
Sebelum kembali ke rumah pamanku, kami menghabiskan seharian dengan jalan-jalan. Pertama, kami pergi ke Taman Bunga Bukit Mutiara Garden. Kami hanya berjalan-jalan sebentar, lalu duduk sambil memandangi hamparan bunga dengan mengobrol. Dari beberapa kali kami pergi ke taman bunga, entah kenapa kali ini Reza mencetuskan komentarnya. Katanya dia tahu kalau aku sangat menyukai bunga, tapi kenapa rumah kami baik di kampung ataupun di Jakarta kok tidak banyak tanaman bunga? Aku tahu itu sebuah pertanyaan, tapi kesan yang kudapat malah seperti sindiran atau komentar yang nyelekit.
"Aku dan Bunda sangat menyukai bunga, tapi kalau ditanam di dalam pot, rasanya kurang menarik. Sedangkan pekarangan kami kan kecil, tidak memungkinkan untuk ditanami bunga. Kami itu suka yang seperti ini, serba merah, serba kuning, serba putih. Apalagi kalau terhampar seluas ini, ya kan? Ya kecuali untuk tanaman-tanaman tertentu ya, misalnya sejenis keladi atau tanaman bonsai yang memang tanaman khusus pot. Cuma untuk di teras, kan? Kalau tanaman dalam pot ditaruh di pekarangan -- kan kurang oke. Makanya di rumah itu cuma ada sedikit tanaman bunga. Bisa dimengerti, Mas?"
Reza mengangguk. "Tumben kamu tidak keliling sampai ke ujung-ujung. Tidak bosan, kan?"
Aku menggeleng. "Tidak, aku tidak bosan dan tidak akan pernah bosan," kataku. "Tapi... aku capek."
"Karena aku?"
"Menurutmu?"
"Kasihan... mau dipijat?"
"Emoh! Nanti yang ada -- kamu malah membuatku lebih capek."
Reza pun nyengir lebar, tapi sejenak kemudian ekspresinya berubah serius. Dia meraih tanganku dan menggenggamku dengan erat. Sayangnya, ia belum sempat bicara -- kami harus lekas pergi. Sepupu-sepupuku sudah meneriaki kami untuk meninggalkan tempat. Kami hendak menuju Pantai Pelangi. Waktunya bermain jetski di Danau Ranau.
For your information, guys. Danau Ranau itu danau terbesar kedua di Pulau Sumatra, setelah Danau Toba. Seperti Danau Toba yang memiliki Pulau Samosir di tengah-tengah danaunya, seperti itu juga Danau Ranau yang memiliki Pulau Marisa yang sekaligus tempat pemandian air panas. Airnya mengandung sulfur yang konon katanya bagus untuk menyembuhkan penyakit kulit. Dan kabar yang membahagiakan adalah: baru-baru ini di pinggir kawasan Danau Ranau sudah dibuat pantai buatan. Yap, Pantai Pelangi. Tapi poin utama yang membuatku senang ialah adanya fasilitas penyewaan jetski. Tarifnya hampir sama dengan penyewaan jetski di Bali, tapi hitungan durasinya lebih lama ketimbang kalau kita menyewa jetski di Bali. Dan jangan khawatir, dalam beberapa tahun mendatang, akan ada akses jalan tol yang akan mempersingkat jarak tempuh kita untuk sampai ke lokasi wisata Danau Ranau. Menyenangkan, bukan?
"Mas, kamu tadi mau mengatakan sesuatu?"
"Yeah, nanti saja," katanya. "Kita menggila dulu."
"Menggila? Apa? Jangan macam-macam kamu, ya. Aku capek. Sumpah," cerocosku. "Aku tidak sanggup...."
Reza langsung terbahak-bahak sampai perutnya terasa nyeri. "Dasar otak mesum!"
"Terus? Maksudmu menggila apa?"
__ADS_1
"Main jetski, Sayangku... bukannya main itu."
"Oh! Aku kira main itu."
Hah! Aku malu!
Begitu sampai di Pantai Pelangi, kami pun bermain jetski. Kupeluk tubuhnya erat-erat, ikut menggila bersamanya. Seperti Alfi yang mengajarkan Mayra untuk tidak menyia-nyiakan hidup, seperti itu juga Reza mengajariku, aku tidak boleh menyia-nyiakan hidup. Dan aku berusaha untuk itu. Toh, aku hanya tinggal menerima -- karena setiap hari Reza menghujaniku dengan kebahagiaan yang tiada henti. Sampai-sampai aku merasa -- aku -- wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Sewaktu kami mengunjungi Pulau Marisa, Reza menarikku, menyepi dari rombongan. Dia memintaku untuk memejamkan mata dan menaruh sesuatu di telapak tanganku.
"Kunci? Kunci apa ini?"
"Rumah," katanya.
"Rumah?"
"Baiklah," kataku. "Silakan."
Dia tidak langsung bicara, seolah dia memikirkan rangkaian kata atau seperti mengumpulkan keberanian untuk bicara. Kesannya seperti itu, tapi aku tidak tahu sebenarnya kenapa jeda diamnya cukup lama.
"Katakan saja," kubilang supaya dia tidak ragu.
Dia mengangguk. "Aku ingin cerita sedikit," katanya. "Jadi, sewaktu Ihsan menjabat tanganku di hari pernikahan kita, dia menjabat tanganku dengan mantap dan kuat, aku bahkan sampai kaget saat itu. Dia juga menatap mataku dengan kesan tegas. Kamu tahu dia mengatakan apa? Katanya dia bukan melepaskan tanggung jawabnya, tapi berbagi. Dia bilang, dia akan menjadi garda terdepan jika aku sampai menyakitimu. Jadi, aku tidak akan berani melakukan itu, aku tidak akan berani menyakitimu, sebab kamu punya orang-orang yang siap menumpahkan darah demi membela dan melindungimu. Dan bila itu belum cukup untuk membuatmu tenang, atau mungkin aku belum bisa mengikis habis rasa takutmu. Aku minta maaf. Tapi, aku akan berusaha semaksimal mungkin membuatmu selalu nyaman. Kalau suatu saat aku menyakitimu, kamu dan anak-anak kita berhak atas rumah kita dan aku yang akan pergi. Anggap kunci ini sebagai simbol, surat-suratnya nanti menyusul -- akan kualihkan rumah kita atas namamu."
Aku yang sedari tadi rasanya tercengang mendapatkan surprise sebesar itu, berusaha menanggapinya dengan tenang. "Mas...," kataku, "kamu tidak perlu sampai seperti ini. Itu kan rumahmu. Kamu tidak perlu mengalihkan rumah itu atas namaku."
"Terima itu sebagai hadiah pernikahan."
"Tapi...."
__ADS_1
"Jangan menolak."
Gedebuk!
Buah kelapa muda jatuh hampir mengenai kami.
Eh? Kelapa muda?
Heh! Saka. Menantu pamanku yang lihai memanjat kelapa sengaja melempar buah itu ke arah kami. Untungnya bukan melempar dari atas pohon, mampus dong kalau kena kepala. Tapi itu cukup membuatku kaget.
"Ayo, kita ke sana. Sebelum mereka semua mengomeli kita." Reza langsung menarikku sebelum aku sempat mencetuskan apa pun.
Sewaktu kami kembali ke jetski, kupeluk tubuh suamiku itu dengan penuh perasaan. Satu tangan kulingkarkan di pinggangnya, dan satu tangan lagi ke dadanya. Kurengkuh ia sekuatku, bukan dengan nafs*, tapi lebih ke rasa syukur karena aku memilikinya -- teman hidup yang mencintaiku sepenuh jiwa dan raganya.
"Aku mencintaimu," kataku pelan di antara hingar bingar mesin dan suara gemuruh angin yang menerpa. Dan apa yang kulakukan itu malah memancing reaksi konyolnya. Reza menghentikan laju jetski yang kami kendarai hingga kami mengapung-apung di atas air. "Kenapa?" tanyaku.
Dia menggeleng pelan. "Aku juga mencintaimu," katanya. Kemudian dia meraih tanganku -- membawa tanganku ke bibirnya dan mengecup lembut telapak tanganku. Serasa ada yang mekar mengembang di dalam diriku, dan bulu-bulu tanganku meremang.
"Obrolan kita tadi belum selesai. Aku belum berterima kasih padamu. Terima kasih, ya. Aku terima pemberianmu sebagai hadiah pernikahan. Terima kasih. Tapi aku tidak bisa memberikan apa-apa untukmu."
Reza tersenyum, senyuman manis yang biasa kulihat. Dia berputar setengah badan menghadapku dan kami pun berciuman. Sebuah bahasa isyarat yang langsung kumengerti bahwa dia ingin menciumku.
"Kamu... sudah memberikan seutuhnya dirimu kepadaku, kamu juga sudah memberikan cintamu seutuhnya untukku. Itu sudah lebih dari apa pun. Apa yang kuberikan kepadamu itu tidak akan pernah bisa cukup untuk membalasnya. Bukan berarti aku mengukur dirimu dan cintamu dengan harta, ya. Tidak sama sekali. Kamu paham, kan?"
Aku mengangguk. "Aku paham," kataku, sebelum Reza mengatakannya lebih detail dan akan kesulitan merangkai kata.
"Jadi, kamu tidak usah memikirkan apa dan bagaimana cara membalasku. Oke?"
Senyumku pun mengembang. "Iya. Tapi di hari ulang tahunku nanti, kamu jangan memberiku hadiah apa pun, ya? Aku tidak enak kalau saat ulang tahunmu nanti aku malah tidak bisa membalasnya. Jadi ulang tahunku nanti cukup kita rayakan dengan kue. Deal?"
__ADS_1