Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Sosok Yang Pernah Hilang


__ADS_3

Tok! Tok!


Ihsan melepaskan pelukannya dan beranjak ke pintu. Ada tamu. "Siapa?" tanyaku karena Ihsan tidak langsung mempersilakannya masuk.


"Ayah boleh masuk, Nak?"


"Oh, mmm... oke. Masuklah."


"Terima kasih."


Ayahku datang bersama Rizki, mereka langsung masuk setelah aku mengiyakan. Sedangkan Ihsan yang masih tak menyukai kehadirannya memilih menunggu di luar. Di susul oleh ibuku.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Masih sakit?" tanyanya sembari berjalan menghampiriku.


Aku menggeleng sedikit. "Sudah mendingan," kataku.


"Kandunganmu baik-baik saja, kan?"


"Emm, ya."


"Syukurlah," ayahku dan Rizki berkata kompak.


Aku mengangguk. "Mmm... omong-omong, bukan, maksudku... ada yang ingin kutanyakan."


"Oh, apa itu, Sayang?"

__ADS_1


"Soal... kejadian semalam. Aku...."


"Kenapa?"


"Semalam kan... aku berusaha melawan, maksudku aku berusaha untuk menyalamatkan diriku sendiri dan demi anak-anakku -- aku berusaha melumpuhkan Salsya. Apa polisi akan menganggap itu sebagai penganiayaan? Apa itu... akan dianggap salah satu penyebab kematian Salsya?"


Ayahku bergeser lebih dekat, lalu menggenggam tanganku. "Polisi tidak sepicik itu, Sayang. Lagipula kameramu sudah ditemukan. Dalam rekaman itu jelas Salsya yang bersalah, dia sengaja membawa senjata dan ingin menyerangmu. Jadi mengenai seranganmu untuk membela diri, Ayah pastikan itu tidak akan membuatmu terseret dalam kasus ini. Salsya tewas karena luka tusuk, dan di pisau itu tidak ada sidik jarimu."


"Jadi, aku tidak akan dituduh dan jadi tersangka, ya kan?"


Ayahku diam sesaat. Ada kebingungan dalam *esahannya yang berat. "Untuk sekarang belum. Tapi butuh waktu yang panjang untuk mengusut kasus ini. Posisimu fifty-fifty, belum ada bukti yang menunjukkan kalau kamu pingsan lebih dulu sebelum pembunuhan, dan belum ada bukti bahwa ada pihak ketiga yang melakukan pembunuhan itu."


"Tapi bukan aku yang menusuknya...."


"Lalu, bagaimana?"


"Kita perlu bukti kalau memang ada pihak ketiga, kalau bisa kita harus menemukannya."


Ya Tuhan, aku tercengang. "Kalau tidak? Apakah kesalahan itu akan dilimpahkan kepadaku?"


"Kita akan berjuang sama-sama."


"Iya atau tidak?"


"Sayang, jangan takut. Kalau pihak berwajib tidak ada bukti untuk menyatakan kamu tidak bersalah, kita juga akan menuntut mereka untuk memberikan bukti yang menyatakan kalau kamu bersalah. Jika perlu kita melawan hukum kalau kesalahan ini dilimpahkan padamu. Jangan takut, oke?"

__ADS_1


Aku menggeleng-gelengkan kepala tidak jelas. Seolah aku sudah dijatuhi hukuman dan dinyatakan sebagai terdakwa.


"Jangan takut, Dik. Di TKP tidak ditemukan obat bius. Dan Salsya dinyatakan tewas karena tertusuk benda tajam. Juga, dalam barang bukti video dinyatakan Salsya yang berusaha lebih dulu menyerangmu, dia yang membawa senjata dan tidak ditemukan sidik jarimu di sana. Juga tidak ada saksi mata yang akan memberatkanmu. Kita masih punya kemungkinan yang cukup kuat untuk membuktikan kalau kamu tidak bersalah."


Cukup kuat, bukan sangat kuat. Tapi apa pun itu, aku yakin dan aku merasa masih ada kewarasan dalam diriku, BUKAN AKU. Bukan aku yang membunuh Salsya.


"Ayah akan mengusahakan segala cara untuk membebaskanmu dari tuduhan seandainya tuduhan ini dilimpahkan padamu. Jika perlu Ayah akan meminta bantuan semua teman-teman Ayah untuk membelamu."


Rizki mengangguk. "Kakak juga," katanya. "Teman-teman Kakak juga pasti mau membantumu. Tetapi semoga apa yang kita pikirkan itu tidak terjadi. Semoga masalah ini akan selesai seperti yang kita harapkan."


Lumayan. Meski masih abu-abu. Setidaknya aku memiliki orang-orang yang akan menemani dan mendukungku. "Terima kasih, kalian bersedia membantuku."


"Tentu, Sayang," kata ayahku.


"Kita keluarga," Rizki menimpali.


"Sayang, Ayah ingin memelukmu. Boleh, Nak?"


Aku mengangguk. Waktu, tempat, suasana, dan keadaan -- tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya.


Ayahku memelukku -- dengan erat. Dia juga menghujani kening dan kepalaku dengan ciuman. "Jangan takut, ya. Ada Ayah. Ayah akan melindungimu."


Di saat itu aku langsung membalas pelukannya. Bayangan masa kecilku bermunculan, belasan tahun lalu, di saat anak-anak yang bermain denganku menangis karena takut pada gonggongan anjing, lalu ayahnya datang menyelamatkannya dan membuat si anjing pergi. Sosok pahlawan yang menyelamatkan dan menenangkan. "Jangan takut, ya. Ada Ayah. Ayah akan melindungimu," kata ayahnya sambil memeluk putri kecilnya. Persis yang baru saja diucapkan oleh ayahku.


Aku sangat menginginkan pelukan dan perlakuan seperti ini. Bahkan sejak aku kecil.

__ADS_1


__ADS_2