Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Hearth, Hate, Hurt


__ADS_3

Yeah... akhirnya sampai juga ke hari itu -- hari di mana Reza sudah menjadwalkan buka bersama dengan ayahku, dan -- keluarga besarnya.


Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud durhaka padamu. Tapi aku harus melakukan ini.


Aku hanya mengaduk-aduk makananku. Toh, aku tidak lapar karena sedang tidak berpuasa.


"Kenapa, Nak? Kamu tidak suka makanannya?" ayahku bertanya.

__ADS_1


Aku menggeleng. "Bukan," kataku, "tapi suasananya. Saya tidak suka suasananya, tidak suka orang-orangnya. Intinya saya tidak suka berada di dekat kalian semua," kalimat ini kuucapkan dengan intonasi standar, ya... tidak berteriak-teriak apalagi menjerit-jerit -- tidak dengan emosi yang meluap-luap. Tapi tetap saja...


Hening. Semua orang terdiam dan berhenti mengunyah. Sementara Reza berusaha menyuruhku diam.


"Aku bukan bermaksud untuk mempermalukanmu. Kamu suami terbaik. Tapi ini layak diterima oleh orang asing ini. Biarkan aku bicara dan mengeluarkan semua unek-unek yang kupendam belasan tahun. Oke?"


Akhirnya Reza mengerti, dan ia pun mengangguk. Dia membiarkan aku bicara sampai tuntas, bahkan melerai bagi siapa pun yang ingin buka suara. "Mungkin dengan seperti ini Nara akan merasa plong. Dan saya akan tetap mambantu Anda bertemu Nara kalau sekali ini Anda mau mendengarkan semua unek-uneknya," begitu kata Reza membelaku dan membuatku bisa mengeluarkan unek-unekku.

__ADS_1


Aku tahu itu salah. Tapi aku hanya ingin ayahku berhenti memanfaatkan Reza untuk mendekatiku. Karena rasanya sakit hatiku, benci, dan dendamku padanya sudah tidak bisa tertolong lagi, tidak bisa disembuhkan dan tidak bisa lagi diluruskan. Aku ingin hidup tanpa dia, seperti selama ini, selama dua puluh dua tahun.


Tapi tetap saja, aku yang menangis, dadaku yang sesak. Akhirnya aku dan Reza pergi. Dia meminta maaf padaku karena ajakannya itu sama seperti mengoyak-ngoyak kembali lukaku. Kami pun mampir di restoran lain. "Maaf, Mas. Gara-gara aku kamu harus menahan lapar."


"Aku mengerti," katanya. Entah benar-benar mengerti atau memaksakan diri untuk mengerti, tapi yang jelas Reza tidak mengajakku bertemu ayahku lagi, kecuali di hari kepulangan kami ke Jakarta. Dia mengajakku berpamitan. Hanya dengan ayahku -- tidak menyertakan keluarga besarnya.


Meski momen Ramadan kami sempat diwarnai huru-hara itu, momen lebaran kami tetap indah. Dulu aku hanya sungkeman pada ibuku, sekarang ada suamiku. Aku meminta maaf pada mereka berdua atas kesalahan-kasalahanku dan sikapku yang mengecewakan.

__ADS_1


Nah, selain momen Ramadan dan lebaran, ada lagi yang tidak kalah indah, yang berkesan dan tidak akan pernah terlupakan. Yap, momen indah Malam Pertama.


Malam yang sangat kunantikan.


__ADS_2