
Keesokan harinya, Reza datang dengan mengejutkan. Dia tidak mengabarkan kalau dia dalam perjalanan ke Palembang. Tahu-tahu, dia mengetuk pintu ruang rawat ibuku. Aku yang sigap mengira kalau yang datang adalah perawat atau tenaga medis lainnya -- segera berdiri. Tapi ketika aku membuka pintu...
"Surprise...."
Aku langsung melompat ke pelukannya. Suamiku datang.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu sudah di jalan menuju ke sini?" celotehku dengan manja.
"Kan surprise," Reza berkata sambil menghampiri ibuku dan menciumi tangannya.
"Yeah, surprise sekali. Benar-benar kejutan yang manis. Terima kasih, Masku Sayang. Aku juga punya sesuatu untukmu."
Ini waktunya, kejutan yang lebih manis.
"O ya? Apa?" tanya Reza.
"Pejamkan matamu."
"Oke. Sebentar, Bund," katanya permisi pada ibuku, karena dia harus meladeniku dulu. Istrinya yang bawel.
Reza pun menuruti permintaanku, dia langsung memejamkan mata. Dan kuberi dia sebuah ciuman di pipi.
__ADS_1
"Sebuah ciuman? Hanya itu?"
"Yeah. Surprise, kan?"
"Ya, ya, ya. Surprise sekali. Terima kasih, Sayang." Ekspresinya kecut dan aku tergelak.
Kuambil kotak makanan yang kosong -- di mana aku menaruh testpack-ku ke dalam kotak itu. "Ini, sarapan dulu, kamu pasti lapar, kan?"
"Trims." Reza langsung menyambut dan membukanya.
Dan...
Aku tidak bisa menceritakan bagaimana ekspresi bahagianya saat itu, pun ibuku, mereka tersenyum bahagia, tapi mata mereka berkaca, dengan ekspresi menyiratkan ketidakpercayaan juga rasa syukur yang membuncah. Ada rasa bingung dalam kebahagiaan. "Kamu...?" kata Reza tanpa bisa melanjutkan kata-katanya.
Wow! Dia menyambarku dengan pelukan erat seraya menggendongku. "Ini serius, kan?" tanyanya.
Aku mengangguk-angguk dengan tawa tanpa suara. Lalu ia menurunkan aku dan menghujaniku dengan kecupan. "Terima kasih. Aku bahagia," katanya. "Aku tidak menyangka, hal ini... pokonya ini sungguh-sungguh luar biasa." Dia langsung memanjatkan doa.
"Kalau ini, kamu sebut apa?" Kusodorkan hasil cetak foto USG-ku padanya.
Reza mengamati-amatinya, membaca data-datanya, tapi dia tidak mengerti. Dia hanya tersenyum bahagia memandangi secarik kertas foto di tangannya itu. "Terima kasih, Sayang."
__ADS_1
"Kamu tidak mengerti, ya?" tanyaku. Kuraih tangannya dan kutaruh di perutku. "Janin di rahimku kembar."
Matanya melebar, efek senang bercampur rasa tidak percaya edisi kedua. "Kamu serius? Kembar? Anak kita... kembar, Sayang?"
"Mmm-hmm...."
"Serius?"
"Iya... aku serius. Calon anak kita kembar."
Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Kebahagiaan menguasai hati dan pikirannya. Dia langsung memanjatkan doa kedua sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Setelah itu, dia kembali menghujaniku kecupan sambil memelukku dengan sangat erat. Lupa kalau di situ ada mertuanya yang sedang sakit.
Sejak hari itu, hari-hariku diliputi kebahagiaan. Ucapan-ucapan selamat tak hentinya datang dari keluarga besarku, juga dari ayahku. Katanya dia ikut bahagia untukku.
Setelah keluar dari rumah sakit, ibuku ikut pulang ke Jakarta, ikut tinggal bersama kami. Sesuai keinginannya, ia ingin membantu meringankan pekerjaan-pekerjaanku. Pun Reza, dia mulai posesif dan melarangku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat. Dia tidak mau aku sampai kelelahan. Dan yang paling wow, dia selalu antusias mengajakku untuk USG. Kebahagiaannya tak terkira sewaktu pertama kali ia mendengar detak jantung anak-anaknya, jantungnya pun berdegup dengan kencang, katanya. Dia juga selalu menanyaiku aku kepingin apa. Hah! Dia menunggu masa-masa aku mengidam.
"Aku tidak kepingin apa-apa, Mas. Tidak kepingin makan apa pun. Pokoknya apa pun yang ada pasti kumakan," cerocosku. Kupeluk ia dari belakang dan aku bersandar di punggungnya. "Yang penting perhatianmu, dan kamu selalu menemaniku melewati masa-masa tidak nyaman. Aku senang saat kamu sigap mengusap minyak kayu putih saat aku mual. Aku suka dibelai-belai dan dielus-elus setiap hari. Meski hanya perhatian kecil, tapi itu membuat segalanya terasa lebih baik. Terima kasih."
Senyumnya yang hangat pun seketika mengembang. "Aku akan selalu ada untukmu," katanya.
Aku diam sejenak. "Emm, tapi ada tapinya. Aku mau melihat tubuh sixpack-mu. Mau kufoto, terus mau kucetak dan kubingkai besar-besar." Aku nyengir.
__ADS_1
Dahi suamiku itu langsung mengernyit. Seolah berkata, "Sejak hamil, kok istriku ganjen sekali?"
Haha! Kuakui itu benar. Aku tidak kepingin makanan yang aneh-aneh. Tapi tingkahku yang aneh. Atau sebenarnya hanya memanfaatkan kesempatan?