
Pada bulan yang disebut orang-orang sebagai awal musim penghujan, akhirnya kami kembali ke Jakarta. Reza dan aku sangat antusias untuk melihat sedikit perubahan di bagian rumah kami. Dan hasil renovasi itu benar-benar menakjubkan, sebab hasilnya sama persis seperti yang kubayangkan. Amazing. Aku berdiri di tengah-tengah ruang makan itu, dengan dua meja panjang berbahan kayu warna cokelat mengilap di sisi kanan dan kiriku. Masing-masing meja dikelilingi dua belas kursi minimalis yang tersusun rapi saling berhadapan. Tidak lupa, lampu hias menggantung dari langit-langit di atasnya. Aku senang, kami punya dua ruang makan, satu tempat lesehan di tepi kolam sesuai yang diidamkan Reza, dan satu ruang makan dengan meja besar dan banyak kursi seperti impianku selama ini.
Selain itu, bagian yang menarik perhatian adalah taman bungaku. Bunga-bunga itu sudah tumbuh dengan subur mewarnai pekarangan depan rumah kami. Sedangkan bagi Reza, yang ia rindukan tentulah ikan-ikan peliharaannya. Dia mengancam akan memotong gaji Erik seandainya ikan-ikannya tidak terurus apalagi sampai mati. Tidak, aku yakin itu hanyalah lelucon. Selain taman bunga, aku juga menanam banyak mawar di dalam pot-pot ukuran sedang dan kutaruh di sekeliling kolam ikan -- di pekarangan depan dan di pekarangan belakang rumah. Dengan jarak per satu meter, bunga-bungaku turut menghiasi seputaran kolam ikan itu. Dan yeah, aku meminta Reza menyiramnya setiap sore sekalian dia memberi ikan-ikannya makan. Dia bersedia, alasannya karena tugasku sebagai istri sudah terlalu banyak -- membereskan bagian-bagian dalam rumah. Dia tidak masalah jika ia harus mengurusi dan merawat bagian luar rumah. Apalagi dia merasa iba padaku yang mengalami mual-mual efek obat-obatan penyubur kandungan yang masuk ke tubuhku. Meskipun begitu, aku tidak merasa terbebani dengan program hamil yang kujalani, sebab Reza bisa memosisikan dirinya sebagai suami yang baik, yang siap mendampingiku melewati semua pahit dan manisnya ikhtiar yang kami jalani.
Sayangnya, semua kesempurnaan itu tidaklah cukup bagiku selagi aku belum bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Bulan kesembilan tahun Masehi yang identik dengan istilah September ceria, tidak seceria hatiku yang terus dihantui rasa takut. Keindahan yang menyegarkan mata seolah pupus begitu saja ketika siklus bulananku lagi-lagi menghancurkan harapanku. Aku sedih karena program hamil yang kujalani belum membuahkan hasil.
Hari kesembilan di bulan September pada tahun lalu, hari pertama siklus menstruasiku itu membuat aku menangis sedih di balik pintu kamar mandi. Ketika Reza mendengar suara tangisku, ia pun langsung mengetuk pintu dan langsung masuk karena aku tidak mengunci pintu itu.
"Sayang? Kamu kenapa?" tanyanya.
Kuhapus air mataku bersamaan dengan Reza yang merebahkanku ke dalam pelukannya. "Maaf," kataku. Kucoba melebur rasa kecewaku dengan memeluk erat tubuhnya.
Keningnya mengerut. "Maaf? Untuk apa?"
"Aku belum bisa memberimu anak. Aku... aku menstruasi lagi, Mas."
Reza mendesa* lega. "Kukira kenapa," katanya.
Kalimatnya itu seakan menggambarkan begitu entengnya masalahku, kenapa aku harus menangis dan menyikapinya dengan berlebihan? Tapi tetap saja, aku tidak bisa menanggapinya dengan bersikap biasa saja.
"Aku kecewa, Mas. Aku juga takut--"
Dia menggeleng. "Sudahlah, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Dengan atau tanpa anak, kita akan tetap bahagia," Reza berkata sambil mengelus kepalaku. Dan aku merasakan ketulusannya, entah kenapa aku yakin saat itu dia sama sekali tidak kecewa seperti yang kurasakan.
Sejenak kemudian, Reza melepas pelukannya dan memegangi bahuku. "Dengarkan aku," katanya. "Kita sudah berikhtiar. Kalau Tuhan belum memberi, apa yang bisa kita lakukan? Hmm? Apa harus memaksa-Nya? Tidak bisa, kan? Jadi, jalani saja dengan ikhlas dan tetap terus berusaha. Ya?"
Aku menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepala sambil menghapus air mata. "Terima kasih atas pengertianmu."
"Hei, jangan bilang seperti itu. Itu seolah-olah kamu bersalah. Aku tidak mau kamu mengucapkan kalimat seperti itu lagi. Kamu sama sekali tidak bersalah. Sudah takdirnya seperti ini. Belum rezeki kita."
Yang dikatakannya itu seratus persen benar. Tapi meskipun begitu, karena aku wanita, tentulah perasaan bersalah tidak bisa pergi begitu saja dari benakku. Terlebih...
Satu pekan berikutnya, siklus bulananku sudah selesai. Semangatku baru saja membaik, tapi tiba-tiba Mayra meneleponku.
__ADS_1
"Hai, Ra. Apa kabar?"
"Baik. Kamu?"
"Aku... baik. Emm... Ra, omong-omong... boleh tidak aku ke sana? Maksudku, boleh aku menginap di rumahmu?"
Ada sesuatu yang tidak beres, pikirku. Tapi nanti saja kutanyakan. "Boleh, dong. Dengan senang hati. Kapan rencanamu datang ke sini?"
"Nanti sore. Terima kasih sebelumnya, Ra." Mayra langsung menutup telepon tanpa basa-basi, dan giliran aku yang kebingungan.
Setelah menerima telepon itu, aku langsung menelepon Reza, walau bagaimanapun juga, aku harus meminta izin dulu pada suamiku meski aku sudah mengiyakan permintaan Mayra, dan meski aku juga tahu Reza pasti mengizinkan. Dan sesuai harapan, Reza bilang iya.
Setelah beberapa jam berlalu, langit senja nampak indah menghiasi langit Jakarta. Tapi sayang, aku melihat kesedihan di wajah Mayra dengan koper besar di tangannya. Aku menyuruhnya masuk. Tirta yang belum mengerti kesedihan yang disembunyikan oleh ibunya itu langsung menyelonong masuk dan minta dibukakan pintu belakang, dia ingin berenang di kolam.
"Temani, Tirta," kataku. "Nanti aku menyusul."
Mayra mengangguk dan langsung mengawasi anaknya yang asyik berenang, dan ia duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Semuanya baik-baik saja, May?"
"Hmm, jangan pernah berakting, ya. Jelek sekali."
Ini menghasilkan senyum yang lebih tulus. "Maaf. Aku sedang menghabiskan terlalu banyak waktu di benakku sendiri saat ini, itu saja."
"Mau membicarakannya?"
Mayra terkejut, dia beringsut untuk memandangiku. "Kamu yakin? Tapi... kurasa tidak usah."
"Ayolah, May. Kita bersahabat dan sudah seperti saudari sendiri."
Sekali lagi, dia memaksakan senyum. "Terima kasih. Aku tidak terlalu bisa menjelaskan sebabnya, tapi...," Mayra mengedikkan bahu, "Dinda sudah melahirkan."
Hatiku tersentak. Aku tidak perlu penjabaran lebih lanjut untuk mengerti bagaimana perasaannya sekarang.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa perasaanku selalu seperti ini. Jujur, aku tidak pernah ikut atau menemuinya saat dia lahiran. Aku takut kalau aku tidak akan sanggup melihat kebahagiaan suamiku dan istrinya. Aku juga tidak ingin membuat suamiku canggung dengan kehadiranku. Justru kurasa dia akan lebih baik tanpa aku di sana. Dia bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan lepas, ya kan?"
Aku mengangguk. Kuyakinkan dia kalau keputusannya itu yang terbaik, kalau dia tidak sanggup, tentu saja jangan dipaksakan. Aku pun kalau berada di posisinya, tentu akan bersikap sama. Tapi sejujurnya, lebih jauh dari itu -- aku tidak punya jawaban.
"Aku minta maaf, ya? Aku ke sini tidak bermaksud untuk berbagi kesedihan, apalagi membuat kisahku ini menjadi beban untuk pikiranmu. Aku hanya butuh teman untuk melewati beberapa hari ke depan, sampai Alfi pulang ke rumah. Kalau tidak ke sini, aku tidak tahu harus ke mana dan menemui siapa. Aku...."
Aku tahu lanjutan kalimatnya yang tercekat itu. "Tidak apa-apa, May. Sudah sepantasnya aku ada di saat kamu membutuhkan teman."
Kendati sebenarnya kisahnya itu memberikan beban tersendiri di pikiranku, membuatku takut bagaimana kalau aku mengalami hal yang sama. Selebihnya, kehadiran Mayra tidak mengganggu dan tidak membuatku risih. Tidak ada pemikiran-pemikiran bagaimana kalau dia dan Reza akan mengalami percikan-percikan api cinta di hati mereka seandainya mereka setiap hari bertemu seperti dalam film-film FTV atau dalam drama korea. Sebab aku yakin sepenuhnya pada persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak kecil, bahkan mereka seperti adik dan kakak kandung. Satu-satunya yang membuatku agak serba salah adalah: aku harus sembunyi-sembunyi dalam setiap hal tentang program hamilku, termasuk minum susu. Terpaksa aku menyiapkan dan minum susu itu di kamar. Selain itu, kehadiran Mayra cukup membantu meringankan pekerjaan rumahku. Selama satu minggu, tidak sekali pun ia membiarkan aku sibuk sendiri, kecuali di saat Tirta rewel dan butuh diemong.
Setelah satu minggu menginap, Alfi datang menjemput mereka. Saat itu, aku memilih untuk menghindar dan pura-pura sibuk beberes bekas kami makan malam. Aku hanya bertemu Alfi pada saat mereka hendak berpamitan. Entah kenapa, aku takut pikiranku akan terganggu kalau aku bertemu dengannya, aku takut setelah melihat Alfi, aku akan melihat hal yang sama dalam diri Reza. Meski sebenarnya itu hanya ketakutanku saja.
"Terima kasih atas pengertianmu menerima keluargaku," kata Reza. "Aku tahu kalau sebenarnya hatimu menyimpan beban."
Dia terlalu mengenalku. Serapat apa pun aku menyembunyikan perasaanku, ia akan selalu tahu.
Aku mengangguk. "Tidak usah dibahas," kataku.
"Baiklah. Kalau begitu, kita langsung istirahat, ya."
Kami pun ke kamar dan Reza langsung naik ke tempat tidur, sementara aku masuk ke ruang ganti. Kulepas bajuku dan berganti lingerie.
Reza terkejut saat melihatku keluar dengan lingerie merah menyala. "Aku dalam masa subur. Bisa kita...."
Dia turun dari ranjang dan menghampiriku. "Sayang, aku tidak suka melihatmu terbeban seperti ini."
"Aku mohon. Demi kita. Ini akan membuatku merasa lebih baik."
Reza mengangguk meski agak berat, entah karena terpaksa atau apa. Sedangkan aku, entah kenapa kali ini aku merasa gugup, rasanya aneh meminta hakku dengan cara memohon. Padahal ini demi mendapatkan seorang anak, bukan semata-mata karena hasrat dalam diriku.
"Rileks saja," tegurnya saat aku gemetar membuka kancing-kancing bajunya.
Dan itu menghasilkan senyuman. "Kamu buka sendiri, ya," kataku.
__ADS_1
"Nope. Aku ingin melihat, bagaimana caramu membuatku bergairah," Reza berbisik sambil menelusurkan jarinya dari pipi hingga ke leherku. "Aku ingin kali ini kamu melakukannya untukku. Please... buatlah aku senang."
Ya ampun, pipiku merona. Dia membuatku tersipu.