Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Welcome Home


__ADS_3

Aku meminta izin kepada Reza untuk mengundang Ihsan dan Aarin berkunjung ke rumah kami, dan menghabiskan waktu libur tiga hari bersama kami. Aku senang karena Reza mengizinkan dan tidak keberatan sama sekali, bahkan dia menyarankan  untuk mengundang Mayra dan Alfi juga. Dia memberitahuku kalau Alfi sudah memboyong kembali keluarganya ke Bogor dan menetap di sana. Sungguh, aku sangat senang mendengarnya.


Berhubung hari senin itu tanggal merah libur nasional hari kemerdekaan, jadilah mereka semua memenuhi undangan kami, melewati long weekend bersama dengan kami. Aku sangat rindu pada mereka semua. Terutama pada Ihsan, kami tidak pernah bertemu semenjak dia pulang ke Jakarta -- setelah hari pernikahanku waktu itu. Sementara Reza -- tentulah dia merindukan Alfi, sahabat karibnya itu, mereka menghabiskan sepanjang sore dengan asyik mengobrol dan membiarkan istri mereka bersantai sendiri-sendiri.


"Tahu tidak, apa yang pertama kali ingin kutanyakan saat pertama kali kita bertemu lagi?"


Aku tersenyum. "Aku tahu," kataku. "Kamu mau tanya aku bahagia atau tidak, kan?"


Ihsan mengangguk. "Yap, itu yang ingin kutanyakan," katanya sambil menolehku sekilas, kemudian ia meneguk jus jeruk dari gelasku dan menaruhnya kembali ke meja. "Dan kurasa setelah melihatmu saat ini, aku sudah mendapatkan jawabannya. Aku senang melihatmu bahagia." Dia tersenyum, memelukku dan mengecup kepalaku, seperti seorang kakak.


Aku pun membalas pelukannya. "Trims," kataku. "Tapi aku akan lebih bahagia kalau Bunda segera kembali ke sini."


"Segera," sahutnya. Ia melepaskan pelukannya dan langsung melompat ke kolam, menukik pacarnya yang sedang santai sambil memejamkan mata di atas pelampung -- hingga keduanya tercebur ke air. Agak sinting, ya?


Tak lama kemudian, Reza menghampiriku. Waktu itu aku masih duduk di kursi bar-ku. Dia berdiri di sisiku dan menceritakan apa yang ia obrolkan dengan Alfi. Tentang anak, dan juga dokter langganan Dinda untuk program hamilnya.


"Jangan bicarakan hal ini sekarang," bisikku. "Aku tidak ingin Mayra mendengar ini. Kasihan dia."


Reza mengangguk dan mengerti. "Tapi kamu mau, kan, program hamil? Aku takut kamu merasa terbeban."


"Santai, Mas. Aku bersedia, kok. Demi kamu, demi kita, demi keluarga kecil kita. Hmm?"

__ADS_1


Amboi... Reza tersenyum, senyuman lega, senang, dan bahagia yang berkolaborasi jadi satu. "Terima kasih," katanya. Aku pun mendapatkan pelukan lagi, kali ini pelukan dari suami. "Hei, kamu tidak keberatan kolammu dicicipi orang duluan?"


Aku menegakkan bahu, kupikir-pikir iya juga. Harusnya aku yang pertama kali menikmati kolam itu. "Ah, yang penting bukan kamu yang dicicipi orang." Kusurukkan kembali tubuhku ke dalam pelukannya. "Peluk aku erat-erat," pintaku.


"Kenapa?"


Aha, terlintas pemikiran untuk sedikit jahil.


"Kenapa? Hmm? Apa ada masalah? Cerita padaku, ada apa?" Reza memberondongku sambil memandangi wajahku, dia cemas berlebihan.


Aku menggeleng. "Tidak apa-apa," kataku. "Aku cuma mau kamu lebih mesra. Sebab Ihsan sedang mengawasiku, dia ingin tahu aku bahagia atau tidak."


"Oh, oke. Sini, biar kupeluk terus kamu dua puluh empat jam."


Aarin menjulurkan wajahnya di antara kami, dengan Ihsan dalam gandengannya, persis ketika Reza meluma* bibirku. "Masuk kamar," katanya.


"Kalian berdua saja," goda Reza.


Aku mendengus. "Sembarangan kamu! Jangan coba-coba, ya, Ihsan!"


Tapi Ihsan malah meladeni candaan Reza. "Ayo, Yang. Kita ke kamar," katanya. Dia pura-pura berbisik pada Aarin dengan kerlingan matanya yang nakal.

__ADS_1


Eit dah!


"Hu'um. Aku kedinginan," timpal Aarin.


"Sinting!"


"Enjoy, ya...," seru Reza pada mereka.


"Diam, Mas!" kataku.


"Diam, Mas...," Reza membeo.


Kususul adik-adikku itu ke lantai atas untuk memastikan mereka tidak akan berbuat yang macam-macam. Sok suci, ya? Tapi aku ingin menjaga adikku. Aku tidak ingin adikku itu menjadi lelaki berengsek seperti ayahku. Jadi, kutemani Aarin sampai ia selesai berganti pakaian. Setelah itu dia minta izin dan minta ditemani ke ruang galeri. Dia ingin melihat foto-foto kami yang sudah dicetak dan dibingkai besar-besar oleh Reza. Sama sepertiku, Aarin juga memfavoritkan foto-foto kami di Bandung dan di Cianjur, juga foto-foto bulan madu kami di Krui: foto ala poster utama film Beautiful (An Ode To Rangeela), poster 13651 film Hate Story 3, wallpaper 18267 film Alone, wallpaper #3 film Zeher, foto cover video lagu Re Piya, dan foto cover video lagu Hippi Nee Naa. Empat belas foto itu adalah foto termanis yang paling kusukai: ada yang manis karena posenya yang indah, manis karena terlihat seksi, dan sisanya manis karena aku dan Reza terlihat sangat intim dalam foto-foto itu. Sama seperti foto kissing style, aku juga sangat menyukainya.


Setelah itu kami menghabiskan sepanjang malam dengan berdiskusi, Aarin dan Mayra membantuku mencari inspirasi desain taman untuk di pekarangan depan rumah kami. Menurut Mayra karena pintu pagar depan berada persis selurus garasi, jadi jalan setapak itu jangan ditanami apa-apa, dan bagusnya dilapisi dengan paving blok -- batako lantai. Pun di depan teras, bagusnya juga di lapisi dengan keramik dan dibuat tinggi sejajar teras, dengan kata lain menurut Mayra teras depan itu diperpanjang sampai ke pagar depan, dan ditanami pohon peneduh yang rindang di sisinya -- space antara teras dan jalan setapak, seperti pohon trembesi.


"Tapi kamu harus jaga jangan sampai pohonnya terlalu rimbun. Harus rajin-rajin dipangkas."


Lalu di sebelahnya Mayra menyarankan untuk membuat taman air, kolam kecil untuk kolam ikan hias. Setelah itu di sisi paling pinggir barulah ditanamai khusus bunga warna-warni. Terserah katanya mau di desain seperti apa bagian itu. Aku dan Aarin menyukai idenya Mayra. Dan di bagian ujung itu Aarin menyarankan untuk menanam bunga dengan pot dari ban bekas yang dicat warna warni lalu disusun dengan cara ditumpuk-tumpuk. Sedangkan media tanahnya bisa diambil dari bekas galian untuk pembuatan kolam ikan. Begitu pun di dinding-dinding temboknya, menurut Aarin itu bagusnya ditanami tanaman rambat.


"Bagaimana, Mas?" tanyaku pada Reza setelah ide Mayra dan Aarin terpapar.

__ADS_1


Dia mengedikkan bahu. "Terserah padamu," katanya. "Kalau kamu setuju, besok kusuruh Erik membeli bahan-bahannya, plus memanggil tukangnya lagi."


Akhirnya fix, kami sepakat. Keesokan harinya kami langsung eksekusi lapangan. Kecuali pembuatan teras dan kolam ikan yang pengerjaannya dilakukan oleh tukang, dan selebihnya kami melakukannya sendiri. Para cowok-cowok dan ditambah tenaga Erik, langsung menyusun paving blok, di jalan setepak depan garasi, juga seluruh bagian halaman belakang yang tidak ditanami tanaman. Sementara kami cewek-cewek menanami ban-ban bekas warna-warni itu dengan bunga-bungaan. Reza sudah punya banyak bibit tanaman yang ia taruh di halaman belakang -- yang sebenarnya ia sudah menyuruh orang untuk menanamnya, tapi tidak jadi -- hanya gara-gara jawabanku waktu itu, ia jadi mengurungkan niatnya untuk menanam bunga-bunga itu di pekarangan depan. Takut salah, katanya.


__ADS_2