
Di sepanjang perjalanan pulang, kami tidak bicara sama sekali, begitu pula setibanya kami di rumah, aku tidak bicara sepatah kata pun kendati Reza berusaha mengajakku bicara. Dia mencoba segala cara untuk mendapatkan maafku, termasuk dengan mencium bibirku, bahkan dia membawaku ke ranjang, menjamahku seperti biasanya. Aku tidak menolak, tidak melawan, tapi juga tidak merespons. Kubiarkan saja dia melancarkan aksinya yang tak sesuai harapan. Kendati desaha* dan eranga* tetap lolos dari bibirku meski aku berusaha manahannya. Itu terjadi begitu saja. Mau bagaimana? Namanya juga bercinta tanpa perlawanan, ya kan?
"Jangan ajak aku bicara dulu. Itu saja yang kuminta hari ini. Tolong? Bisa, kan?"
Dia tidak punya pilihan selain menyetujui dan menuruti mauku. Itu lebih baik.
Hari itu kami tidak jadi ke rumah Alfi. Sebagai gantinya, mereka yang bertandang ke rumah kami. Alfi, Mayra, beserta Tirta. Dan selang beberapa belas menit berikutnya, Erik juga datang berkunjung. Aku yang tidak ingin bersikap buruk di depan tamu berusaha memaksakan diri untuk bersikap senormal mungkin. Kami pun saling bermaaf-maafan satu sama lain.
Sambil membuka makanan yang dibawakan Mayra, kami bercengkerama di dapur. Rupa-rupanya Reza tidak bisa menjaga mulutnya. Dia sudah menceritakan huru-hara di pemakaman tadi pada dua sahabatnya itu.
"Sudahlah, May. Aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu. Aku lelah di sini," kataku sembari menaruh telapak tangan di dada.
Mayra mengangguk. "Keluargamu sudah tahu?"
Aku menggeleng. "Aku tidak ingin merusak suasana hari kemenangan yang mereka rasakan. Biar saja, aku menahan dan merasakan sakitnya sendiri." Kuusap air mata yang kembali menetes. "Aku kalah. Dan naasnya, kalah di hari kemenangan."
__ADS_1
Tiba-tiba Mayra mengelus perutku. Dia tersenyum. "Kamu yang akan menjadi pemenangnya."
"Semoga. Jika ada keajaiban."
"Bersabarlah. Harapanmu pasti akan menjadi kenyataan."
"Aamiin. Meski mungkin aku sudah tidak mau, tapi hati kecilku sepertinya masih menaruh harapan."
"Aamiin," sahutnya. "Omong-omong, kamu masak apa? Ada masakan khas Palembang, tidak?"
Aku menggeleng. Aku tidak masak apa-apa karena aku belum percaya diri memasak hidangan lebaran sendiri. Tetapi, aku ikut masak di rumah bibiku kemarin, juga ikut menyumbang uang untuk membeli bahan makanan. Jadi, aku mendapatkan jatah makanan untuk kubawa pulang. Dan menghidangkannya untuk para tamu yang berkunjung ke rumah kami hari ini.
Well, hari berlanjut dan malam pun datang. Rumah kami kembali hening setelah semua tamu pamit undur diri dan pulang ke rumah masing-masing. Dan, kemudian...
》Za, kita perlu bicara. Aku ke sana, ya. Malam ini, jam 7. Tolong kamu jangan ke mana-mana.
__ADS_1
Aku tidak sengaja melihat notification chatting itu di layar ponsel suamiku sekitar jam enam sore tadi. Aku langsung membukanya dan menghapusnya. Itu pesan dari Salsya.
Yap, itu bagus. Karena aku juga perlu bicara dengannya. Empat mata.
Aku tahu, Reza tidak akan pernah membicarakan dan membahas hal serius itu kepada Salsya -- tentang: tidak akan ada pernikahan antara mereka berdua. Dan, aku juga tahu, Reza tidak akan membiarkan aku untuk bicara berdua dengan Salsya. Sebab itu, terbesit ide di kepalaku untuk membuat Reza keluar dari rumah jam tujuh nanti, sebelum Salsya datang.
Tepat jam 18.45 WIB, aku meminta Reza untuk keluar dan membelikan beberapa jenis makanan untukku. Kukatakan padanya aku kepingin nasi goreng kaki lima ekstra pedas, sate padang, sate kambing, pizza, burger, plus donat topping random dan harus banyak cokelat, kacang, serta keju. Dengan antusias Reza mengiyakan. Seperti biasa, setiap makanan yang kuinginkan -- baginya -- itu adalah ngidam yang wajib ia penuhi tanpa bantah. Dan aku tahu benar, semua yang kupesan itu cukup memakan waktu untuk ia berkeliling malam itu. Yap, dia memang ingin memesan semua itu via aplikasi delivery order, tetapi aku memintanya untuk membeli semua makanan itu sendiri. Aku tidak ingin ada kesalahan, kataku.
"Daripada nasi gorengnya tidak pedas, atau pizza dan burger pesananku dikasih mayones, atau satenya bukan kambing, nanti malah tidak pakai lontong, bagaimana?"
Reza tersenyum semringah. Dia merasa itu berarti aku sudah memberikan sinyal untuk kami berbaikan. "Tapi kamu ikut, ya. Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian di rumah."
Aku menggeleng. "Aku malas. Aku ingin santai dan menunggumu menunjukkan itikad baik. Belikan pesananku tanpa kurang satu pun. Oke?"
"Siap, Nyonya." Dia meraih kunci mobil dan segera menuju pintu keluar. "Kamu jangan ke mana-mana, ya. Jangan lupa kunci pintu."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, lalu menutup pintu supaya Reza langsung pergi. Dan, dia tidak tahu kalau aku sudah menukar ponselnya dengan ponsel satunya yang tidak terpakai, yang biasanya kupakai untuk bermain game.
Aku lega akhirnya ia pergi. Dan kemudian...