
Gairahnya bangkit, aku bisa merasakannya. Ia langsung menekankan tubuhnya rapat-rapat ke tubuhku.
"Jangan...," kataku ketika menyadari tangannya menarik gaun tidurku hingga bagian kakiku terekspose.
Dia tidak menghiraukan, hanya langsung melahapku dengan ciuman panas menggairahkan. Kurasa kali ini dia ingin bercinta dengan kasar. Aku berusaha menghalanginya ketika dia menarik pakaian dalamku dengan paksa, dan mencoba masuk. Aku juga menginginkannya -- sangat -- tetapi aku tidak ingin melakukan itu di tempat terbuka. Aku berusaha bertahan sekuat tenaga.
"Jangan di sini," kataku.
"Ayolah... tidak ada siapa pun yang melihat."
"Mana kita tahu."
"Apa masalahnya? Kita suami istri. Sah."
__ADS_1
"Iya. Tapi kan...."
Protesku kembali terhenti. Reza kembali membungkamku dengan ciuman. Semakin aku meronta-ronta, dia malah semakin bernafs* dan langsung menurunkan sedikit celananya.
Aku berhenti melawan ketika ia berhasil merenggangkan kedua kakiku dan berhasil masuk -- ia langsung bergerak di dalamku, tapi ia berhenti sesaat untuk mendaratkan bibirnya di leherku -- mencumbuiku dengan beringas sampai aku mengeran* keras. "Jangan ditahan, Sayang," bisiknya. Dia meneruskan serangannya dan kami berbaku hantam dengan ekstra.
Setelah cukup lama kemudian, ia memintaku duduk di atas pahanya. Entah kebetulan atau apa saat itu aku memakai gaun tidur ritsleting di depan, dengan mudah Reza menurunkannya dan aku pun dalam keadaan tidak memakai bra. Dia memandangiku hingga aku merasa malu dan menundukkan pandanganku. Setelah itu pandangannya beralih ke lekuk tubuhku, dan berhenti di bagian dadaku, pandangan matanya seolah berdecak kagum dan memuja-mujanya dengan agung. Dengan perlahan tangannya mulai menyentuhku.
Aku mengangguk dengan malu. Sentuhan yang tadinya lembut perlahan menguat, lebih kuat dan lebih kuat lagi. Hingga aku mendongakkan kepala dengan mata terpejam.
"Aku ingin merasakannya, Sayang," Reza berkata sambil merebahkan tubuhku dengan lembut hingga aku kembali terlentang di bawahnya. Ia pun langsung menikmati dadaku dan meninggalkan jejak-jejak cintanya yang merah.
Tapi belum cukup. Dengan malu, kudorong kepalanya dengan lembut. "Turun," kataku. "Beri aku lebih, please?"
__ADS_1
Dia mengangguk dan langsung turun ke pahaku, sementara aku menutup kembali ritsleting gaunku -- antisipasi, mana tahu ada orang lain di sekitar sana. Tetapi konsentrasiku kembali buyar saat ia mencicipiku. Ia membuatku tak henti mengeran* hingga mengepalkan tangan. Aku menjerit, memanggil-manggilnya dengan napasku yang tersengal.
Menyadari kami tidak punya banyak waktu, Reza pun kembali masuk dengan gagah. Dia menyelesaikan tugasnya dengan gerakan-gerakan cepat kemudian ikut mengeran*. Aku sangat suka mendengarnya. Suaranya terdengar seksi dan menggema di telinga.
"Terima kasih. Aku mencintaimu," katanya, nyaris berbisik lalu menciumi keningku. Kemudian ia melepaskan diri dan menggeser tubuhnya, menarik gaunku hingga menutupi pahaku, barulah ia berbaring di sebelahku. Gaun tidurku basah, banyak butiran pasir yang menempel di permukaan kainnya. Jujur saja rasanya tidak nyaman dan aku ingin segera kembali ke cottage, ingin cepat mandi supaya bisa berganti pakaian. Tapi itu harus kutahan, sebab Reza butuh sedikit waktu untuk memulihkan tubuhnya.
Sembari mengelus tubuhku dari atas ke bawah, dia mengatakan sesuatu, "Aku memakai suplemennya. Kamu suka?"
Aku agak tercengang, sempat mendelik, tapi akhirnya aku tersenyum dengan malu. "Ya," kataku. "Sangat suka. Itu... luar biasa."
"Mmm-hmm, luar biasa. Jadi, bagaimana rasanya bercinta di bawah bintang-bintang?"
Eh?
__ADS_1