlian asli, kan?"
"Asli dong. Masa iya kaleng-kaleng."
"Jadi, harganya mahal, kan?"
"Berhubung aku bukan anak konglomerat, bagiku itu sangat mahal."
"Nah, itu. Berarti aku mahal. Aku tertawa, dan tawaku bersambut. Reza ikut cekikikan di belakangku. "Lagipula, kamu kan suamiku. Kumurah-murahkan pun... bagimu aku tetap yang paling berharga, ya kan?"
Reza mengangguk. "Well, kalau dibilang matre?"
"Matre, itu berlaku jika aku hanya mencintai dan menginginkan hartamu. Kenyataannya? Apa kamu merasa aku seperti itu?"
Dia menggeleng, lalu mencium pundakku. "Cintamu sempurna."
Serrr... merinding. Darahku rasanya berdesir saat melihat perlakuan Reza yang begitu manis. Cermin itu seperti kamera on yang merekam dan memperlihatkan kemesraan kami secara live.
"Jadi... sekarang?"
Aku mengangguk dan baru hendak memutar tubuhku menghadapnya, tapi dia menahanku. "Mas, kamu...."
Eummmmm....
Aku bergidik, gemetar dibuatnya. Melihat Reza mengisa* leherku di cermin membuat pipiku seperti daun pucuk merah yang baru bertunas. Rasa malu bercampur senang mengaduk-aduk perasaanku. Jantungku berdebar liar. Aku seperti melihat adegan sepasang kekasih dalam film khusus 18 tahun ke atas yang diperankan oleh suamiku, Reza -- dan diriku sendiri.
"Mas, pindah, yuk? Jangan di depan cermin. Aku malu."
Euwww....
__ADS_1
Bukannya mengiyakan, Reza malah justru menatapku di cermin. "Aku hanya ingin membantumu merealisasikan semua fantasi liarmu yang pernah kamu tulis. Kamu tahu, kamu menemukan sosok lelaki yang tepat. Aku bersedia menggila bersamamu. Jadi, mari kita lakukan. Ini -- hadiah valentine yang manis untukmu."
Ya Tuhan, suamiku...! Sungguh, kau seorang pria yang gila.