
Kayu yang terapung-apung tak tentu arah. Seperti itulah keadaanku dan Reza. Kehidupan berlangsung seperti biasa, tapi tidak dengan kehidupan kami. Tidak ada lagi yang benar-benar berarti selain calon anak yang ada di rahimku.
Tidak tahu bagaimana dengan Reza, namun aku memilih penyaluran yang positif atas kegalauan yang kurasakan. Aku kembali menulis setelah tulisan terakhirku yang kuselesaikan beberapa bulan lalu, selama aku tinggal di kampung. Kali ini aku menulis kisahku sendiri. Kisah cinta antara aku dan Reza -- yang aku sendiri tidak tahu bagaimana akhirnya.
La Corbeille -- itu judul yang kutulis untuk cerita ini. Dalam bahasa Indonesia artinya: Tong Sampah. Apa dan siapa yang kuanggap sampah, aku sendiri tidak mengerti. Tapi bagiku -- saat itu -- keseluruhan kisah cinta yang kujalani seperti "sampah." Cinta yang diawali dengan trauma masa laluku, lalu bertemu dengan Reza tanpa sengaja, mulai dari pertemuan yang kuabaikan, hingga akhirnya aku menanggapinya dan kami pun berkenalan. Kemudian berlanjut pada fase-fase berikutnya. Gelombang asmara yang naik turun. Hingga pada titik hari ini, kami berpisah. Bagaimana selanjutnya, Tuhan-lah yang menakdirkan. Aku hanya menorehkannya dalam kata-kata yang terangkai dalam beberapa bab dan alinea. Dengan begitu, aku bisa melewati masa-masa terberat dalam hidupku.
Pada minggu-minggu pertama, Reza rutin menemuiku setiap hari. Pagi atau siang hari dia selalu datang meski aku tidak pernah menghiraukan kehadirannya, meski aku tidak mau menatap apalagi berbicara dengannya. Tapi aku tidak pernah bersembunyi ataupun menghindar darinya. Kecuali pada hari sabtu dan minggu saat Ihsan ada di rumah, ibuku melarang Reza datang dengan alasan tidak ingin dua saudara ipar itu saling membunuh.
Mungkin, karena belajar dari kesalahannya, Reza kembali menjadi sosok yang begitu sabar menghadapiku. Dia bisa bertahan dua hingga tiga jam bersamaku yang bagaikan boneka hidup. Dia berusaha terus untuk bicara denganku meski aku tidak pernah merespons. Walau sejujurnya aku mendengar setiap kali dia bicara. Dan setiap kali ia datang, ia tidak pernah lupa membawakan buah tangan, terutama buah-buahan, dia berusaha sebaik-baiknya memerhatikan kandunganku. Dia juga tidak melupakan kewajibannya memberikan nafkah lahir, selain tetap mentransfer ke rekeningku, dia juga menitipkan uang cash pada ibuku untuk biaya kebutuhan kami sehari-hari, tanpa sepengetahuan Ihsan.
Sesungguhnya, yang dilakukan Reza itu justru terasa menyakitkan. Rasanya seperti tamparan keras untukku yang sama sekali tidak pernah melakukan kewajibanku sebagai istri semenjak aku pulang ke rumah Ihsan. Terlebih, pernah suatu ketika -- kalau tidak salah pada awal Desember, saat itu kami sudah berpisah lebih dari dua minggu. Waktu dia datang, aku sedang berada di kamar, baru selesai mandi dan masih memakai handuk, sedangkan pintu kamarku tidak terkunci.
"Boleh aku masuk?" tanyanya.
Aku tidak menyahut dan kubiarkan saja dia masuk. Meski tidak melihat, aku merasa dia memandangiku dengan lekat saat aku memilih pakaian dari lemari. Lalu, sewaktu aku hendak ke kamar mandi untuk berganti pakaian, tanpa kusadari, Reza yang sudah dua minggu tidak merasakan kehangatan tubuhku -- ternyata dia mengikutiku sebelum aku sempat mengunci pintu.
Aku meneguk ludah melihatnya berdiri rapat di depanku dengan sorot mata penuh hasrat. Sembari melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, ia berbisik, "Aku kangen," katanya, dengan deru napas yang memburu di telinga.
Seiring detak jantungku yang berdetak lebih cepat, aku merasakan lagi getaran-getaran seperti dulu, getaran yang sama seperti pada saat sebelum kami menikah dan saat kami melewati malam pertama. Seperti terhipnotis, aku tidak sadar ketika dia mulai bermain-main di telingaku dan mencumbui leherku. Nyaris saja aku menikmati sensasi yang memabukkan ketika dia mengisa* leherku, kalau saja tangannya tidak menempel di pipiku yang mengingatkan aku pada tamparannya waktu itu, mungkin kami sudah bergelut hebat, bahkan mungkin sudah pindah ke ranjang.
"Hentikan!" kataku. Kugenggam tangannya dan kutaruh di depan wajahku. Kutatap lekat tangan itu dengan emosi yang tak bisa kukalahkan. Tetapi, sesaat kemudian, aku melepaskan genggamanku. "Aku benci tangan ini," kataku. "Tangan ini yang dulu pernah meraihku dari kelamnya masa lalu. Tapi tangan ini juga...," suaraku tercekat, dan aku mulai terisak. "Pergi kamu, Mas!"
__ADS_1
Reza tertegun, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Kamu belum bisa melupakan kejadian itu?"
Hah?
Aku menggeleng. "Tidak semudah itu. Kamu menamparku di depan umum dan kejadian itu dilihat seluruh dunia. Aku tidak akan bisa melupakan itu."
"Sayang...."
Aku menggeleng tidak jelas. Sambil menahan guncangan karena terisak, kututupi tubuhku dengan kedua tangan. "Tolong pergi," pintaku. "Jangan temui aku lagi."
Namun, nyatanya dia tetap datang menemuiku setelah penolakan itu. Dia tetap sabar menghadapiku. Dan itu berlangsung selama sebulan penuh.
"Aku akan meminta Erik untuk mengecek ke sini setiap minggu dan menyiapkan semua kebutuhan kalian di sini."
Aku yang cuek padanya sejak ia datang -- sontak menoleh karena kaget mendengar penuturannya.
Kenapa? Apa jangan-jangan kamu akan menikahi Salsya?
Ingin sekali aku membuka mulutku dan mencetuskan pertanyaan itu.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melupakan tanggung jawabku sebagai ayah dan suami untukmu dan anak-anak kita."
__ADS_1
Please, Nara. Abaikan! Abaikan! Abaikan! Masa bodo apa pun yang akan ia lakukan. Ijabnya pada perempuan lain berarti talak untukmu. Ikhlas. Harus ikhlas.
"Sayang," katanya.
Untuk pertama kalinya hari itu -- sejak kami berpisah -- Reza menyentuh perutku. Tapi aku langsung menyingkirkannya.
"Aku sudah bilang, aku tidak suka tangan itu. Selain karena sudah menamparku dan nyaris mencelakai anakku, tangan itu juga sudah mengelus perut wanita lain. Aku benci! Aku ingin jadi yang pertama. Tapi kamu? Kamu berengsek!"
Aku mulai histeris dan melemparkan benda-benda yang ada di sekitarku. Tapi itu hanyalah pura-pura supaya Reza segera pergi. Aku tidak stres sungguhan.
Lain Reza, lain pula ibuku. Meski sama-sama menganggapku stres sungguhan, mereka menanggapiku dengan cara yang berbeda. Saat Reza menghindari seranganku, ibuku justru mendekat dan memelukku dengan erat. "Kamu pergi saja, Nak," katanya pada Reza. "Jangan khawatir. Nanti Bunda minta Aris ke sini untuk menolong Nara."
"Aku tidak gila...," teriakku. "Aku hanya benci melihat penipu itu ada di sini. Tukang bohong! Berengsek! Hidung belang! Pergi kamu!"
Aku terisak-isak. Tetapi Reza tetap tidak mau pergi.
Sialan! Susah, ya, sekarang mengusir dia. Wew!
"Pergi...," aku berteriak sekencang yang bisa dihasilkan pita suaraku. Dan akhirnya, pura-pura melemah harus jadi senjata andalan. Aku duduk di lantai dengan menekuk lutut dan menangkupkan kedua tangan. "Tolong, pergi sekarang. Biarkan aku istirahat. Aku mohon."
Dengan wajah pucat, Reza menurut dan langsung pergi. Entah karena shock dengan kenyataan bahwa aku butuh seorang psikiater atau karna cemburu pada Aris, aku tidak tahu. Setelah itu barulah aku mengatakan pada ibuku kalau aku baik-baik saja dan aku tidak butuh Aris untuk datang ke Jakarta. Aku tahu, aku baik-baik saja. Aku tidak butuh psikiater.
__ADS_1