Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Yang Tak Bisa Kututupi


__ADS_3

Ibuku masuk ke ruang rawatku dengan wajahnya yang murung. Dia duduk di kursi -- di sampingku.


"Yang lain sudah pulang, ya, Bund?


"Emm? Apa, Nak? Oh, mmm... belum. Mereka masih bicara dengan polisi-polisi di depan."


"Bunda di sini. Tapi pikiran Bunda sedang mengembara jauh."


Seperti menelan bongkahan batu koral, ibuku kesulitan berkata-kata. "Bunda hampir kehilanganmu, Nak. Juga cucu-cucu Bunda. Semua ini... benar-benar mimpi buruk. Yah, Bunda banyak mengalami hal-hal buruk sepanjang hidup Bunda, tapi rasanya tidak pernah lebih buruk dibanding saat anak Bunda yang mengalami hal ini. Semalam kamu pasti sangat ketakutan."


Aku mengangguk. "Sangat, Bund. Bahkan sampai detik ini. Apalagi ini rasanya juga membingungkan. Harusnya Nara senang karena Salsya... tidak bisa dipungkiri, dia selalu mengganggu Nara. Tapi, saat melihat dia mati menggenaskan, rasanya...."


"Kamu melihatnya, Nak?"


"Eh? Emm... maksud Nara...."


"Bunda tahu kalau kamu menyembunyikan sesuatu."


Tangisku pecah. Ibuku mengenalku terlalu baik, selihai apa pun aku menyembunyikan sesuatu dia akan tahu dan bisa menggiringku -- membuatku mengungkapkannya secara langsung ataupun tidak. "Nara melihat semuanya, Bund," kataku akhirnya. Suaraku gemetar. "Nara melihat ketika orang itu membunuh Salsya dengan sadis. Nara takut...."


"Kamu tahu siapa orang itu?"

__ADS_1


Aku menggeleng. "Gelap, Bund. Bayangannya samar-samar. Pakaiannya serba hitam. Nara tidak tahu seberapa tinggi, laki-laki atau perempuan, apalagi saat itu Nara ketakutan setengah mati."


"Kenapa kamu menutupi ini? Dia mengancammu?


Sekali lagi, aku menggeleng. "Tidak tahu. Itu ancaman atau apa. Tapi dia menyuruh Nara untuk tidak mengatakan apa pun -- pada siapa pun. Dia minta Nara tutup mulut. Nara... bingung. Lagipula... Nara juga tidak bisa mengungkapkan identitasnya sama sekali. Bahkan ciri-cirinya... Nara tidak tahu. Percuma, kan?"


Ibuku menggeleng-gelengkan kepala kebingungan. "Apa tujuannya?" ia bertanya pada diri sendiri. "Seandainya dia ingin berniat buruk padamu, kenapa tidak memberikan pisau itu ke tanganmu? Dia membuat seolah-olah Salsya bunuh diri. Tetapi setelahnya, dia malah membiusmu. Dia melepaskanmu dari kematian, tapi juga mengikatmu dalam misteri pembunuhan Salsya."


"Nara tidak tahu. Yang penting dia melepaskan Nara dari cengkeraman Salsya. Dia juga membebaskan Nara, tidak membunuh Nara juga, kan? Entah karena kasihan, atau sebenarnya dia mau melindungi Nara. Nara tidak tahu."


Kali ini ibuku mengangguk paham dengan pilihanku. "Kamu yakin selalu bisa menutupi hal ini kalau polisi terus mengintrogasimu?"


Kepalaku terasa sakit lagi. Kucengkeram rambutku dengan frustasi. "Tidak tahu," kataku. "Lihat sekarang, Nara bahkan tidak bisa menyembunyikan ini dari Bunda. Nara takut kalau akhirnya ketahuan berbohong pada polisi, apa Nara akan dihukum? Tapi Nara juga tidak mau terkesan tidak menuruti permintaan orang itu. Kalau nanti dia tahu, kalau orang itu marah? Lalu... dia... bagaimana? Nara... Nara harus bagaimana? Nara bukan lagi seorang gadis single yang bisa melindungi diri sendiri. Nara tidak mau egois dan mengorbankan... Nara hanya ingin anak-anak Nara selamat, Bund. Nara...," aku mengeran*. "Kenapa aku yang sekarang sepengecut dan secengeng ini?"


Ceklek!


Pintu terbuka. Ihsan masuk dengan tampang seorang killer man dan langsung menghampiriku. Cepat-cepat aku melepaskan diri dari pelukan ibuku dan langsung menghapus air mata.


"Puas? Hmm? Puas sudah menciptakan kehebohan ini? Sudah puas menyusahkan semua orang, membuat semua orang khawatir?"


Ya Tuhan....

__ADS_1


"Ihsan, aku--"


 "Kamu memang mau cari mati? Iya?"


"Ihsan--"


"Aku tidak habis pikir, di mana otakmu? Sebelum melakukan sesuatu -- pikir pakai otak."


Kuanggukkan kepala mengakui kesalahan. "Aku tahu aku salah. Tapi--"


"Kamu bodoh! Kamu itu...."


Kata-katanya tertahan oleh setitik air mata yang menetes. Otaknya berpacu dalam gelombang emosi dan keputusasaan.


"Maafkan aku Ihsan."


Ihsan menghela napas dengan sedikit mendongak -- kebiasaannya dalam meredam amarah. "Tolong, tolong berhenti membuatku seakan tidak berguna. Jangan pernah lagi membahayakan dirimu sendiri seperti ini. Tidak usah sok bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Kamu punya aku. Aku yang akan menyelesaikan semua masalah-masalahmu. Kamu tinggal bilang aku harus apa, harus bagaimana. Akan kulakukan semuanya untukmu. Kamu mengerti?"


"Hmm, ya. Aku tahu aku salah."


Tidak ada yang bisa memarahiku sebaik Ihsan. Di mana pun, kapan pun, dan bahkan tanpa aba-aba dia bisa melakukan itu semaunya. Bahkan dia bisa mencetuskan apa pun kalimat yang ada di otaknya begitu saja tanpa pandang batas kesopanan terhadapku, tanpa peduli pada siapa pun yang ada di sekitarku. Seperti seorang kakak, begitu dia menempatkan diri di depanku. Kali ini ibuku hanya bisa diam dan membiarkannya, karena memang ini salahku dan kami tahu pada akhirnya Ihsan akan berhenti sendiri dan memeluk kami.

__ADS_1


"Tolong, kamu jangan ceroboh lagi. Dengar?"


__ADS_2