
Meskipun begitu, rencana makan siang kami tetap berlanjut -- kami makan siang bersama di meja khusus itu. Dan seolah foto-foto di meja itu akan dibiarkan permanen, meja itu dilapisi dengan alas kaca untuk melindunginya dari tumpahan minuman dan makanan yang akan disajikan. Dan setelah kuamat-amati, meskipun pose-pose kami sedemikian mesra, tidak ada satu pun foto yang mengekspose tubuhku secara berlebihan. Semua pakaian yang kukenakan dalam foto-foto itu masih dalam kategori sewajarnya dan pantas-pantas saja.
"Sayang, banyak sekali yang ingin kusampaikan. Boleh aku memulainya sekarang?"
Aku mengangguk. "Eh, sebentar," sanggahku. "Sebelum aku lupa, tolong belikan aku sebuah meja berlapis kaca seperti ini untuk di ruang galeri. Aku ingin menyimpan surat-surat darimu."
"Surat? Kamu menyimpan semuanya?"
Aku mengangguk. "Semuanya."
"Waw. Aku terharu. Dan, ya. Tentu. Sebuah meja akan segera di pesan untukmu," dia gugup, lalu menarik napas dalam-dalam. "Bisa aku mulai bicara?"
Aku nyengir lebar. "Oke, silakan."
"Pertama-tama...," kata Reza. "Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Perlukah kukatakan lagi? Maafkan aku. Maaf karena telah bersikap begitu kasar dan tidak jujur padamu. Aku minta maaf untuk segala kesalahan yang telah kulakukan, segala hal yang bertentangan dengan janjiku sendiri. Mungkin kamu menganggap -- aku menjadi seperti ayahku, bahkan juga menjadi seperti ayahmu. Aku minta maaf. Tapi tidak ada sedikit pun niat di hatiku untuk menjadi seperti mereka, apalagi untuk menyakitimu. Tidak sama sekali."
Sejujurnya aku bisa mengerti andai saja Reza melakukan semua itu tanpa harus membohongiku. Kalau dia jujur dan memintaku untuk ikut berpura-pura baik pada Salsya dan membiarkan dirinya berpura-pura menuruti kemauan Salsya tepat di depan mataku, mungkin aku lebih mengerti. "Aku hanya tidak bisa menerima caramu yang mesti membohongiku. Apalagi kamu diam-diam menemuinya di belakangku. Aku sudah pernah bilang, apa pun itu -- kamu harus jujur."
"Aku tahu. Aku tidak akan lagi membohongimu sedikit pun. Tidak akan sedikit pun. Bunuh aku kalau aku melakukannya lagi."
Berlebihan. "Kamu mau aku berbuat kriminal dan akhirnya anak-anakku menjadi yatim sekaligus anak seorang napi?"
"Baiklah, mungkin aku berlebihan. Tidak usah dibahas. Hal kedua yang ingin kusampaikan adalah ini," Reza meneruskan. "Aku tahu perasaan kita tidak akan pernah terputus meski kita terpisah jauh dan begitu lama. Kita hanya saling menyiksa diri satu sama lain dengan perpisahan itu. Tapi aku selalu yakin, kamu tidak akan pernah berhenti mencintaiku. Seperti itu juga aku yang tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
__ADS_1
Untuk ukuran seorang pembisnis yang selalu serius di depan karyawan-karyawannya, kalimat-kalimat itu membuatku geli. Aku mesti merapatkan kedua kakiku erat-erat untuk menghentikan rasa geli di antaranya. Dan menahan bibirku supaya aku tidak kelepasan dan menertawai usahanya dalam sesi permintaan maaf ini.
"Sayang, selama kita berpisah, aku selalu merindukanmu setiap saat. Apa kamu merasakan yang sama?"
Aku mengangguk. "Ya," sahutku. "Aku juga merindukanmu setiap saat."
"Aku selalu mendoakanmu. Apa kamu juga selalu menyebut namaku dalam setiap doa?"
Aku menghela napas. "Aku selalu menyebut namamu dalam doa, meski saat itu aku marah dan membencimu setengah mati."
Dia mengulu* senyum. "Aku sudah sangat banyak melakukan kesalahan, tapi aku tahu, perasaanmu kepadaku tidak pernah terkikis sedikit pun."
"Tapi bukan berarti aku akan terus memaafkanmu kalau kamu menyakitiku lagi. Sekali lagi. Kalau itu sampai terjadi, hubungan kita akan berakhir di pengadilan."
"Aku akan selalu memakainya selama aku berstatus sebagai istrimu. Begitu pula sebaliknya. Aku tidak akan segan melepaskannya kalau statusku berubah menjadi mantan istri. Dan, kalau kita sampai berpisah, aku tidak akan mengembalikan apa pun yang sudah kamu berikan untukku. Anak-anakku berhak atas semua itu. Kalau perlu, mulai sekarang aku akan meminta jatah bulananku dinaikkan, perhiasanku harus ditambah setiap bulan, dan... apa ya?"
Reza tersenyum nakal. "Kalau kita sampai berpisah karena kesalahanku, aku akan keluar dari rumah tanpa apa pun. Kalau perlu, kamu lucuti dulu pakaianku sebelum aku pergi."
Hah! Aku tergelak. "Bisa rujuk lagi kita kalau begitu ceritanya. Kamu tu, ya... kalau ngobrol selalu ngalur-ngidul ke mana-mana."
"Mari makan, anak-anakku tidak boleh kelaparan." Dia menyodorkan sepotong ikan goreng ke depan mulutku dan aku memakannya.
Selesai makan, Reza mengajakku kembali ke mes untuk mengambil barang-barang kami. Tetapi, sesampainya di sana, dia malah mengunci pintu dan memelukku dengan erat. Sambil cengar-cengir, dia menenggerkan kepalanya di tengkuk leherku. Tatapan matanya berubah nakal dan senyumannya pun melebar.
__ADS_1
"Mau apa?" tanyaku. "Erik sudah menunggu kita di mobil."
Dia tak peduli. "Biarkan saja," katanya. "Aku menginginkanmu sekarang. Aku sudah menunggu cukup lama untuk hari ini."
"Mmm-hmm, sepuluh hari termasuk hari ini."
"Aku kangen."
"O ya? Jadi... kamu mau melakukan apa?"
Dia tidak menyahut, malah langsung menarik turun kerah sabrinaku hingga melorot ke bawah, mengekspose punggungku yang langsung ia gigit dan ia pun langsung *engisapnya dengan kuat.
Ya ampun... rasanya nano-nano. Di satu sisi aku suka dan ingin sekali menikmatinya dengan serileks mungkin, tapi di sisi lain aku malah menahan tawa geli gara-gara teringat sepasang kucing yang sedang kawin tempo hari. Reza menggigit punggungku persis kucing jantan itu sampai aku -- katakanlah cukup puas menikmatinya. Setelah itu, barulah ia memutar tubuhku menghadapnya, menarikku begitu rapat padanya plus menatapku dengan lekat. Rasanya sungguh aneh, kami sudah hampir setahun bersama, sudah bercinta sekian kali tanpa tahu hitungan dan sudah sangat sering melihat satu sama lain dalam kepolosan tubuh masing-masing, tapi tetap saja -- tatapan mata Reza yang begitu dalam mampu menenggelamkanku ke dalam debaran-debaran yang membuatku terhipnotis. Hingga tahu-tahu kami sudah terbaring di ranjang, dan...
"Ayo, Erik sudah menunggu di mobil." Reza pun cekikikan.
Jelas, dia berhasil membuatku sebal sampai aku mencengkeram kerah kemejanya dan ia jatuh tertelungkup di atasku. "Aku akan membuatmu berpuasa lebih lama jika kamu tidak menunaikan kewajibanmu sekarang."
Hah!
Well, Reza mengangguk. Cengirannya pun tak kunjung hilang sampai matanya menyipit. "Baiklah. Aku sangat suka kalau kamu memaksaku."
Tepuk jidat. Dari dulu hingga sekarang, dia suka sekali menjahiliku. Mau bagaimana lagi? Risiko punya suami yang super sableng. Tapi tetap saja, aku suka, dan aku cinta padanya. Terlalu cinta.
__ADS_1