Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Perempuan Sakit Jiwa


__ADS_3

Tiba juga waktunya. Jam di dinding menunjukkan tepat pukul tujuh malam. Salsya datang agak terlambat sekitar sepuluh menit. Tapi dia tetap datang -- sendiri.


"Aku mau bertemu Reza."


Aku menatap tajam padanya yang langsung bicara tanpa basa-basi. "Mas Reza tidak ada," kataku.


"Kok bisa? Dia ke mana?"


Aku berdeham. "Aku yang membuka pesanmu dan aku langsung menghapusnya."


Salsya mendesa* keras. Jelas dia sebal dan kesal terhadapku. "Aku--"


"Aku ingin bicara denganmu," potongku. "Ayo, duduk di ruang tamu."


Salsya mengangguk, lalu mengikutiku masuk dan kami duduk di ruang tamu.


Kau tahu, pikiranku sudah melempeng, dan sedang lempeng, jadi aku bermaksud mengajak Salsya untuk bicara baik-baik, bicara dari hati ke hati, sebagai sesama perempuan dan sesama seorang ibu. Aku bahkan tersenyum sebelum bicara, dan aku berkata, "Sebenarnya aku ingin meminta maaf padamu atas semua sikap kasarku selama ini. Sejujurnya aku--"


"Aku akan memaafkanmu asal kamu mengizinkan aku menikah dengan Reza. Jangan coba-coba menjadi penghalang untuk kami."

__ADS_1


Ya Tuhan, wanita ini. Sabar, Nara. Tahan dirimu. "Justru itu, aku ingin memintamu -- meminta dengan baik-baik -- tolong, jauhi suamiku."


"Tidak akan, Ra. Cinta sejati Reza itu aku. Reza itu milikku. Aku tidak akan--"


"Sya, Mas Reza sudah menikah. Dia laki-laki beristri. Sebentar lagi aku lahiran, aku tidak ingin anak-anakku kehilangan ayahnya."


"Kamu egois! Aku bahkan tidak meminta Reza untuk menceraikanmu. Aku juga rela jadi istri kedua. Istri siri. Kenapa kamu egois mau menguasainya sendiri? Jangan egois, Ra."


Hmm... sepertinya memang percuma bicara denganmu. Dengan cara baik-baik pun kamu seperti ini. "Sya, kamu tidak sadar atau bagaimana? Mas Reza mati-matian menghindarimu. Apa kamu tidak kasihan pada dirimu sendiri harus jatuh bangun mengejarnya? Jelas-jelas dia menghindar, Sya. Kamu--"


"Tapi Kayla bilang Reza sekadar menunggu sampai kamu melahirkan, setelah itu dia akan menikahiku. Dia sudah janji."


Seolah tidak percaya, Salsya nampak shock dan mulai meneteskan air mata. "Jadi, selama ada kamu -- aku tidak akan pernah bersatu dengan Reza? Begitu?"


"Sya...."


"Well, kalau begitu...."


"Syukurlah kalau--"

__ADS_1


"Aku akan menyingkirkanmu."


Aku tertegun. Aura Salsya berubah dalam sekejap. Sosok pembunuh berdarah dingin terpancar dari wajahnya. Matanya menatapku dengan penuh kebencian. Sesaat kemudian, dia merogoh ke dalam tasnya, dan...


Sebuah pisau.


Salsya mengacungkan benda tajam berujung lancip itu ke arahku -- ke perutku.


"Pi--pisau?"


"Kenapa? Hmm?"


"Ka--kamu...?"


"Kamu takut?" Dia mulai mengeluarkan suara tawa cekikikan. Jelas wujud orang dengan gangguan jiwa yang sekarang berada di depanku -- mengancam untuk membunuhku.


Ya Tuhan, jadi ini wujud aslinya. "Sya, tenang. Aku mengajakmu bicara baik-baik. Tolong, kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin."


"Terlambat, Sayang. Kamu pikir aku akan selalu diam dan selalu bisa kamu tindas? Hmm? Kamu bisa melakukan itu di depan Reza, Nara. Tapi sekarang... kita hanya berdua."

__ADS_1


Deg!


__ADS_2