
Dengan mata tertuju ke jalan, Reza menyalakan mesin dan kami masuk ke dalam kegelapan yang membeku. Aku bersyukur ini hanya perjalan singkat, sekalipun rasanya seperti tiga puluh menit terpanjang dalam hidupku. Apakah dia tidak ingin membahas sesuatu denganku? Dan kalau memang ada yang perlu dibahas, mengapa dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengatakannya? Tanpa ada tanda-tanda percakapan akan dimulai, aku meringkuk ke pintu penumpang lalu menatap ke arah jalan-jalan yang kami lewati. Aku dapat merasakan akibat kurang tidur dan sejuta pemikiran dalam benakku -- telah menyedot habis tenagaku.
"Aku mengantuk," kataku. "Kalau aku ketiduran, nanti tolong bangunkan aku. Aku ingin mandi sebelum istirahat, ya?"
Reza mengangguk, sehingga selama tiga puluh menit berikutnya aku pura-pura tertidur, dan Reza sama sekali tidak membangunkanku ketika kami sampai. Ah, andaipun dia membangunkan aku, aku akan tetap pura-pura tidur dan dia mesti menggendongku sampai ke kamar.
Setibanya di kamar, dengan sangat hati-hati dia menurunkanku ke tempat tidur. Dia juga menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Tetapi ia sempat turun dulu untuk memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam rumah dan memasukkan mobil ke garasi. Setelah dia naik lagi ke kamar, barulah dia membangunkan aku yang sebenarnya hanya pura-pura tidur.
"Kok aku di kamar?"
"Kamu ketiduran."
"Aku kan sudah bilang bangunkan aku."
"Ini. Aku membangunkan kamu sekarang."
"Maksudku tadi, kamu tidak perlu repot-repot menggendongku ke kamar."
Senyuman yang menyebalkan tersungging di bibirnya. "Tidak usah marah-marah. Ayo, bangun, kita mandi."
"Aku mau mandi sendiri."
__ADS_1
"Jangan bantah aku. Oke?"
"Iya... oke, asal jangan mengajakku bercinta. Aku capek."
Reza nyengir lebar dan tatapan matanya langsung berubah nakal. Dia tidak mengindahkan kata-kataku. Aku baru saja menikmati air panas yang menghangatkan tubuhku, dia mulai menggosok-gosokkan kakinya ke kakiku di dalam bathtub.
"Yooo... Mas. Memangnya kamu tidak capek? Lihat juga tubuhku, sudah merah-merah semua," protesku.
Dengan cengiran lebarnya dia lengsung menarikku. "Sebentar saja," katanya.
Sebentar apanya? Ternyata dia menenggak suplemen penambah stamina.
Sumpah, ya, kelakuannya yang gila itu membuatku terkulai. Aku tidak sanggup berbuat apa-apa lagi selain menjatuhkan diri -- tertelungkup -- di atas tempat tidur dengan tubuh dan rambut yang masih terbungkus handuk. Lelah luar biasa.
Aku berterima kasih dan mempersilakannya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya padaku. Meski aku tahu, selain untuk menyenangkan aku, dia sengaja melakukan itu untuk mengintrogasiku. Silakan saja. Aku akan menjawabmu dengan jujur.
"Kamu tadi pergi ke mana saja?" tanyanya.
Aku pura-pura keberatan menjawab dengan menghela napas berat. "Ke kantor Rizki," kataku. "Setelah itu langsung ke mall," aku menjawab dengan sedatar mungkin ala orang mengantuk berat plus kehabisan tenaga.
"Ke kantor Rizki? Untuk apa?"
__ADS_1
"Silaturahmi."
"Hanya itu?"
Kugelengkan kepalaku sekali. "Tidak juga. Aku sengaja ke sana untuk diskusi, sekalian minta kontaknya. Hanya untuk jaga-jaga, mungkin suatu saat aku membutuhkan bantuannya."
"Bantuan? Bantuan apa?"
"Bantuan dalam masalah hukum, Mas."
"Sayang--"
"Aku tahu kamu paham maksudku."
Reza menghentikan gerakan tangannya. "Kamu...."
Aku membalik tubuhku dan memintanya menarikku -- membantuku untuk duduk. "Aku tidak ingin membahas ini," kataku sambil menatap kepadanya. "Aku tahu, meski tanpa bertanya, kamu pasti tahu apa maksudku menemuinya. Dan selanjutnya, tergantung jawabanmu besok pagi. Ingat, aku akan menagih jawabanmu. Oke? Dan omong-omong, terima kasih atas pijitannya. Aku mau tidur. Aku ngantuk. Kamu juga tidur. Hmm?"
Reza hanya mengangguk dengan sedih. Sebenarnya aku tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus memperjuangkan masa depanku.
"Jujur, Mas, aku takut kehilangan masa-masa kebahagiaan kita. Tapi aku lebih takut bila aku harus hidup berbagi pria yang kucintai dengan perempuan lain. Yah, setidaknya malam ini kita masih punya waktu. Kita masih bersama. Peluk aku semalaman, ya?"
__ADS_1
Raut wajah frustasi langsung terpampang di wajahnya. Aku tahu dia merasa khawatir atas tindakan ancang-ancangku. "Sayang, bukannya kita--"
"Ssst...," kusuruh dia diam, "kita bahas besok. Aku tidak ingin melewatkan momen kita malam ini. Oke? Sekarang, tidurlah dan peluk aku. Aku mohon?"