
Gara-gara malam itu aku jadi kurang istirahat dan itu membuatku jatuh sakit. Aku mulai merasa tidak enak badan sejak aku bangun tidur. Tetapi aku memaksakan diri untuk beraktifitas, bahkan pada saat Alfi dan Mayra hendak berpamitan, aku memaksakan diri mengantar mereka sampai ke depan rumah, meski Reza melarangku. Aku tidak ingin mereka menganggapku pura-pura sakit untuk menghindar, walaupun aku tahu mereka tidak mungkin punya pemikiran seperti itu.
Yap, sebenarnya Reza memaksaku untuk ke rumah sakit, tapi aku menolak. Aku ingin istirahat di rumah saja kataku. Dia pun mengiyakan. "Ehm, bisa tolong ambilkan airbed di gudang? Tolong sekalian dipompa. Aku mau tiduran di dekat kolam, please?
"Di kamar, ya, Sayang, ya...."
"Aku pingin di sini."
"Sayang...."
"Aku bisa bosan kalau di kamar terus."
"Iya, oke."
Yey! Kupasang tampang semanis mungkin di wajahku yang hari ini nampak begitu pucat. "Minta bantal dan selimut juga, ya. Terima kasih Mas-nya Nara."
"Amboi... manisnya Kesayangannya Mas Reza."
Ouwww.... Dia membuatku malu. "Dasar gombal!"
"Siapa yang gombal? Kenyataannya memang manis. Senyummu membuatku bersemangat."
Eh?
"Semangat?"
"Hu'um, semangat memompa -- dirimu."
"Iiiiih... dasar mesum. Jangan bercanda, ya!"
"Serius, nanti aku akan memompamu juga. Tunggu, ya, Sayang."
Iyuuuuuh... aku terkekeh. "Ada apa, sih, denganmu? Kok pagi ini jadi konslet begitu?"
Reza yang baru saja keluar dari gudang tidak menyahut, sambil berjibaku dengan airbed di tangannya, dia tersenyum-senyum tidak jelas. Sementara aku -- karena merasa tidak enak sebab tidak melakukan apa pun, jadilah aku berinisiatif sendiri untuk menggeser dan merapatkan dua meja lesehan kami yang panjang itu ke sisi dinding. Tapi, belum sempat aku mendorongnya, Reza langsung melarangku melakukan itu. "Jangan pecicilan," katanya. "Tunggu, duduk, diam di sana. Jangan melakukan apa pun."
Aku menurut dan langsung duduk. "Aku minta maaf, Mas. Aku pulang ke sini harusnya untuk mengurusimu. Tapi malah kamu yang mengurusi aku."
"Kamu tahu salahmu di mana? Kamu membantahku," ujarnya. "Aku bilang tidur dulu sebelum barbekyuan. Tapi apa? Kamu ngeyel!" Reza menyerocos sambil terus memompa tanpa melihat ke arahku.
Merasa sedikit sebal karena dikomentari, otomatis kupasang muka sedih di hadapannya.
"Lah? Kok malah menangis? Siapa yang marah?"
__ADS_1
Aku menggeleng.
Selang beberapa menit, Reza selesai memompa dan langsung menghampiriku. "Aku minta maaf," katanya. "Aku tidak marah. Jangan menangis lagi, ya." Dia mengusap air mataku lalu menggendongku ke airbed.
Pura-pura tidak terpengaruh, aku langsung meringkuk dan menyelubungi tubuhku dengan selimut. "Sayang, aku cuma bermaksud menegurmu, bukan memarahimu. Aku minta maaf, ya?"
"Kamu kan tahu aku sedang sensitif. Kamu malah menyinggungku."
Dia mendesa* keras, tapi suaranya langsung melembut. "Oke. Jangan dibahas lagi. Mas yang salah. Mas minta maaf, ya? Mas mohon, Sayang?"
"Minta maaf juga pada anakmu."
Aku langsung nyengir. Meski terlihat konyol, Reza bersedia menuruti mauku. Tanpa protes dia langsung mengelus dan mencium perutku. "Papa minta maaf, Nak. Papa bukannya memarahi Mama. Papa cuma mau menegur Mama karena Mamanya nakal. Maaf, ya? Apa? Papa harus cium bibir Mama dulu baru kalian mau memaafkan Papa? Oh. Oke. Oke. Siap laksanakan. Papa cium Mama sekarang."
Aku ngakak. "Dasar modus!"
"Anak-anak yang minta, Ma."
Ya ampun.... Entah ini namanya berhasil menjahilinya atau malah senjata makan tuan? "Cium kening saja. Aku sedang sakit, nanti menular ke kamu."
"Nope. Aku mau cium bibir. Sini," katanya sambil nyengir super lebar.
Dan, bukan Reza namanya kalau dia tidak bisa memanfaatkan keadaan. Dia mengulu* bibirku dua menit penuh. Kurasa. Tapi tetap saja aku merasa itu kurang. "Lagi, Mas," kataku cengar cengir.
Praktis, keningnya mengernyit. "Katanya sedang sakit. Kok malah mau lagi?"
"Kamu lagi sakit. Nanti kebablasan."
"Tidak apa-apa. Empat puluh hari lebih jauh darimu. Kangenku luar biasa. Aku menginginkanmu."
Euw! Dia tergelak dengan benar-benar spontan, seolah kalimat yang kulontarkan itu adalah lelucon yang sangat lucu. Bahkan tatapan matanya langsung berubah nakal. "Jadi?"
"Jadi...."
"Apa?"
"Sentuh aku, please?"
Hening. Dia menatapku lama sekali, begitu lekat seperti adegan cowok-cowok di dalam film. "Kamu tahu, aku tidak akan pernah bisa menolakmu."
"Yah, aku tahu. Tapi... jangan menatapku seperti itu. Kamu membuatku gerogi."
Dia tersenyum. Senyum yang lebih cerah dibanding matahari yang menembus melalui kaca jendela kami yang bening. Dan, kami pun bercinta, di pagi yang penuh kehangatan ini, hasrat kami menyatu dalam rindu.
__ADS_1
"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu. Katakan."
"Kamu masih mencintaiku?"
Ya ampun.... Dia suka sekali menanyakan pertanyaan itu. "Kenapa kamu menanyakan itu? Di saat seperti ini?"
"Kenapa? Kita bisa melakukan semuanya dengan perlahan. Justru ini terasa lebih baik. Lebih hangat."
Tapi kamu membuatku nervous....
"So, katakan dengan jujur. Kamu masih mencintaiku?"
Aku menatapnya, lalu berkata dengan sepenuh perasaan, "Aku masih mencintaimu. Akan selalu, terus, dan selamanya. Sejak tahun lalu, detik ini... esok... lusa, dan seterusnya. Sampai aku mati. Aku akan selalu mencintaimu tanpa henti. Selama darahku masih mengalir dan selama jantungku masih berdetak, cintaku tidak akan pernah ada habisnya. Tidak akan pernah mati. Dan hanya padamu."
"Terima kasih, Bintang Terindah."
Ouwww.... Aku sampai menghela napas panjang karena perasaan bahagia yang meletup-letup memenuhi rongga dada. "Jadi, kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Karena aku ingin kamu bahagia," katanya. Dia menghentikan dirinya sejenak. "Aku tahu, aku pernah mengatakan kalau aku tidak akan pernah melepaskanmu. Mungkin itu terdengar egois, tapi itu jelas karena aku sangat mencintaimu. Tapi, aku lebih tidak ingin melihatmu tersiksa. Kalau kamu berada di sisiku hanya karena rasa kasihan, kamu tidak akan pernah bahagia."
Aku mengangguk. "Aku bahagia, Mas. Keberadaanku di sini, semua yang kulakukan bersamamu, dan semua yang kulakukan untukmu, semua itu berlandaskan cinta. Bukan sekadar karena kewajibanku sebagai seorang istri."
"Aku tahu, aku merasakannya. Aku hanya ingin mendengar itu langsung darimu." Saat ia hendak kembali menggerakkan tubuh -- dia menangkap tatapanku lalu mengedip. Gestur itu membuat perutku bergejolak dan suhu di dalam ruangan sekonyong-konyong menjadi begitu panas. Pipiku memerah.
Aku tahu, ini hanyalah soal waktu. Dan aku tahu, semua sisa-sisa perih yang menari-nari di dalam benakku ini -- cepat atau lambat pasti akan terlupakan.
"Oh, eummmmm...."
Dia selalu tahu cara membuat rasa nikmatku mencapai puncak ubun-ubun, meski harus meninggalkan jejak-jejak merah di tengkuk leherku. Aku rela.
"Aku ingin hanya aku yang memilikimu. Cintamu dan tubuhmu, tidak boleh dimiliki lelaki lain."
Lo? Kok tiba-tiba dia bicara seperti itu? "Bukankah harusnya aku yang bicara begitu?"
"Ada seseorang yang menginginkanmu."
"Kamu bicara tentang Aris?"
"Yeah." Reza mengangguk. "Aris menemuiku setelah dia menemuimu di rumah sakit waktu itu. Dia memintaku untuk melepaskanmu baik-baik. Aku--"
"Mas, hanya satu yang perlu kamu ingat. Selama kamu setia, aku hanya akan menyandang status sebagai Nyonya Dinata, dan aku hanya akan dimiliki olehmu."
__ADS_1
Dia menciumku. "Baiklah. Tidak ada keraguan lagi dan kita tidak perlu membahas soal ini lagi. Obrolan selesai. Jadi, boleh kuselesaikan tugasku sekarang?"
"Oke, gaskeun!"