Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Drama


__ADS_3

"Aku mencintaimu. Aku tidak menyesal dan tidak akan pernah menyesali keputusanku telah menikah denganmu. Aku lega, aku sudah menepati janjiku pada ibumu. Jujur, aku juga tidak mau kita berpisah. Aku juga tidak mau meninggalkanmu. Tapi aku lebih tidak mau kalau hatiku terus terluka. Jadi maaf, keputusanku sudah bulat. Aku ingin kita berpisah -- berpisah dengan cara baik-baik. Supaya aku tidak perlu menghabiskan sisa hidupku dengan membencimu. Tolong, Mas, ceraikan aku. Kurasa, itu yang terbaik untuk kita berdua. Untuk rumah tangga yang tidak sehat ini."


Tidak ada jawaban.


"Mas? Tolong?" aku mengiba. "Hubungan kita ini kalau diteruskan hanya akan menghasilkan dosa. Kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Aku tidak tahan. Pernikahan ini menyiksa batinku. Aku sudah lelah. Aku menyerah. Tolong kamu mengerti itu."


Ya Tuhan, hanya ada gelengan dan tetesan air mata. Sungguh menyebalkan!


"Terserah kamu!" Kulepaskan kalungku dan cincin kawin dari jariku, kutaruh dua benda pengikat itu ke telapak tangannya. Lalu aku berdiri dan pergi ke kamar, mengenakan pakaian, kemudian meraih tasku.


Lagi-lagi Reza mencegahku. Dia berusaha memelukku, tapi aku meronta-ronta. Saat berhasil melepaskan diri darinya, kukeluarkan pisau kecil dari dalam tasku. Jujur saja aku sengaja mempersiapkan pisau itu untuk mengancamnya. Kutempelkan mata pisau itu ke pergelangan tanganku, hingga Reza menyerah dan tidak mendekatiku. Kuambil koperku lalu keluar dari kamar.


Sialan! Kenapa dia tidak mengejarku dan membuang pisau ini dari tanganku?


Argh! Aku geram!

__ADS_1


Sesampainya di teras, kukeluarkan ponselku dan pura-pura menelepon seseorang. "Aku berangkat sekarang," kataku.


Sewaktu aku hendak menyimpan ponselku, tangan Reza langsung melingkari tubuhku. Dengan isakan tangis dia memintaku untuk tidak pergi.


Ini yang kuinginkan. Berlutut dan memohonlah padaku. Aku ingin kamu berjanji akan meninggalkan Salsya demi aku. "Maaf, aku akan tetap pergi."


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku," pintanya -- sesuai harapanku, ia berlutut sambil memeluk kakiku. "Aku janji. Aku tidak akan memedulikan Salsya lagi. Berikan aku kesempatan. Ya?"


Aku menggeleng.


"Tolong...," Reza memohon dengan tangan yang semakin erat memeluk kakiku.


Dia menganggukkan kepala dengan yakin. "Aku bersumpah. Demi Tuhan, aku tidak akan peduli lagi pada Salsya," katanya dengan takzim. "Aku mohon, berikan aku kesempatan. Please? Tolong?"


"Kesempatan terakhir?"

__ADS_1


Dia mengangguk. "Iya. Terakhir. Aku bersumpah, tidak akan kusia-siakan."


Aku tahu kamu akan memilihku. Meski kamu membuat drama ini terlalu panjang.


Huffft....


Well, Reza sudah berjanji, kami pun berbaikan, dan, pada malam harinya ia mengajakku menikmati kebersamaan kami -- sepanjang malam -- di roof top. Dengan hoodie dan selimut tebal, plus bean bag jumbo, kami pun meringkuk seperti sepasang kelinci yang memandangi langit malam bertabur bintang.


"Maafkan aku," Reza berkata. "Aku menyesal telah membuatmu meneteskan air mata."


Aku tersenyum. "Aku bisa melupakan hal-hal buruk kemarin, asal... kamu menepati janjimu dan tidak akan menyakitiku lagi. Kita pasti bisa merajut ulang kebahagiaan kita yang sempat kusut."


"Yeah, pasti. Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu."


Senangnya, satu kecupan hangat menempel di keningku. "Terima kasih, Mas. Kamu sudah bersedia mempertahankan rumah tangga kita."

__ADS_1


"Aku yang berterima kasih, karena kamu sudah bersedia memberikan aku satu kesempatan lagi. Aku janji, akan kugunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya hanya untuk membahagiakanmu."


Lagi. Aku tersenyum. "Aamiin," sahutku. Dan kami pun terlelap hingga pagi.


__ADS_2