
Aku menghabiskan waktu soreku di Mall Taman Anggrek. Awalnya aku ingin ke arena ice skating, tapi tidak jadi. Aku belum pernah mencobanya dan tiba-tiba takut kalau ternyata aku bebal, dan hanya akan menghabiskan waktu dengan jatuh - berdiri - dan jatuh lagi.
Kualihkan tujuanku ke supermarket dan membeli banyak barang yang sengaja kubeli dalam jumlah yang tak sewajarnya untuk kebutuhan dua orang. Sewaktu aku memilih barang-barang untuk peralatan mandi dan hendak memasukkannya ke keranjang trolley, aku kaget tiba-tiba melihat Reza yang tahu-tahu berdiri di dekatku dan siap-siap mendorongkan trolley belanjaanku. "Kamu? Kok ada di sini?" Aku mengenalinya meski ia memakai masker.
"Aku sengaja menyusulmu. Bingung mau ngapain sendirian di rumah."
Pembohong. Kamu takut aku tidak pulang. Aku tahu itu. "Baguslah," kataku, "aku tidak perlu susah-susah mendorong trolley ini. Silakan."
"Kamu belanja sebanyak ini untuk apa?" Reza mulai heran.
"Tidak apa-apa. Untuk stok saja. Apa tidak boleh? Boros?"
"Tidak, kok. Terserah kamu. Beli saja apa pun yang kamu mau." Dia tersenyum. "Sebelum ke sini, kamu pergi ke mana saja tadi?"
Kena. Itu pertanyaan yang kutunggu-tunggu. "Aku ke sini mau belanja, bukan mau mengobrol."
Reza diam. Walau begitu dia berusaha semanis dan semesra mungkin kepadaku. Aku menyadarinya, tapi aku pura-pura -- biasa-biasa saja, aku tidak menolaknya dengan kasar. Misalnya, sewaktu aku hendak menggapai barang di rak yang tinggi, Reza mengangkat tubuhku hingga aku berhasil menggapai barang-barang itu. Padahal dia bisa mengambilkannya langsung tanpa harus mengangkatku. Kemudian, sewaktu aku membeli barang-barang yang banyak varian rasa atau aromanya, dia akan berkomentar yang A, tapi aku memilih yang B. Contohnya: sewaktu aku memilih pengharum ruangan, antara aroma jeruk atau aroma apel, Reza berkomentar supaya aku memilih aroma jeruk, tapi aku sengaja memilih aroma apel. Contoh lainnya ketika Reza haus dan membuka botol greentea kesukaannya, aku malah membuka botol air mineral. Dan terakhir, setiap kali dia berusaha menempel padaku, seperti saat ia menggenggam tanganku, merangkul pinggang atau pundakku, aku menghindar sehalus mungkin, seperti pura-pura mencari sesuatu di rak yang lain. Tentang semua itu -- aku bukan sedang menguji kesabarannya. Aku hanya ingin dia sadar bahwa aku bisa pergi kalau dia tidak menjaga perasaanku baik-baik.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sengaja mengajaknya untuk makan pecel lele di pinggir jalan, dengan alasan aku capek dan merasa tidak sanggup kalau harus memasak untuk makan malam, plus aku sudah lapar sebagai alasan tambahan. Kami pun mampir ke sebuah tenda dan makan di sana.
Sembari menunggu pesanan kami, Reza menjulurkan tangan kirinya di atas meja. Dia ingin menggenggam tanganku dan aku sengaja membiarkannya beberapa menit -- sebelum aku mengatakan beberapa hal yang sangat ingin kusampaikan, meski itu akan sedikit menyakiti hatinya.
Kupandangi tanganku yang ia genggam dan menggumamkan hal pertama yang ingin kukatakan padanya -- tanpa mengalihkan pandangan dari tanganku yang ia genggam. "Ingat tidak, pertama kali kita makan berdua di tenda seperti ini? Waktu itu tanganku sakit, dan itu karena trauma yang kamu alami. Sekarang, yang sakit hatiku, tapi penyebabnya sama, sama-sama karena trauma itu."
Halus seperti godam, ucapanku yang terang-terangan membuat kepalanya tersentak tegak, dan kulihat pipinya merah padam. "Maksudnya?"
Kutarik tanganku dan aku menatap matanya. "Aku tahu tentang trauma yang kamu pendam atas apa yang menimpa adikmu, Aruna."
Aku mengangguk. "Yap. Kamu tahu, Mas, aku berusaha mengalahkan traumaku demi cinta, demi impianku untuk bahagia bsrsamamu. Bisa kamu menghargai itu?"
Reza diam -- dia bingung harus memberikan jawaban apa kepadaku.
"Aku ingin kamu juga mengalahkan trauma-mu, demi cinta kita, demi rumah tangga kita, dan demi kebahagiaan kita. Bisa?"
Dia masih diam dan masih kebingungan.
__ADS_1
"Bukankah aku -- istrimu, lalu rumah tangga kita, dan kebahagiaan kita adalah prioritas utama? Bukannya Salsya. Iya, kan?"
Reza mengangguk. "Yeah. Aku mengerti maksudmu," katanya.
"Lalu? Kamu bisa, kan, benar-benar memutuskan hubunganmu dengan Salsya?"
Dia tidak menjawab lagi. Di saat bersamaan makanan pesanan kami datang.
"Ehm, aku akan memberikan kamu waktu sampai besok pagi untuk berpikir dan menentukan sikap. Oke?"
Ia mengangguk.
"Baiklah, lupakan dulu semuanya. Silakan makan."
Sebenarnya, aku juga tidak percaya aku berhasil mengatakan semua ini, tapi kuharap dengan segenap hatiku, ini akan membawa kami ke masa depan yang lebih jelas.
Demi masa depan.
__ADS_1