
Ponsel Ihsan tidak berhenti berbunyi sejak semalam. Sementara ponselku langsung kunonaktifkan setelah melihat beberapa komentar netizen. Sebagian besar adalah orang-orang yang merasa iba padaku dan menghujat Reza habis-habisan, dan hanya sebagian kecil yang berkomentar buruk tentang aku. Katanya mulutku terlalu bablas, jadi wajar kalau suamiku memberikan pelajaran seperti itu.
Aku tidak akan ambil pusing tentang komentar-komentar dan hujatan-hujatan itu. Tapi aku takut kalau hal itu justru berimbas ke omset dan kelangsungan resto. Aku tidak mau gara-gara aku -- kerja keras Reza dan keluarganya yang sudah membangun resto itu bertahun-tahun -- sampai down apalagi gulung tikar. Meski aku tidak berniat seperti itu. Terlebih mana aku tahu kalau pengunjung resto malah merekam dan mengunggah kejadian itu ke media sosial.
Tidak ingin hal itu berlarut-larut, aku langsung memosting permintaan maaf di akun facebook-ku.
Pertengkaran antara suami dan istri adalah hal yang wajar -- yang bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja -- karena kami hanyalah manusia biasa, yang tak lepas dari salah dan khilaf.
Atas nama pribadi dan keluarga, saya dan Suami -- memohon maaf atas segala hal yang tidak menyenangkan -- yang sudah terjadi, terutama pada pihak-pihak yang mungkin (secara tidak sengaja) telah kami rugikan. Mohon maaf yang besar-besarnya.
Terima kasih.
@Inara_Dinata
Komentar pertama masuk secepat kilat, aku tidak memerhatikan itu komentar dari siapa, tapi aku ingat kata-kata yang ia tulis: Menurutku tidak ada yang dirugikan. Toh, kalian ribut di resto sendiri. Bukan ribut di tempat orang.
Kurasa dia benar. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting aku sudah klarifikasi sedikit dan sudah menuturkan permintaan maaf. Aku tinggal memikirkan apa keputusanku selanjutnya, tentang rumah tanggaku. Bubar atau lanjut?
Bingung dengan beban pikiranku, kulirik menu sarapan yang belum kusentuh. Bagaimana aku bisa makan kalau aku tidak tahu suamiku sudah sarapan atau belum?
"Kenapa?" tanya ibuku. "Kamu memikirkan suamimu sudah sarapan apa belum?"
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Sudah, kok," katanya. "Tadi bareng Bunda di kantin."
Pilu. Aku tahu ibuku melakukan itu demi aku. Aku tahu dia pasti sangat marah pada Reza karena berani berlaku kasar padaku: anak perempuan Bunda satu-satunya. Tapi dia bersedia menelan bongkah kecewa itu di depanku.
Waktu itu Ihsan sudah berangkat kerja, jadi aku bisa mengajak ibuku untuk mengobrol. Aku bertanya, "Ada nasihat untuk Nara, Bund? Nara harus bagaimana?"
Ibuku menggeleng. "Bunda akan setuju dan menghargai apa pun keputusanmu. Hanya kamu yang tahu, apa yang terbaik untuk dirimu sendiri."
"Bunda tidak akan kecewa kalau Nara ingin berpisah?"
"Nara tahu, Bund. Tapi... Nara harus pulang ke mana?"
Matanya mulai berkaca. "Tergantung keputusanmu, Nak. Kalau kamu benar-benar ingin mengakhiri semuanya, kamu bisa minta pisah ranjang sebelum akhirnya bercerai, sampai kamu melahirkan. Tapi, kalau kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga kalian, kamu ikut suamimu pulang. Dia berhak atas dirimu. Kecuali kalau dia mengizinkanmu tinggal di rumah Ihsan untuk sementara. Jujur saja, Bunda sangat takut...."
Aku mengangkat alis. "Apa?"
"Bunda takut kalau dia memukulimu lagi."
Kuraih dan kugenggam tangannya. "Nara tidak takut. Justru Nara takut pada diri Nara sendiri. Nara tahu, kalau Nara tidak sembarangan bicara, Mas Reza juga tidak akan seperti itu. Tapi Nara sampai begitu juga karena ulahnya sendiri. Rasa kasihannya pada Salsya membuat dia sanggup membohongi Nara. Seharusnya dia tahu, sepahit apa pun kejujuran, tidak akan lebih pahit dibandingkan saat kita tahu kalau kita terus-terusan dibohongi, dan kita tahu itu dari orang lain."
__ADS_1
Ibuku belum sempat merespons, suara ketukan di pintu menyela obrolan kami. Banyak orang yang datang menjengukku hari itu. Orang yang pertama datang adalah ayahku, dia datang bersama Rizki. Katanya, begitu dia melihat video viral malam itu, dia langsung berangkat dan mencari tiket penerbangan tercepat.
"Apa yang bisa Ayah lakukan untukmu? Kamu ingin menuntutnya atas kasus KDRT?"
Aku menggeleng. Terlintas di benakku, seolah dia lelaki dan ayah yang baik hingga bisa berdiri di depanku untuk menjadi garda terdepan. Tapi memang, ayahku tidak pernah KDRT pada ibuku -- dulu -- sekali pun -- tidak pernah sama sekali. "Tidak usah. Aku tidak mau sampai seperti itu. Aku tidak mau ayah anakku kelak dicap sebagai mantan napi. Apalagi kalau anakku yang dicap sebagai anak napi. Jangan sampai. Lagipula, itu bisa merusak nama baiknya, merusak nama baik resto, bagaimana nasib anak-anakku nanti? Bisa-bisa dia sepertiku, hidup serba kesulitan tanpa nafkah seorang ayah."
Ayahku tertunduk. Aku tahu kata-kataku menohoknya dengan telak.
"Apa ini alasanmu menemuiku waktu itu, Dik?" tanya Rizki -- mencairkan ketegangan yang ada.
Aku mengangguk. "Yeah. Seandainya setelah melahirkan aku memutuskan untuk berpisah, bisakah kamu membantuku? Dan ketika itu benar-benar terjadi, apa kamu bisa membuat dia bertanggung jawab -- supaya dia tetap menafkahi anak-anaknya dan menjamin hak anak-anaknya? Aku ingin kehidupan anak-anakku terjamin meski aku harus berpisah dengan ayahnya. Aku juga mau hak anak-anakku tidak jatuh ke tangan orang lain. Nasib mereka tidak boleh sama dengan nasibku. Mereka berhak atas apa saja yang dimiliki oleh ayahnya. Kamu paham maksudku, ya kan, Kak?"
Rizki mengangguk. "Akan kuusahakan," katanya. "Dengan kekerasan yang sudah ia lakukan padamu, itu akan memudahkanmu untuk menuntut cerai."
"Ya. Tapi untuk sekarang, aku ingin fokus pada kandunganku dulu."
Syukurlah, mereka cukup mengerti hingga kami tidak membahas soal itu lagi, dan hampir setengah jam berikutnya kami hanya sekadar membicarakan hal-hal sepeleh yang sebenarnya tidak terlalu kudengarkan. Yang jelas kali ini aku tidak kepingin bersikap kurang ajar pada ayahku.
Beruntung, kedatangan bibiku dan kedua putrinya membuat ayahku sedikit pengertian dan segera berpamitan.
Hal yang baik berikutnya adalah cara Raheel yang merekam video baru -- yang dia dan kami semua -- harap bisa sedikit meredam kehebohan di luar sana. Dalam videonya, Raheel menginformasikan bahwa keadaanku sudah baik-baik saja. Dan semua permasalahan dalam keluarga kami akan dibicarakan baik-baik. Raheel mengajak semua subscriber dan followers-nya untuk tidak menanggapi video viral itu secara berlebihan.
__ADS_1