
Kecupan demi kecupan menghujaniku pagi ini, membuatku terbangun dari tidurku yang lelap. Dan senyuman manis nan hangat pun langsung menyambutku saat aku membuka mata.
Pagi yang indah. Tubuhku pun sudah kembali segar. Semalam aku bisa tidur dengan nyenyak, bahkan aku tidak terbangun sama sekali seperti malam-malam sebelumnya. Kendati demikian, Reza melarangku beraktifitas sehingga kami -- sedikit -- berdebat.
"Kamu over protektif," kataku yang kemudian manyun.
"Sayang... bisa tidak jadi istri penurut? Kamu itu aneh, dikasih enak kok tidak mau?"
"Aku sudah sehat, Mas. Please... Nara mohon... ya? Aku juga butuh bergerak."
Dia menggeleng, wajahnya terlihat sebal. "Hmm... kamu tu, ya...."
"Atau begini, aku hanya mengurus urusan dapur, masak, cuci piring, plus cuci pakaian juga, ding. Selebihnya kita kerjakan sama-sama. Eh, maksudku terserah kamu. Ya?"
Kena cium. Sebal dengan mulutku yang terus bawel -- dia pun menciumku dengan kasar dan sangat lama, sampai aku merasa engap.
"Boleh, kan? Aku masak untuk kita lo, Mas. Untuk kamu, untuk anak-anak. Boleh, ya?"
Akhirnya suamiku itu mengangguk, dia mau mengalah dan menurunkan level protektifnya terhadapku. "Hari ini cuma masak. Kemarin kamu sudah mencuci pakaian, kan?"
"Iya, oke. Kamu mau sarapan apa?"
Omelet. Dan siangnya dia minta dimasakkan pindang pegagan.
Benar-benar, ya, dia. Tidak mau aku kelelahan, dia rela makan makanan yang gampang dimasak. Dia tidak mau merepotkanku dengan masakan-masakan yang ribet. Jadi aku bisa menyelesaikan masakanku dengan cepat. Apalagi pindang, tidak masalah aku memasaknya pagi hari, nanti tinggal kupanaskan saat menjelang jam makan siang. Pun Reza, dia sudah membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah. Bersih-bersih, menyapu lantai, dan membersihkan halaman belakang. Kendati rumah kami cukup besar, tidak banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, sebab itulah aku tidak suka memajang hiasan-hiasan di rumah, aku tidak mau ribet membersihkan semua itu dari debu dan sarang-sarang serangga. Sementara untuk gudang dan perabotan-perabotan di dalamnya, juga ruang galeri, roof top, plus panggung band dan alat-alat musiknya, hanya kami bersihkan sekali seminggu. Sedangkan kamar-kamar yang tidak ditempati itu jarang sekali dibersihkan, paling sebulan sekali, dan perabotan-perabotan di dalamnya hanya di tutup dengan kain hitam supaya tidak kotor.
Lantas, kenapa Reza begitu protektif? Karena dia pikir aku kelelahan karena pekerjaan rumah. Padahal...
Hmm, aku akan jujur padanya, meminta maaf, dan berterima kasih untuk segala bentuk cinta dan kepeduliannya selama ini, terutama kepeduliannya yang berlebih sejak semalam.
Hari ini, setelah selesai masak, aku sengaja menyetel lagu Hindi dari flashdrive yang diberikan Aarin dulu. Kemudian membuatkan jus mangga untuk Reza, lalu merekamnya -- beserta diriku dan tubuh seksiku. Aku sengaja memakai baju renangku, pemberian dari Mayra. Dengan model backless yang mengekspose seluruh bagian belakang tubuhku dari atas hingga ke pinggang, dan bagian depannya yang berleher rendah, dengan model tali-ikat yang tersalung ke leher, sementara bagian bawahnya hanya beberapa senti menutupi paha -- tanpa dalaman.
《Just for you. Thanks for last night.
Kutulis kalimat itu sewaktu mengirimkan videoku ke whatsapp-nya. Aku sengaja menaruh gelas jus itu di pinggir kolam -- plus kejutan kecil, suplemen stamina untuknya.
__ADS_1
Sembari menunggunya masuk, aku langsung berenang. Saat itu Reza sedang membersihkan daun-daun pisang yang sudah menguning di pekarangan belakang, lalu membuangnya.
Tidak butuh waktu lama, hanya selang beberapa menit -- Reza pun muncul dengan tubuh kekarnya. Dia bukan seseorang yang akan mengabaikan ponselnya ketika benda persegi itu bergetar-getar di dalam saku celananya.
Yap. Dia nyengir lebar begitu melihatku, istrinya yang rada-rada... suka-sukamu sajalah mau menyebutku apa. Yang pasti, dia -- suamiku -- Reza Dinata -- suka sekali kalau kuajak menggila. Dengan cepat ia menyambar suplemen itu dan menenggaknya. Kendati aku tidak melihat ketika dia melepas pakaiannya dan menyampirkannya ke ayunan rotanku, tapi aku merasakan ketika dia melompat ke kolam, ceburan tubuhnya ke dalam air menghasilkan dentuman, gelombang dan percikan air yang menyembur kuat. Dia berenang menghampiriku, dan langsung mencium bibirku ketika dia mendapatkanku dalam pelukannya.
"Kamu menginginkannya?"
"Mmm-hmm...."
"Tidak takut kelelahan?"
"Kan ada kamu."
Senyuman hangat pun langsung mengembang di wajahnya. Di lahapnya bibirku sekali lagi, lalu mengangkat dan menggendongku seperti koala kesayangan. Kami menepi, dia mendudukkanku di pinggir kolam. Sambil mencumbui leherku, Reza menarik tali pengikat baju renangku. Dan, terlepas.
"Are you ready?"
Uuuuuh... suaranya menggelitik di telinga. Pun kedua tangannya sudah berpaut di leher dan pinggangku. "Mmm-hmm. Give me more, please...."
Eummmmm....
*sapannya di leherku tak pernah membosankan. Juga...
Di dadaku, dia melukiskan cintanya yang merah. Lalu dengan sangat perlahan, dia merebahkan tubuhku, merenggangkan kakiku dan membenamkan wajahnya di antara pahaku. Aku sangat menyukai ketika lidahnya lincah dan membuatku menggeliat geli, pun esapan demi esapan yang membuat saraf-sarafku tegang hingga aku mengeran*.
Kan... baru pemanasan, dia sudah mampu memberikan kenikmatan itu untukku.
Lalu...
Dia menarikku, membuatku kembali masuk ke air. Kemudian menyandarkanku dan menghimpitku ke dinding kolam. Sambil mengisa* leherku -- tangannya perlahan menarik dan mengangkat kakiku. Dan...
Dia masuk. Membenamkan dirinya dengan sempurna.
Santai... kandunganku baru lima bulan dan perutku belum membuncit. Belum ada jarak yang menghalangi kami untuk saling menempel. Dan jujur, kami belum pernah bercinta di kolam seperti ini, meski airnya dingin, tapi cinta kami tetaplah hangat. Dengan pelan, kami menghabiskan beberapa menit dengan irama air yang berkecipak.
__ADS_1
"Belakang, Sayang," bisiknya seraya melepasku dan memutar tubuhku.
Dia pun kembali masuk. Sambil bergerak perlahan, dia mencium leherku sekali lagi, lalu bibirnya yang hangat berpindah ke punggungku. Dia menggigit plus *engisapku dengan buas. Setelah itu, tangannya menyelinap -- bergerilya di dadaku dengan kuat hingga membuatku kembali mengeran*.
Dan... triple point! Reza bisa melakukannya bersamaan.
Kau tahu, ini adegan yang sama persis dengan novel yang pernah kutulis. Hasil fantasiku yang liar saat aku masih gadis. Reza pernah membacanya, dan dia heran kenapa aku bisa menulis sebegitu detail tentang fantasi-fantasiku dalam adegan bercinta. Dan...
Hah! Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan merealisasikan adegan ini dalam duniaku yang nyata.
"Sayang, ke sofa, yuk?"
Aku mengangguk. Dia pun menggendongku dan kami melanjutkan ritual itu di sofa.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," kataku akhirnya. "Bisa sambil mengobrol?"
Dia menyetujui. "Baiklah. Aku akan melakukannya perlahan."
"Tapi janji, kamu jangan emosi apalagi sampai marah, ya?"
Dahinya mengernyit. "Kenapa?"
"Berjanjilah dulu. Please?"
Reza pun mengangguk. "Aku janji. Aku mencintaimu dan aku akan mengontrol emosiku. Demi kamu, demi anak-anak kita. Aku janji tidak akan emosi, tidak akan marah, apalagi kasar."
"Kalau kamu marah, kamu boleh menghukumku dengan cara... hentakkan dan benamkan dirimu lebih dalam. Aku akan menerima hukuman itu dengan senang hati."
Ckckck!
Reza terkekeh. "Hukuman macam apa itu, Sayang? Hmm? Itu kan memang maumu. Kamu suka kalau aku menekanmu kuat-kuat. Dasar...."
Aku pun nyengir. "Memang, aku suka itu. Sangat sangat suka."
Ah!
__ADS_1
Ya salam... belum dimulai pun dia sudah beraksi? Dasar....