Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Hanya Pura-Pura


__ADS_3

Aku tahu Reza menungguku sampai aku selesai berhias, dan meski tidak mengatakan apa pun, aku tahu dia ingin kami turun ke bawah bersama-sama, supaya semua orang melihat bahwa hubungan kami baik-baik saja.


Tetapi, saat kami keluar dari kamar, kekacauan Ihsan justru menahanku. Aku meminta Reza untuk turun duluan, sementara aku menghampiri Ihsan yang tengah bengong sendiri di beranda depan. Dia sudah rapi dengan penampilan ala karyawan kantoran, dengan kemeja polos lengan panjang, warna abu-abu kesukaannya. Matanya berkaca-kaca saat dia melihatku -- dengan mata sembab yang tidak bisa kututupi dengan mekap sekalipun. "Kamu menangis sepanjang malam?" tanyanya.


"Tidak juga," kataku. "Hanya semalam, dan... pagi ini."


Wajah Ihsan menjadi merah, sewarna dengan dress yang kupakai pagi itu. "Aku akan membunuhnya!"


Ihsan berbalik dan hendak turun. Cepat-cepat aku meraih tangannya dan memohon supaya ia tenang. Ekspresinya itu lagi-lagi mengingatkanku pada zaman SMA dulu, saat dia melindungiku dari remaja-remaja nakal yang menggangguku. Tapi kali ini dia jauh lebih marah, bahkan lebih marah daripada marahnya pada ayahku yang datang bersama Rhea dulu.


"Tidak seburuk itu. Hanya saja aku yang terlalu emosi," kataku.


Sambil menangkupkan kedua belah tangan ke wajahku, Ihsan menatapku. "Aku tahu ini salah. Tapi aku ingin kamu ikut pulang denganku. Aku tidak ingin kamu menderita di sini."


"Tidak. Aku tidak akan pergi," kataku sambil memegangi dan menurunkan tangannya yang menangkup wajahku. "Aku akan baik-baik saja. Aku harus menyelesaikan masalahku sendiri."

__ADS_1


Ihsan mengeran*. "Baiklah," jawabnya.


Tidak ingin membahas topik yang sudah sangat tidak nyaman ini, cepat-cepat kukatakan permintaanku, "Ihsan, aku ingin...."


Ihsan menyeringai. "Apa?"


"Tolong, kamu minta maaf pada Mas Reza. Demi aku. Aku tahu kamu membelaku, tapi...," aku menggeleng, tidak bisa menyelesaikan kalimatku. "Aku ingin kalian berbaikan."


Ihsan mengangguk. "Akan kulakukan. Demi kamu," sahutnya.


Lima menit kemudian, aku dan Ihsan turun. Amarahnya sudah -- sedikit -- meredam. Sewaktu kami turun, Alfi dan Reza tengah duduk di kursi meja bar. Sedangkan Mayra dan Aarin berada di dapur, menyiapkan sarapan.


Mayra sependapat denganku. "Tapi bagusnya ditaruh di mana?"


"Mungkin sebaiknya kita mengalihfungsikan teras belakang menjadi ruang makan," kata Reza. Lalu dia menuturkan ide-ide berikutnya: membobol bagian tengah dinding penyekat antara dapur dan bakal ruang makan itu -- dengan tetap membiarkan dinding bagian atas dan bawahnya, sebab sayang kalau mau membongkar laci yang menempel di sana. Waktu itu aku sudah bisa membayangkan bahwa itu akan terlihat seperti interior ala cafe. Kemudian Reza menambahkan ide untuk memanfaatkan space yang tersisa sebagai teras baru -- yang langsung menyatu dengan kolam anak-anak di sisi kanan, dan kolam ikan di sisi kiri. Juga menaruh kursi teras minimalis di masing-masing area teras. Sedangkan di tengah-tengahnya -- antara kolam anak dan kolam ikan -- dibiarkan plong sebagai jalan setepak ke area pekarangan belakang.

__ADS_1


"Kedengarannya menarik. Kurasa aku menyukai ide itu. Tapi omong-omong, Ihsan ingin bicara denganmu."


Selama sepersekian detik, semua orang melongo dengan pengalihan topik pembicaraan yang tiba-tiba kucetuskan itu. Seakan-akan obrolan yang baru saja terjadi tidak cukup untuk mencairkan suasana.


"Ayolah, tidak usah tegang begitu."


Reza berdiri dari kursinya dan mengajak Ihsan ke halaman belakang. "Ayo," katanya.


Sementara mereka berlalu, wajah Aarin langsung berubah pucat. "Apa tidak apa-apa, Mbak, kita membiarkan mereka berdua?"


Aku mengangguk. "Mudah-mudahan aman, Rin. Aku sudah meminta Ihsan untuk meminta maaf."


"Semoga," Mayra yang menyahut. "Aku senang kalian sudah berbaikan."


Aku tidak menyahut -- tidak mengiyakan, juga tidak membantah.

__ADS_1


Reza dan Ihsan pun kembali setelah beberapa menit. Aku tahu Ihsan tidak akan mengecewakanku, dan meski aku tidak meminta -- Reza pasti memaafkan Ihsan dan meminta maaf juga padanya. Dan meski tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, aku yakin -- Ihsan pasti menyampaikan beberapa kalimat yang berupa "ancaman halus" pada kakak iparnya itu. Sementara Reza pasti hanya mengiyakan, dia tidak akan membantahnya sedikit pun.


-- Walau tanpa sengaja, suatu saat ia pasti melanggarnya. Lagi.


__ADS_2