
Hujan sempat turun dan membasahi sebagian wilayah Bogor pada siang hari, sehingga sewaktu kami berziarah ke makam keluarga Reza, dia tidak mengizinkanku untuk ikut dengannya dengan alasan takut hujan turun lagi, jalanan licin, juga tidak ingin aku capek berjalan kaki melewati makam demi makam untuk sampai ke sana. Dia memintaku untuk tetap di mobil.
"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Kunci pintunya."
Aku mengangguk, dan memintanya untuk jangan pergi terlalu lama.
Sepuluh menit sepeninggal Reza, aku tidak sengaja melihat Salsya berjalan ke arah yang sama, ke arah makam keluarga Reza. Aku yakin dia akan benar-benar ke sana. Tidak mungkin kebetulan orang tuanya dimakamkan di tempat yang sama dan dia akan berziarah di jam yang sama. Kupikir dia memang sengaja menguntit Reza.
"Sialan!"
Aku keluar dari mobil dengan niat mencegahnya menghampiri Reza, tapi pada akhirnya aku berubah pikiran. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Reza saat bertemu Salsya tanpa aku. Aku pun berniat hanya melihat mereka dari kejauhan.
Perutku yang besar dan bobot tubuhku yang berat, juga licinnya jalan membuatku melangkah dengan lambat dan sangat berhati-hati. Hingga sesampainya di sana, Salsya dan Reza sudah mengobrol -- obrolan yang tidak bisa kudengar sama sekali. Yeah, setidaknya selama obrolan itu berlangsung, mereka tidak terlihat mesra sedikit pun. Sampai akhirnya Reza berdiri, yang menurutku dia hendak kembali ke parkiran. Aku pun bergegas meninggalkan mereka lebih dulu. Sekali lagi, aku ingin mencari tahu, seberapa jujur Reza padaku jika aku mengintrogasinya.
Sesampainya di mobil, kunyalakan AC sedingin mungkin dan kuseka keringatku yang bercucuran. Pun napasku yang segera kuatur supaya tidak kentara kalau aku baru saja berjalan dengan setengah berlari. Kureguk air mineral dari botol minum milikku dan segera bersandar untuk membuat tubuhku kembali rileks.
"Maaf, ya, Sayang. Aku sudah membuatmu menunggu lama."
"Emm, ya. Kamu kan berziarah ke tiga makam sekaligus. Wajar kalau perginya lama."
"Sekarang kita mau ke mana? Jadi mampir ke rumah Alfi?"
"Yeah, tentu. Omong-omong, aku tadi melihat Salsya. Kurang jelas, sih, benaran dia atau bukan. Memangnya makam orang tuanya di TPU ini juga, ya?"
__ADS_1
Reza sempat terdiam sesaat, tapi akhirnya dia menggeleng. "Bukan," katanya. "Di TPU lain. Mungkin kamu salah lihat."
Ya Tuhan... kapan kamu akan berhenti membohongiku, Mas? Aku mengangguk. "Mungkin. Bisa jadi aku yang salah lihat. Tapi kalau benar, maksudku kalau tadi itu memang Salsya, kira-kia dia mau berziarah ke makam siapa, ya?"
Reza mengedikkan bahu dan masih bersikap seperti pembohong yang lihai, katanya, "Entah. Tidak penting juga, kan?"
"Yap. Tapi... emm... bagaimana kalau...?"
Sengaja aku diam sesaat untuk memancing reaksinya dalam "permainan introgasiku" ini.
"Kalau apa?"
Aku berdeham. "Bagaimana kalau kukatakan... kalau... aku tadi ke sana. Aku melihat kalian mengobrol berdua. Dan saat ini aku sengaja mengetes kejujuranmu. Hmm?"
"Kamu tadi benar-benar ke sana?"
Aku tersenyum seolah sedang menggodanya dengan candaan tentang Salsya. Dan, yeah, aku sengaja bertanya dengan teka-teki dan tidak langsung menyekaknya. Aku ingin tahu seberapa jauh dia akan terus membohongiku.
Reza menggeleng. Dia berpikir kalau aku hanya menjebaknya. "Kamu salah lihat, Sayang. Kalaupun itu benar Salsya, aku tidak bertemu dengannya."
Oh, waw! Dia berkata sambil mengelus kepalaku dan menyunggingkan senyuman palsu.
"Aku benar-benar ke sana dan melihat kalian mengobrol," kataku -- sesantai mungkin. "Dan aku sangat salut melihatmu yang sekarang, kamu semakin lihai berbohong. Santai sekali. Kamu hebat, Mas. Luar biasa."
__ADS_1
Lagi. Reza menggeleng lagi. Tapi kali ini tidak untuk menyangkal. "Maaf," katanya. "Aku hanya tidak ingin kita berdua ribut dan kamu jadi berpikiran macam-macam."
Persetan. "Aku muak. Aku lelah dengan semua kebohonganmu."
"Maaf, Sayang. Maaf...."
"Cukup, Mas!"
"Aku menyesal...."
"Antar aku pulang."
"Tapi kita--"
"Drop me home."
"Sayang...."
"Drop me home. Right now. Please?"
Alih-alih menstarter mobil, Reza justru diam dan menundukkan kepalanya.
Dengan kesal aku membuka pintu dan hendak keluar, tapi ia sigap menahan lenganku. "Antar aku pulang kalau kamu tidak ingin aku pulang sendiri."
__ADS_1
Dia mengangguk tanpa kata dan mulai menstarter mobilnya. Tetapi, tiba-tiba saja Salsya mengetuk pintu di sebelah Reza.
Ya Tuhan, kenapa tidak Kau cabut saja nyawa wanita jalan* ini? Dia parasit!