
Dua jam kemudian Reza mengirimkan whatsapp, dia sudah menungguku katanya. Aku merasa dia akan memberikan kejutan untukku. Kalau tidak, kami pasti makan di dalam kamar saja atau dia akan datang sendiri untuk mengajakku keluar bersamanya. Hanya saja, aku tidak tahu kejutan seperti apa yang akan ia berikan padaku. Aku sangat antusias untuk janji makan siang ini, seperti Inara yang baru jatuh cinta -- aku deg-degan.
Jangan terlalu berharap, Nara. Kalau tidak sesuai dugaanmu, bagaimana? Kau bisa kecewa nanti. Rileks, rileks, rileks. Atur napasmu. Oke.
Aku pun tertawa. Sejak mengenal perasaan yang mendebarkan hatiku -- akibat nervous terhadap Reza, aku jadi sering bicara dengan diriku sendiri.
Setelah mengamati diri di cermin dan membetulkan kerah sabrinaku yang naik ke atas pundak, aku meninggalkan ruangan dan pelan-pelan membuka pintu. Benar saja, sejejak kelopak mawar merah menyambutku, membuka jalan melintasi jalan setapak dan mengarah ke resto, ke meja yang ada di pojokan dengan taplak dan pelapis kursi warna putih menjuntai ke lantai. Itu sebenarnya meja yang sama di tempat Reza pernah menamparku. Hanya saja, sekarang ini meja itu dihias sedemikian rupa, lengkap dengan mawar-mawar merah dan ratusan foto yang dicetak kecil-kecil, kurasa itu mencakup semua foto yang pernah kami ambil -- dari awal kami bertemu, berteman, pacaran, lamaran, sampai kami menikah, dan sekarang menjadi calon orang tua. Di situ bahkan ada salinan foto USG-ku yang kuberikan pada Reza sewaktu pertama kali kami tahu tentang kehamilanku. Dan tak lupa secarik kertas surat yang ia tulis untukku.
Tak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain hidup dan menua bersamamu. Dan mencintaimu hingga nanti aku mati.
Aku pun tersenyum. Aku juga, Mas. Tak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain hidup dan menua bersamamu. Dan mencintaimu hingga nanti aku mati.
"Lagu ini kupersembahkan untukmu, Istriku. Satu-satunya wanita yang aku cintai, wanita yang paling berarti di dalam hidupku. Tolong, maafkan aku, Sayang."
Suara itu menggema memenuhi ruangan, membuatku seketika menoleh ke sumbernya yang berasal dari arah panggung. Reza, dia sudah stand by di sana dengan mikrofon di depan wajahnya yang tampan.
Kasih sudah kuakui
Semua salahku padamu
Beri aku kesempatan
Untuk buktikan cinta setia padamu lagi
Oh... Maaf... Maafkan diriku
Yang telah membuat hatimu terluka
Hanya kau cintaku
Ku tak pernah pikir tuk pergi darimu
Walau hanya sekejap saja
Jangan pernah kau berpikir
__ADS_1
Untuk tinggalkan diriku
Beri aku kesempatan
Untuk buktikan cinta setia padamu lagi
Oh... Maaf... Maafkan diriku
Yang telah membuat hatimu terluka
Hanya kau cintaku
Ku tak pernah pikir tuk pergi darimu
Walau hanya sekejap saja
Kan ku peluk dirimu
Takkan kulepas lagi
Kan ku hapus lukamu
Akhiri semua ini
Hanya untukmu oh...
Maaf... Maafkan diriku
Yang telah membuat hatimu terluka
Hanya kau cintaku
Ku tak pernah pikir tuk pergi darimu
Walau hanya sekejap
__ADS_1
Oh janjiku... janjiku padamu
Tuk mencintaimu sekali dalam hidupku
Kasihku dengarkan hanya engkau yang bisa
Temani hidup ini
Sampai akhir usia kita
Lagu Maafkan milik Rio Febrian itu sudah selesai ia nyanyikan, suara tepuk tangan pun bergemuruh dengan meriah, tapi aku masih berdiri di sana -- mematung -- selama beberapa waktu, hanya menatap ke arahnya. Sungguh, aku menyimak baik-baik setiap lirik yang disampaikan Reza dari hatinya, sampai aku terpaku. Dia bukan sekadar menyanyi, tapi menyampaikan permintaan hati, dan itu sangat menyentuh hatiku. Sangat menyentuh.
Pada detik berikutnya, Reza berdiri dan berjalan mendekat. Dia berlutut di hadapanku dengan buket mawar merah dalam genggamannya. "Bunga untukmu."
Buket bunga dengan empat belas tangkai mawar merah. Seperti yang pernah ia berikan dulu. Empat belas tangkai.
Saat itu aku berusaha keras untuk tidak merona apalagi sampai menangis, tapi bisa kurasakan seakan hawa panas mulai menjalari wajahku. "Terima kasih," kataku seraya menerima bunga dari tangannya.
Sesaat setelah buket bunga itu beralih ke tanganku, Reza langsung memeluk kedua kakiku dan itu kontan membuatku kaget. "Mas, jangan begini," kataku. "Malu."
Tapi ia tidak peduli. "Biar saja," sahutnya. "Aku rela melakukan apa pun, bahkan aku bersedia mencium kakimu demi bisa menghapuskan luka di hatimu."
"Tapi kamu tidak perlu berlutut seperti ini."
Dia menggeleng dan memeluk kakiku lebih erat. "Aku harus. Aku ingin mendapatkan maaf darimu seutuhnya. Aku sadar, kesalahanku terlalu besar dan sulit untuk dimaafkan, dan sakit hatimu tidak akan hilang meski kamu balas menamparku. Tapi sungguh, aku menyesal. Aku tidak sengaja dan tidak pernah bermaksud melukaimu. Tolong, maafkan aku dengan sepenuh hati. Aku mohon?"
Aku mengangguk, lalu menyentuh kepalanya -- membelainya dengan sayang. "Aku memaafkanmu. Luka hatiku pasti akan sembuh seiring waktu. Mungkin aku tidak bisa melupakan kejadian itu, tapi aku pasti bisa melupakan rasa sakitnya. Pasti, Mas."
Dia tersenyum sambil mendongak menatapku. "Terima kasih, Sayang," ucapnya. Dia mengelus dan mencium perutku. "Papa juga meminta maaf pada kalian, Nak. Maafkan Papa," gumamnya pelan. Tapi aku bisa mendengar dengan jelas dia menyampaikan permintaan maaf itu pada kedua anaknya. Lalu ia berdiri dan memelukku.
"Cinta adalah tindakan maaf tanpa batas. Aku bisa memaafkanmu dan mengulang semuanya dari awal."
Reza pun tersenyum lebar sampai akhirnya aku melepaskan diri dari pelukannya. Untuk beberapa saat mata kami saling menatap. Lalu, tanpa malu dan seakan tak peduli pada siapa pun, bahkan pada kamera yang on di sekitar kami, dia menangkup wajahku, kemudian mencium bibirku dengan lembut -- cukup lama. Ya ampun, aku hampir tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat itu. Sensasi berciuman bibir di depan umum yang sangat mendebarkan. Yang pasti aku sangat bahagia. Aku sungguh tidak pernah menyangka bahwa aku akan mengalami semua keromantisan seperti saat ini. Ditambah lagi dia memberikan ciuman di keningku sebagai penutup yang manis. "Aku sangat mencintaimu," ungkapnya.
Karena malu, kusembunyikan wajahku ke dalam pelukannya. "Aku juga mencintaimu. Tak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain hidup dan menua bersamamu. Dan mencintaimu hingga nanti aku mati," ujarku sambil berusaha menyembunyikan senyuman lebar yang membelah wajahku. Aku hanya bisa menunduk memandangi lantai. Wajahku takkan pernah terasa normal lagi. Akan selalu ada rona merah karena rasa malu di ujung telinga.
__ADS_1
Yap. Mungkin aku tidak konsisten, pada akhirnya aku masih memaafkan Reza. Tapi aku tidak bisa memungkiri -- saat ini -- inilah yang diinginkan oleh hatiku. Bersamanya. Mengikat kembali cinta kami yang sejatinya tidak pernah terputus. Tidak akan pernah terputus.