
Tok! Tok!
Ceklek!
"Hai!" Senyum manis Raline mengembang dengan kepalanya yang nongol dari balik pintu. Dia datang bersama Aarin, Raheel dan bibiku, plus dengan satu cup besar rujak buatannya sendiri -- yang sangat kusukai. "Special for you."
"Thanks, Kesayanganku...."
"Orang sakit kok dibawakan rujak, Non?"
"Ih, apa sih, Bang Ihsan? Ini rujak spesial, tahu! Mbak Nara kan sakitnya bukan karena penyakit."
"Tidak apa-apa. Pasti Raline membuatnya dengan sepenuh hati."
"Seratus untuk Bunda. Ini rujak pelipur lara ala Raline. Sekali cicip, pasti nagih."
Ck! Dia memang percaya diri sekali.
"Uwekkk," ledek Ihsan.
"Bang Ihsan menyebalkan!" Raline merajuk.
"Sudah, jangan diladeni, Sayang. Mbak suka, kok. Terima kasih, ya."
Oalaaah... si gadis belia itu seketika semringah. "Mas Reza, cepek ceng, ya."
What???
Dasar, ya... dia membuat semua orang tergelak menyaksikan kelihaiannya menghebohkan suasana.
"Dasar tukang palak!" tukas si bungsu Raheel.
"Kamu ini Raline. Jangan begitu, Sayang."
"Tidak apa-apa, kok, Tant," sahut Reza. "Ini, Mas bayar."
Raline langsung cekikikan. "Cuma bercanda kok, Mas. Tapi kalau Mas Reza ikhlas, Raline ambil duitnya. Plus bonus, ya. Goban dua lembar."
__ADS_1
"Capcay!"
"Uuuh... si bungsu iri," sindir Raline.
"Nggak, ya...."
Obrolan berlanjut. Ruang rawatku dipenuhi canda tawa keluargaku -- kehangatan cinta yang selama ini kutinggalkan untuk sebuah pengembaraan. Hingga tak terasa senja pun datang. Waktunya semua orang pulang.
"Bunda ikut Tante pulang, ya," kata Ihsan. "Biar Ihsan yang jaga di sini."
Tetapi aku menolak. "Kamu juga ikut pulang saja," kataku.
"Aku yang jaga di sini," sahutnya keukeuh.
"Pulang...."
"Nope!"
"Kamu dan Mas Reza kan seperti Tom dan Jerry. Nanti malah ribut lagi."
Tidak mempan.
"Nak, ayo. Kita pulang."
"Tapi, Bund...."
"Ihsan...."
"Dia sering meninggalkanmu sendirian."
"Tidak akan lagi," kata Reza.
Ihsan baru akan menyahut, tapi ibuku dngan sigap menyela, "Ayo," ajaknya, dia menarik tangan Ihsan dan semua orang berpamitan. "Jaga Nara baik-baik. Jangan ditinggal sendirian."
"Iya, Bund. Pasti."
"Awas kalau ditinggal sendiri."
__ADS_1
"Iya, Ihsan."
"Jangan cuma iya-iya saja."
"Iya... Mas janji akan menjaga saudari kesayanganmu itu dua puluh empat jam."
Gara-gara aku. Semua ini gara-gara aku. "Maaf, Mas," kataku setelah semua orang pulang.
Waktu itu Reza sedang membuka koper dan mengeluarkan handuk dan pakaian ganti. "Sudahlah," katanya. "Nanti semuanya akan membaik. Aku janji kedepannya nanti aku akan memperbaiki hubunganku dengan Ihsan."
"Kuharap begitu."
Reza mendekat, dan duduk di hadapanku. "Apa yang terjadi saat ini memang sangat buruk. Tapi... ada banyak hikmah yang kita dapatkan. Aku senang sekali melihat keharmonisanmu dengan ayahmu tadi."
Aku tersenyum. "Tidak usah dibahas, ya," kataku. Aku malu membahas hal itu. Terlebih -- seolah -- aku menerima ayahku karena mengharapkan pertolongannya.
"Sayang?"
"Emm?"
"Semua ini memang belum jelas. Tapi, aku ingin berusaha percaya padamu. Jujur, aku merasa kamu masih menyembunyikan sesuatu."
Hmm... kuhela napas dengan berat. "Bisa untuk -- tidak membahas hal ini, Mas? Tolong?"
"Ya. Maaf."
Aku mengangguk. "Aku tahu, dan memang wajar kalau aku dicurigai. Tapi...."
"Apa?"
"Aku pernah bertanya padamu, bagaimana kalau aku membunuh orang, apa--"
"Aku masih di sini," sahut Reza. Dia memotong ucapanku dengan cepat dan menggenggam tanganku dengan erat. "Waktu itu aku tidak menjawab. Mungkin memang tidak bisa menjawab. Dan berharap ini tidak akan pernah terjadi. Tapi, sekarang aku tidak peduli. Aku di sini. Akan selalu di sini. Lagipula, kamu hanya melindungi diri sendiri, juga demi anak-anak kita. Kamu bukan penjahat. Aku akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkan hukum menyentuhmu. Jangan takut. Apa pun caranya, akan kulakukan supaya kamu terbebas dari kasus ini."
Lagi. Aku mengangguk. "Kamu tidak akan meninggalkan aku, kan?"
Reza menggeleng. "Tidak akan pernah. Kita akan selalu bersama, selamanya," katanya.
__ADS_1
Sungguh, dia membuatku lega tatkala senyuman hangat menghiasi wajah tampannya.
Dan aku tahu, dia akan selalu ada bersamaku.