Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Kenangan 14 Mei


__ADS_3

Tapi... senyuman bahagianya no tipu-tipu, no kaleng-kaleng. "Trims... enak, nikmat, dan sempurna," katanya.


Iyuuuh...


Kontan saja aku ngakak. Selama sebulan Ramadan itu kami hanya melepas hasrat empat kali, hanya di malam jumat saja, plus satu kali di malam anniversary bulan lalu. Yap, yang empat kali itu sekadar memenuhi kegiatan rutin jumatan. Tidak ada goda-menggoda sama sekali, maksudku aku melarangnya menggodaku, bahkan aku tidur selalu mengenakan piyama lengan panjang plus celana panjang sampai menutup mata kaki. Untungnya dia sangat pengertian -- atau terpaksa mengerti? Entahlah. Dia tidak pernah meminta, apalagi sampai memaksa. Dia sepenuhnya mengerti betapa aku malas kalau harus mandi tengah malam, apalagi kalau harus buru-buru mengejar waktu sebelum subuh. Tapi khusus malam jumat, aku selalu menawarkan diriku kepadanya -- memberikan haknya atas diriku. Jadwal rutin yang sebenarnya selalu ia tunggu dan tak pernah ia tolak.


Selepas bercinta yang sebentar itu, Reza mengeluarkan led projector mini dan menyalakannya. Kami berdua pun meringkuk di tempat tidur sambil berpelukan, menonton tayangan slide show foto-foto dan video-video yang pernah kami rekam. Dan ujung-ujungnya...


Eh?


"Mas...," aku memekik dengan manja. "Kok kamu punya rekaman ini, sih...?"


Dia cengengesan. Ya ampun... bisa-bisanya dia punya rekaman malam pertama kami?


"Sengaja, untuk kenang-kenangan," katanya.


"Kan malu...."


"Kan cuma kita berdua yang nonton. Lagipula posisi kamu selalu tertutup olehku."


"Terus, yang di ranjang?"


"Hanya bayang-bayang siluet. Tidak perlu khawatir, oke?"


Aku mengangguk. Kami pun lanjut menonton. Dan aku tak ada hentinya menutup wajahku saat melihat adegan demi adegan dalam video itu. Aku bahkan tidak pernah nonton video begituan bersama lelaki, apalagi yang kutonton itu diriku sendiri. Aku malu melihat bagaimana Reza mencumbuiku -- si gadis polos yang ia nikahi dan melewati malam pertama bersamanya -- menyerahkan diri seutuhnya untuk dia.


"Ouh...."


"Rileks."


"Hmp... auw... Mas...."


"Sakit?"

__ADS_1


"He'em."


"Tahan, ya?"


"Emm, aku akan menahannya untukmu."


Setelah beberapa detik.


"Sakit, Mas...."


"Tahan...."


"Ummmmmmm...."


Refleks, aku menyuruk ke dada Reza dan mengepit pahaku, hingga dia keheranan. "Kenapa?" tanyanya.


"Ngilu...."


"Sakit banget, ya, waktu itu?"


"Sesakit itu?"


"Hu'um. Sakit banget. Kamu enak cuma bilang; tahan... tahan, ya. Euw!"


"Maaf. Kan kodratnya memang begitu."


"Iya sih. Tapi sayang cuma sekali."


"Lo? Kok?"


"Hu'um. Sekali saja aku dapat rumah. Kalau dua kali? Ha ha. Aku dapat apa, ya?"


"Sinting...," ia memekik dan langsung menggelitiki pinggangku.

__ADS_1


Sontak aku menggeliat dan memekik. "Ampun, Mas... geli... stop...."


"Kamu bikin gemas...."


"Jangan begitu... kalau aku sampai brojol bagaimana?"


"Maaf, Sayang...."


Dan...


"Aduh, duh... auw! Sakit... perutku sakit, Mas...."


Reza langsung gelabakan. "Serius?"


"Kamu pikir aku main-main? Ini serius...."


Dengan sigap dia mengelus-elus perutku -- mencoba menenangkan anak-anaknya. "Sayang, Sayang...," panggilnya. "Anggga, Anggi... Papa minta maaf, ya? Kalian yang tenang... kasihan Mama kesakitan...."


"Aduh... sakit, Mas...."


"Aku harus bagaimana?"


"Bawa aku ke rumah sakit...."


"Oke, oke."


Dia langsung menggendongku dan hendak membawaku ke rumah sakit.


"Ganti bajuku dulu...."


"Oh, iya, iya, oke."


Dan tak butuh waktu lama gaun tidurku sudah terlepas. "Aduh... Mas... aku tidak tahan... cepat... suntik aku... please...."

__ADS_1


"Sayaaaaang. Kamu tu, ya...."


Haha! Aku ngakak level sepuluh.


__ADS_2