
"Mau mie instan?" tanya Alfi. Saat itu sekitar jam dua pagi dan aku memaksakan diri ke dapur karena perutku keroncongan minta diisi. Aku terkejut mendapati Alfi sudah berada di sana dan duduk di ruang makan.
Aku menolak. "Secangkir teh saja, kalau kebetulan ada."
Dia menggeleng. "Aku minum kopi," katanya.
"Oke. Aku bisa buat sendiri kalau begitu." Rasanya aku ingin cepat-cepar ke kamar, tapi aku takut jika aku membuatnya tersinggung. Lagipula waktu itu aku sangatlah lapar dan aku membutuhkan makananku supaya aku bisa melanjutkan tidurku.
Sejak hamil, kebutuhanku dalam asupan makanan meningkat drastis. Per dua atau tiga jam setelah makan, perutku akan kelaparan lagi. Hal itu sering sekali membuatku terbangun tengah malam dan mencari makanan. Sebenarnya itu sama sekali tidak mengganggu, hanya saja malam itu aku tidak mengira kalau Alfi akan turun dan ke dapur juga. Rasanya tidak nyaman kalau kami hanya berdua di tengah keheningan malam, terlebih di saat pasangan kami masing-masing tengah terlelap di dalam kamar.
"Kamu mau?" tanyaku. Aku mengangkat sekotak sereal dan susu cair, lalu menuangkannya satu mangkuk penuh untukku.
Alfi menolak. "No, thanks. Aku sudah kenyang dengan mie ini."
Aku mengangguk sambil mengatakan oke -- nyaris tanpa suara, lalu menaruh serealku di meja bar. Syukurlah. Aku tidak mesti berbagi makanan dan seolah melayani suami orang dalam keheningan malam. Haddeh... pikiranku ini. "Kurasa aku lebih butuh air putih hangat ketimbang teh," ujarku. Kuambil gelas porselen dan mengisinya dengan air hangat suam kuku.
"Ra?"
Eh?
Cara Alfi menyebut namaku membuatku kaget. Dia sepertinya hendak bicara serius. "Ya?"
__ADS_1
Dia berdeham. "Boleh aku menanyakan sesuatu?"
Sekonyong-konyong, wajah serius Alfi membuatku gugup. Harusnya aku membangunkan Reza dan minta dia menemaniku. "Mau tanya apa?"
"Apa kamu merasa terganggu dengan kehadiran kami? Aku dan Mayra?"
Aku terlonjak. Dia tidak hanya menyadari, tapi malah langsung bertanya terang-terangan. "Pertanyaan macam apa itu? Ada-ada saja kamu, Mas."
"Aku merasa seperti itu," katanya.
Kupaksakan bibirku tersenyum untuk menyembunyikan perasaanku -- bahwa itu benar. Memang benar, aku terganggu dengan kehadiran Alfi. Alfi, bukan Mayra. Dan kalau boleh jujur, kurasa alasan hatiku yang sesungguhnya adalah: karena dia sosok suami dengan dua istri. Hati kecilku sulit menerima kehadiran lelaki yang berpoligami untuk berada di sekitarku. Aku berusaha untuk tidak bersikap diskriminasi terhadapnya, tapi itu juga butuh waktu untuk penyesuaian ulang. Dan... entahlah, aku tidak tahu apakah aku bisa.
Sialnya, alasan yang kututurkan itu terlalu berlebihan. Dan itu malah memancing Alfi mencetuskan pertanyaan baru. "Kamu masih belum bisa berdamai sepenuhnya dengan masalah waktu itu?" Dia berpindah duduk ke sisi yang membuatnya bisa melihat ke arahku.
Aku menggeleng. "Tidak tahu. Tapi jelas kejadian itu sangat membekas di ingatanku. Yah, walaupun aku tahu dia tidak sengaja melakukannya. Aku tahu, dia tidak bermaksud menyakitiku. Dan, aku juga mengerti kenapa dia sampai kelepasan. Aku juga yang salah, perkataanku waktu itu memang keterlaluan. Tapi... ya tetap saja, Mas. Namanya seorang perempuan, seorang istri, ditampar oleh suami sendiri, apalagi di depan umum. Rasa sakitnya berkali-kali lipat."
Huh! Mataku terpejam dan aku bergidik, gemetar. Aku masih saja merasakan sakitnya tamparan itu ketika aku mengingatnya. Padahal aku juga sering emosi dan juga pernah menampar Reza beberapa kali, bahkan aku pernah sampai menusuknya, tapi tetap saja, satu kali tamparan Reza sangat berbekas dalam ingatanku. Bahkan Ihsan sudah membalas Reza dengan menghajarnya habis-habisan, tapi itu juga tidak membuat satu tamparan itu terbayar lunas.
Aku berdeham, lalu mengatur napas. "Belum lagi, pandangan keluarga besarku terhadapnya yang sekarang jadi minus. Aku bahkan malu pada mereka semua atas video yang viral itu. Aku juga tidak berani lagi mau pulang kampung. Bagaimana bisa aku membawa Mas Reza ke hadapan mereka? Aku juga tidak tahu bagaimana membuat mereka bisa memaafkannya. Kamu tahu, aku memang kekurangan kasih sayang seorang ayah, tapi keluarga besarku menyayangiku seperti keluarga inti mereka sendiri. Apalagi sepupu-sepupuku, mereka masih marah pada Mas Reza."
"Lantas, apa yang membuatmu kembali ke sini? Terus terang, kami semua penasaran."
__ADS_1
Kuhapus sejenak air mata yang ternyata sudah menetes. "Salsya," kataku. "Hari itu Salsya datang ke rumah, dia mencari Mas Reza. Terus terang, sewaktu Mas Reza tidak menjengukku lagi, kupikir dia sudah menikah dengan Salsya. Tapi ternyata Salsya malah datang untuk mencarinya. Entah kenapa, perasaanku mengatakan bahwa Mas Reza sebenarnya tidak ke mana-mana. Sebab itu aku datang ke sini. Dan... jujur saja, Mas, di satu sisi aku sangat senang karena dia berusaha menghindari Salsya. Tapi di sisi lain, aku malah tidak tega melihat keadaannya, makannya sampai tidak terurus." Aku diam sejenak. "Oh ya, kamu tahu, waktu Salsya datang, dia meminta restuku. Katanya dia sangat ingin menikah di tanggal spesial bagi mereka, sebelas Januari."
Alfi tampak terkejut aku tahu tentang tanggal itu. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan keras. "Aku minta maaf. Itu karena aku."
Aku menggeleng. "Aku tidak menyalahkan Mas Alfi. Lagipula masa lalu tidak bisa di rubah, kan? Hanya saja, aku khawatir kalau Salsya bisa menarik kembali suamiku ke dalam kenangan masa lalu mereka."
"Kurasa itu tidak mungkin," kata Alfi sesaat setelah mengetukkan gelas kosongnya ke meja.
Aku mengangguk. "Semoga," harapku. "Tapi sebelas Januari sudah di depan mata. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Salsya pada hari itu. Dan bagaimana nanti Mas Reza menanggapinya. Aku agak khawatir--"
"Aku yang akan mengingatkan supaya dia tidak melakukan hal bodoh lagi."
"Terima kasih." Kugenggam gelas dengan kedua belah tanganku, kehangatan porselen itu menenangkan tanganku.
"Butuh bantuan untuk menghabiskan sereal itu?" Alfi terkekeh. "Hanya bercanda. Makanlah, atau dua Dinata kecilmu akan kelaparan."
Aku tersenyum kepadanya. "Yeah. Mereka selalu membuatku terbangun tengah malam."
"Kurasa itu seperti kebiasaan ayahnya." Gelak tawa Alfi langsung menggelegar.
Dan kali ini aku ikut tertawa.
__ADS_1