
Setelah November plus Desember yang membekukan, dan membawa kesedihan hingga akhir Januari, Februari yang sesuai harapan akhirnya datang dengan kehangatan -- meski dalam cuaca dingin menyelimuti Jakarta, menyembuhkan stres dan bisa membuatku tertidur tanpa bantuan obat. Kendati sebenarnya aku yang kembali paranoid seringkali terbangun di tengah malam untuk mengecek keberadaan Reza di sisiku. Dan kusadari, selama kau masih cinta dan memiliki harapan, omong kosong kalau kau bisa bersikap masa bodoh alias tidak peduli terhadap pasanganmu. Kecuali jika harapan itu sudah pupus dan tak bersemayam lagi di hatimu, kau bahkan -- mungkin -- sudah tidak ingin lagi berada di sisinya.
Awal-awalnya, ketika aku terbangun di tengah malam, aku tidak bisa langsung melanjutkan tidurku. Aku seringkali menghabiskan waktu bermenit-menit dengan menatap wajahnya dan merasakan detak jantungnya yang terbungkus kulit telanjang tanpa sehelai kain -- sambil mengutuk diri sendiri yang tak mampu mengenyahkan rasa takut, padahal aku sudah memiliki -- lagi -- pelukan dan bahu ternyaman-ku sendiri. Tetapi, setelah rentang waktu yang bermenit-menit, aku bisa kembali tidur. Begitu juga pada malam-malam berikutnya yang kulalui dengan hangat di dalam pelukannya.
Tapi sayangnya, kehangatan itu agak terganggu karena rasa paranoidku yang tak kunjung sirna. Hingga pada jumat kedua bulan itu, sewaktu Reza hendak pergi ke resto, dia mengatakan kepadaku kalau dia akan pulang setelah salat jumat dan makan siang di rumah -- paranoidku mulai merongrong otakku dan membuatku kembali menaruh rasa curiga.
"Kamu mau ikut?"
Aku menggeleng. "Tidak," kataku. "Tapi tolong bawakan makanan untuk makan siang. Kalau kamu tidak keberatan -- aku tidak akan memasak siang ini."
"Oke," sahutnya. "Tidak masalah. Tunggu aku pulang dan jangan bekerja terlalu berat."
Aku tersenyum. "Iya, Mas." Tapi maaf kalau aku harus sedikit tidak jujur. Kuharap kali ini kamu tidak mematahkan kepercayaanku lagi.
Yap. Rasa paranoid itu mendorongku untuk mengikutinya. Sori, maksudku, aku akan pergi ke resto, memastikan sendiri dia ada di sana, bersama siapa, dan berbuat apa.
Resto baru buka dan masih sepi pengunjung saat aku masuk selayaknya customer dengan masker dan kaca mata yang membuatku nampak berbeda, terlebih aku harus mengurai rambutku dan menyempatkan diri untuk membeli pakaian baru. Tentu saja supaya Reza tidak mengenaliku dengan pakaian yang dia tahu betul itu milikku. Di saat itu pula terpikir olehku bahwasanya semua pakaianku yang disediakan Reza memiliki kesamaan: semuanya menggunakan ritsleting, kancing, atau kerah berkaret, dan sebagian kecil dengan model tali sebagai pengikatnya. Geli rasanya ketika aku baru menyadari semua itu, sebab otak mesum mengarahkan pikiranku ke memori-memori saat Reza...
Halo... ingat tujuanmu ke sini, Inara...! Kuenyahkan pikiran tentang semua kenangan-kenangan manisku itu. Fokus, Nara... fokus!
Gara-gara pikiran itu, aku sampai tidak menyadari Reza sudah duduk di meja -- persis di belakangku, aku mengenali suaranya. Dia bersama seorang lelaki yang aku tidak tahu itu siapa, tapi dari obrolan mereka jelas sekali kalau lelaki berjas itu adalah seorang pengacara. Dan karena obrolan itu pula -- aku bergerak-gerak gelisah di kursiku. Aku tidak menyangka kalau kata-kataku sangat berpengaruh, sehingga Reza benar-benar membuat surat wasiat dan mencantumkan namaku di dalamnya.
Tengkukku meremang. Aku jadi ketakutan, bagaimana kalau...
__ADS_1
Ya Tuhan... aku tidak ingin kehilangan suamiku. Aku menyesali ucapanku hari itu. Dengan gemetar, aku meninggalkan tempat. Aku tidak ingin reaksiku menimbulkan kecurigaan dan membuat Reza menyadari keberadaanku. Kalau dia sampai melihatku ada di sana, dia akan tahu kalau aku diam-diam menyimpan rasa tidak percaya terhadapnya.
Namun malang bagiku, ketika aku hendak pergi motorku malah mogok. Tapi aku harus lekas pergi, terpaksa kudorong motor itu dengan sekuat tenaga, hal yang paling bodoh yang pernah kulakukan dalam hidup: seorang perempuan yang sedang hamil, mendorong motor di saat matahari mulai terik, lengkap dengan alas kaki berhak lumayan tinggi. Kalau dalam keadaan tidak terjepit dan kalut, pasti aku berpikir seribu kali untuk melakukan kebodohan itu.
Yah, aku melakukannya. Aku mendorong motorku hingga cukup jauh sampai-sampai kakiku luar biasa pegal dan perutku agak keram. Aku menyerah dan berhenti, lalu kuputuskan untuk menelepon Ihsan dan memintanya untuk segera menjemputku. Dan seperti biasa, Ihsan memarahiku karena sudah bertingkah begitu ceroboh plus bodoh. Kendati demikian dia tetap peduli, dia menelepon tukang bengkel dan menyerahkan motorku untuk diservis. Lalu, alih-alih mengantarku pulang, dia malah membawaku ke rumah sakit. Dia terus menggerutu kendati pacarnya, Aarin -- sudah menegurnya berkali-kali. Itulah Ihsan dan perhatiannya yang unik. Hasil pemeriksaan kandunganku yang baik-baik saja pun tidak akan meluluhkan sikap cerewetnya. Dia akan terus bercuap sampai dia puas menceramahiku.
"Sudah, Yang. Mbak Nara kan baik-baik saja."
"He'em, sedang hamil begini kok malah dimarahi."
"Justru karena kamu sedang hamil, Markona. Makanya jangan suka pergi sendirian."
Eit dah!
"Begitu tu kalau dinasihati."
"Kamu itu marah-marah, bukannya--"
"Terus. Menyahut saja terus."
"Aku kan punya mulut."
"Keras kepala."
__ADS_1
"Memang."
"Bisa diam, tidak? Orang kalau salah tu diam, jangan menyahut terus."
Well, aku pun diam. Aku dan Ihsan tidak saling menyahut lagi. Sementara Aarin menggeleng-gelengkan kepala sebab keheranan.
"Jangan heran, Rin. Dia secerewet itu karena dia sangat sayang padaku. Nanti kamu juga bakal merasakan kecerewetannya."
Ihsan melirik ke spion. "Itu pujian atau cemooh?" katanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang berusaha ia tahan.
"Bagaimana kamu mengartikannya saja." Aku balas tersenyum. "Terima kasih, ya. Kamu sudah menyayangiku dan peduli padaku sampai sebegitunya."
Dia tidak menyahut. Senyumnya mengembang lagi kendati ia berusaha menutupi senyum itu dengan jemarinya. Pun ketika sampai, dia menyempatkan turun dari mobil untuk memelukku. Pelukan yang lebih lama dari biasanya. "Jaga diri dan kandunganmu baik-baik," pesannya. "Kalau ada apa-apa, segera telepon aku. Jangan ceroboh lagi. Jangan buat aku merasa bersalah karena gagal menjagamu."
"Iya, pasti," sahutku.
"Kami balik ke kantor, ya, Mbak," ujar Aarin yang memelukku setelah Ihsan."
"Jangan bilang ke siapa-siapa soal pemeriksaanku tadi, ya? Janji?"
"Iya, Mbak. Tenang. Aku bisa menjadi teman dan saudari yang baik, ya kan?"
Aku tersenyum. "Tentu. Sebab itu aku tidak keberatan berbagi Bunda dan Ihsan denganmu. Kamu ipar terbaik."
__ADS_1