Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Manisnya Bulan Madu


__ADS_3

Karena kelelahan, kami menghabiskan sepanjang pagi dan siang di tempat tidur. Tenagaku habis karena ketangguhan Reza. Dia membuatku benar-benar kelelahan. Tapi, seperti janjinya, dia bersedia memijatku. Hehe. Lumayan, tangannya cukup terampil.


"Ayo, giliran. Biar aku yang memijatmu."


"Tidak usah," tolaknya.


"Tidak apa-apa, Mas."


Reza baru akan membuka mulut untuk menolak tawaranku lagi, tapi aku langsung menariknya, dan melarangnya menolak niat baikku. Dan... dia pun mau.


Ya ampun... betapa aku memuja tubuh kekar itu. Tubuh yang sedari awal kedekatan kami membuatku terpesona pada kekekarannya.


Aku suka, sesi pijat-memijat itu membuat hubungan kami lebih terasa hangat dan romantis. "Pijatanmu enak, lo, Sayang. Maulah aku sering-sering dipijat," katanya.

__ADS_1


"Mmm-hmm, tinggal bilang, kok."


Lalu dia tersenyum dengan super semringah plus renyah. "Ternyata halal itu sangat enak. Coba dari dulu, ya."


Hah! Ada-ada saja topik obrolannya. Tapi, ya, obrolan itu membuat waktu tak terasa berjalan dengan cepat. Sorenya, barulah kami menghabiskan waktu di pantai, menyusul ibuku dan sepupu-sepupuku yang sudah pergi lebih dulu, mereka sudah pergi sejak siang.


"Ecieee... yang habis malam pertama. Sukses, Bro? Sanggup berapa ronde?"


Ya Tuhan....


"Malam pertama? Kok malam pertama? Maksudnya bagaimana?" ibuku mulai curiga.


Ari yang tidak tahu kalau keluargaku tidak tahu tentang hal itu langsung merasa bersalah. "Sori," katanya. "Aku tidak tahu kalau...." Dia mengedikkan bahu. "Aku minta maaf. Sori."

__ADS_1


"Biar Nara jelaskan, Bund," kataku. Kuhampiri ibuku dan kuceritakan semuanya dengan detail. Dia shock mendengar cerita perihal penusukan itu. Untung saja ibuku tidak punya riwayat sakit jantung, kalau tidak... ya, kau pasti tahu lah, selain hal itu bisa mengancam nyawanya, tentu berakhir juga bulan madu kami. Aku tidak mau lagi ada duka menyelimuti keluarga kami.


Pada akhirnya Reza meminta maaf kepada ibuku, dan berusaha meyakinkannya kalau semuanya baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Selamanya. Dia menjamin Alvaro tidak akan lagi mengulangi perbuatan jahatnya. Reza pun berjanji pada ibuku bahwa dia akan menjagaku dengan baik, tidak akan membiarkan siapa pun mencelakaiku.


"Ya, sudah. Semuanya sudah terjadi," katanya. "Tapi, kedepannya nanti -- jangan merahasiakan apa pun dari Bunda. Meski sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, kamu tetaplah anak Bunda. Dan Reza pun sudah menjadi anak Bunda. Bunda berhak tahu apa pun yang terjadi dan apa pun yang kalian alami. Mengerti?"


Aku mengangguk. "Iya, Nara janji. Sudah, ya. Jangan bahas ini lagi." Aku pun mencium dan merengkuhnya dengan hangat. "Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Mas Reza juga sudah sehat."


Ah, senang rasanya melihat ekspresi ibuku yang lega. Aku bersyukur ia tidak terlalu shock dan jantungnya bisa menerima berita buruk ini.


"Hei, gerai rambutmu, Nak," ibuku berbisik setelah melihat bekas merah di leherku. Hmm... aku sampai tidak menyadarinya, jejak merah itu ada di sisi belakang leherku.


Hiks! Aku ingin menggeleng -- tidak ingin menggerai rambutku. Kan panas... belum lagi nanti rambutku bisa kusut tertiup angin. Tapi aku tidak ingin membantah. Aku langsung menurut dan melepas pengikat rambutku. Dan seperti biasa -- Reza hanya cengengesan.

__ADS_1


Ish! Menyebalkan!


__ADS_2