
Menjadi seorang pasien yang harus terbaring di ranjang rumah sakit sungguh membuatku jengah. Padahal, sewaktu Reza sakit dulu, aku betah-betah saja tinggal di ruang rawat itu bersamanya. Tapi sekarang aku malah bosan setengah mati. Sempat terbesit pemikiran di benakku: mungkin dulu karena kami belum menikah, sementara setelah menikah -- kebosanan itu mulai terasa.
Tidak. Tidak. Tidak mungkin seperti itu. Kuenyahkan segera pikiran aneh itu dari benakku. Ini karena sekarang akulah yang menjadi pasien dan akulah yang dilarang melakukan apa pun selain terbaring karena dianggap dalam kondisi lemah.
Lain aku -- lain pula dengan Reza, dia justru memanfaatkan keadaan itu dengan sebaik mungkin. Seperti tawanan yang terbebas dari kurungan, dia memanfaatkan keadaan itu untuk menikmati segala hal yang bisa ia dapatkan dari luar, misalnya menikmati fasilitas yang serba online seperti delivery order makanan. Dengan sesuka hati dia memesan semua yang ia inginkan, semua yang ia kepingin yang tidak bisa kami lakukan dari rumah. Terutama pizza dan burger, dia memesan makanan itu beberapa kali. Dan tiap kali dia memesan makanan itu, akulah yang paling banyak menghabiskannya. Rasanya menyenangkan bisa memesan makanan dari luar tanpa harus khawatir ada yang mengintai ketika kita membuka pintu.
"Omong-omong, kamu sudah menyukai mayones?"
Aku menggeleng. "Tidak," kataku. "Tidak pakai mayones, kan?"
Reza mengedikkan bahu. "Itu berarti anak-anakku juga doyan mayones."
Hah! Tawaku langsung pecah. "Bisa begitu? Menurutku ini memang tanpa mayones. Kamu mengada-ada, kan?"
Dia tertawa kecil. "Nikmati saja, Sayang," katanya. "Enak, kan?"
__ADS_1
"Enak. Aku malah doyan."
Melihat Reza yang cengar-cengir, aku jadi curiga kalau memang ada mayones di pizza dan burger itu. Tapi masa iya karena anak-anakku suka aku jadi tidak mual? Ah, aku tidak mau membahas itu. Intinya aku senang karena aku bisa bebas memakan apa pun yang Reza makan. Tetapi...
Aku tidak suka bagian ketika aku harus tidur terpisah dengannya. Belum genap satu minggu tidur seranjang, kami malah harus terpisah ranjang lagi. "Bagaimana rasanya menemani pasien di rumah sakit?" tanyaku malam itu saat Reza sudah berbaring di sofa dengan sebuah bantal di pelukannya. Dia sedang santai sambil menonton televisi.
"Menyenangkan."
"O ya?"
"Kamu tidak bosan?"
Dia tersenyum. "Di mana pun, asal ada kamu dan bersamamu, akan selalu menyenangkan."
Jiaaaah....
__ADS_1
"Kamu masih ingat dengan kalimat itu, Mas?" Aku tersenyum senang.
"Tidak akan pernah lupa, Sayang," katanya. "Kamu tahu, ini jauh lebih baik daripada tinggal di rumah besar, tapi tanpamu. Batinku tersiksa."
"Yah, kamu benar. Batinku juga tersiksa, sama tersiksanya seperti sekarang ini, tidur tanpa pelukan hangat suamiku."
Ckckck!
Reza langsung tersenyum dan mematikan televisi. Tanpa komentar, ia langsung bangkit dan berbaring di sampingku. Dan dengan penuh kehangatan, dia mencium dan memelukku sepanjang malam. "Selamat tidur, Sayang. Mimpi yang indah."
Uuuuuh... manisnya. Dia membuat hari-hari berikutnya menjadi lebih menyenangkan, hingga aku merasa betah meski harus terkurung di ruangan rumah sakit tanpa keluar sama sekali. Dan, tanpa terasa, tiba juga waktunya dokter mengizinkanku untuk pulang.
"Kita akan tinggal di mes untuk sementara waktu sampai kondisimu benar-benar membaik. Maksudku -- sampai kamu benar-benar sehat."
Hah?
__ADS_1
"Kok...?"