Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Hadiah Untuk Reza


__ADS_3

Tubuhku sudah terlilit kain dan bergelantungan ketika lagu Once Upon A Dream diputar dari ponselku dan menggema dengan keras dari speaker yang entah sejak kapan ada di sana, atau memang itu speaker khusus untuk di roof top. Saat itu aku merasa sedikit gugup, mungkin karena itu pertama kalinya aku menari di depan -- dan -- untuk seseorang, meski orang itu adalah suamiku sendiri. Apalagi aku sudah berbulan-bulan tidak berlatih. Tapi seperti kata Reza, cukup lakukan yang terbaik.


Ketika lagu pertama berakhir, aku pun melepaskan diri dari kain hammock yang melilit tubuhku dan turun perlahan -- berpindah ke tiang pole dance dan mulai berliuk-liuk seiring irama lagu Someone Like You miliknya Adele. Setelah itu barulah giliran lagu Senorita, sebuah lagu yang pas untuk chair dance yang gerakan-gerakan dance-nya cukup energik. Dan setelah itu harusnya selesai, tapi ternyata...


"Apa?" tanyaku, ketika Reza memutar ulang lagu Senorita dari ponselku.


Dia mengulurkan tangan ke arahku dengan sedikit senyum manis mengembang menghiasi wajahnya. "Berdansa denganku," katanya. "Aku ingin melihatmu lebih lincah dan lebih menggila."


Ulala... caranya mengatakan itu seolah dia adalah seorang partner dansa yang sangat hebat. Memang, tapi tidak sepenuhnya benar. Reza itu tipe cowok yang manly dan cool, dia seorang lelaki yang seratus persen gagah dan maco. Jangankan berlenggak-lenggok dan meliuk-liukkan tubuhnya, dia bahkan tidak bisa bergoyang sama sekali, bukan seperti penari India, dancer kpop Korea, ataupun selembut dan segemulai penari salsa, apalagi sesensual penari bachata. Tidak sama sekali.


Tetapi dia memiliki tangan dan lengan yang kuat, dan dia bisa menyeimbangi gerakan-gerakanku. Misalnya di saat aku hendak melakukan gerakan memutar tubuh, dia bisa bantu memutarku dan aku bisa menyeimbangkan tubuhku dengan memegang tangannya. Juga ketika lengannya melingkari pinggangku, aku bisa melakukan gerakan seperti kayang. Dan kendati pinggulnya tidak bergoyang, tapi dia bisa menyelaraskan langkahnya dengan langkah kakiku, ke kanan, ke kiri, maju, mundur, oke oke saja. Dan yang paling kusukai adalah kemampuannya mengangkat tubuhku dan memutarku dalam gendongannya, hingga kami bisa berputar-putar dengan gerakan yang sempurna.


Dalam dansa kali ini dia tetap cool seperti biasanya. Sementara aku bak ulat nangka yang meliuk-liuk menempel padanya. Tapi ini adalah hari ulang tahunnya dan dansa ini adalah hadiah yang ia minta dariku. Aku tidak bisa menolak.


"Aku sudah lama tidak latihan. Kuharap itu tadi tidak mengecewakan," kataku, sesaat setelah kami selesai berdansa dan aku masih berada di dalam pelukannya.


Ah, aku engap. Belum stabil pernapasanku, Reza sudah meluma* bibirku sampai aku kehabisan napas.


Oh Tuhan....


"Kamu yang terbaik."


"Gombal!"

__ADS_1


"Serius. Kamu selalu menjadi yang terbaik."


Uuuh... senyum malu tak bisa lagi kutahan mendengar pujian itu. "Thanks, pujiannya. Tapi, omong-omong, kamu tahu soal ini dari mana? Padahal sepupu-sepupuku tidak ada yang tahu."


"Aku tahu dari Bunda," sahutnya enteng.


Aku menggelengkan kepala karena tak percaya. "Mana mungkin. Maksudku bagaimana bisa? Tidak mungkin Bunda menceritakannya kalau kamu tidak bertanya."


Sebelum menjawab pertanyaanku, Reza sempat menyunggingkan senyuman konyol. Setelah itu barulah dia menjelaskan kepadaku bagaimana dia tahu soal bakat yang kusembunyikan itu.


"Kamu ingat kejadian di hari lamaran kita, setelah kamu marah-marah pada ayahmu lalu kamu bersembunyi di kamar?"


Aku ingat. "Terus?"


Oh astaga....


Ckckck!


Jelas saja. Mana mungkin seorang Inara melakukan itu. Tidak akan ada kata bunuh diri dalam hidupku. "Maaf, ya? Bunda tidak tahu kalau kamu punya trauma. Aku juga belum tahu waktu itu."


Ia mengangguk. "Tidak usah dibahas," katanya. "Waktu itu kita memang belum terlalu saling mengenal."


"Yah. Tapi... bukan karena itu, kan, kamu menikahiku? Bukan karena kasihan, kan?"

__ADS_1


Reza menggeleng dengan kening mengerut, tapi bukan karena bingung. "Aku menikahimu karena sayang, karena aku mencintaimu. Jangan bertanya seperti ini lagi," dia berkata dengan menangkup wajahku dengan kedua tangannya, sudah cukup lama momen seperti ini tidak kurasakan, sebab kami sudah cukup lama tidak mengobrol seserius ini.


Aku mengangguk. "Ya, tidak akan," kataku.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang ini padaku?" tanyanya.


Aku berdeham. "Kenapa? Emm... mungkin... karena ini bukanlah sesuatu yang kubanggakan. Awalnya aku hanya belajar sendiri, lama-lama aku bisa dan mulai menari setiap kali melampiaskan, dan berusaha meredam amarahku. Di satu sisi aku seringkali merasa bodoh -- bodoh karena melakukan banyak hal dengan emosi, bukan dengan cinta. Setiap kali aku marah pada ayahku, marah pada diriku sendiri, bahkan aku marah pada dunia. Mungkin juga dulu aku seringkali marah pada Tuhan. Aku--"


"Hei, jangan menangis...," potongnya. "Aku tidak suka melihatmu meneteskan air mata. Sudah, ya."


Kuseka air mataku dan mencoba tersenyum. "Oke. Kalau begitu, obrolan ini kita anggap selesai. Emm?"


"Yap, selesai. Tapi...."


Iyuuuh....


Konyol! Reza meraih tanganku dan menghisap jariku dengan kuat. Lebih tepatnya dia mengenyut jariku, bahasa isyarat yang langsung kumengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.


"Kamu... paham, kan, apa maksudku? Please... lakukan itu untukku. Aku mau itu," pintanya.


Hmm... baiklah. Aku mengangguk. Walaupun sebenarnya aku sedang tidak kepingin sebab aku sudah kelelahan, rasa-rasanya energiku sudah terserap habis. Tapi kupikir Reza layak mendapatkan hadiah ekstra di hari ulang tahunnya, apalagi dia kepingin itu. Jadi ya sudahlah. Kamar utama sudah menanti.


Akan kulakukan untukmu.

__ADS_1


__ADS_2