
Karena mempertimbangkan banyak hal, kami sekeluarga tidak mudik pada lebaran tahun ini. Salah satunya karena ibuku tidak tega membiarkan Ihsan sendirian lagi di Jakarta. Pemberlakuan larangan mudik menjelang lebaran dan pencekatan kendaraan ketika arus balik masih diberlakukan pada tahun ini. Masih karena wabah COVID-19. Jadi kami memilih untuk tidak pulang ke Palembang.
Bibiku dan anak-anaknya yang tidak pernah mudik pada hari lebaran, tahun ini mengundang kami semua untuk merayakan hari kemenangan bersama mereka di Bogor. Suami bibiku bekerja di perusahaan kereta api. Dalam pekerjaannya, sebagai karyawan ia tidak diperbolehkan untuk mengambil cuti di hari-hari khusus seperti pada momen lebaran, sebab itu keluarga mereka tidak pernah mudik di saat para perantau berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Menurut ibuku itu ide yang bagus. Kami semua bisa berangkat ke Bogor menjelang hari lebaran, dan segara kembali ke Jakarta saat Ihsan sudah waktunya kembali bekerja. Jadi, kami pun sepakat untuk memenuhi undangan dari keluarga bibiku.
Sayangnya, hubungan Ihsan dan Reza yang sudah tidak harmonis membuat Ihsan menolak ikut ke Bogor. Dia tidak mau tinggal di rumah Reza. Kecuali jika dia dan ibuku menginap di rumah bibiku, barulah dia mau ikut, dan itu pun jika bibiku memperkenankan dia mengajak Aarin bersamanya. Gadis perantau yang juga tidak pernah mudik ke kampung halaman.
Tapi itu justru bagus, sebab aku dan Reza butuh waktu untuk kami berdua: mengenang malam pertama kami, malam pada tanggal 14 Mei. Jadi kami berdua pun pulang ke rumah peninggalan orang tua suamiku itu. Sementara ibuku, Ihsan, dan Aarin menginap di rumah bibiku.
__ADS_1
Memang, harusnya dua hari lagi kami merayakan malam 14 Mei ini. Berhubung kami tidak tahu besok akan ke mana saja, pulang jam berapa, dan seberapa capek, dan tidak tahu apakah kami masih bisa berduaan atau justru akan ikut menginap, jadi kami sepakat untuk berduaan malam ini. Yap, hanya berduaan, sebab mbok Tin juga pulang kampung. Tidak seperti 14 April bulan lalu yang harus memakai gaun pengantin, malam ini aku hanya memakai gaun tidurku yang tipis dan terawang. Ini malam khusus, boleh dong tampil beda di depan suami? Aku terkikik melihat diriku sendiri.
"Jadi, apa agenda kita malam ini?" tanyaku, begitu aku keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian. Aku sengaja duduk di pangkuan suamiku, dia sudah duduk santai di atas tempat tidur. Lalu...
Belum apa-apa dia sudah melepas tali gaunku yang baru saja terikat hingga sebelah pundakku sudah terekspose. Tanpa peduli pada hal lain, ia mulai mencumbui leher, pundak, punggung, hingga dadaku. "Main dulu sekali, ya? Sebentar. Aku sangat tergoda melihatmu seperti ini," katanya dengan nada-nada sensua* di telinga.
Tapi sebentar apanya?
__ADS_1
Reza sengaja berlama-lama menikmati momen manis ini bersamaku. Menikmati tubuh istrinya yang semakin hari semakin seksi -- berkat kedua anaknya yang semakin membesar di dalam perutku.
"Ayo, mumpung anak-anak sedang terlelap."
Reza tertawa sampai terkekeh. "Well," katanya, "sekarang giliran papanya. Mama Cantik mesti menidurkan sesuatu yang sudah terbangun."
Ah, dasar. Dia yang terbangun, aku yang mesti menidurkan.
__ADS_1
Hasrat cintanya sungguh tak pernah padam.