Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Testpack Positif


__ADS_3

Oktober berembus ke dalam kota dengan suatu kecerahan yang disambut semua orang. Langit biru cerah berawan di atas hari-hari yang hangat dan dikecup sinar matahari yang menyilaukan. Kabar baik pun datang dari Zaza yang mengabarkan berita kehamilannya melalui instagram pribadinya. Selang seminggu kemudian disusul kabar yang tak kalah menggembirakan -- kabar yang sama -- datang dari Zizi yang juga hamil anak keduanya. Tapi di satu sisi, ada sebagian kecil dalam hatiku yang meringis. Aku yang sudah berjanji pada Tuhan bahwa aku akan  menjadi hambanya yang lebih baik, tiba-tiba saja merasa Tuhan tidak adil padaku. Tapi perasaan yang sempat hinggap itu segera kutepis. Aku menyadari kesalahanku, tidak seharusnya aku mengeluh kepada-Nya.


Dua hari berikutnya, sore menjelang malam, kabar buruk malah datang dari kampung. Ibuku sakit, sudah dua hari dan dia baru mengabariku. Dipikirnya ia hanya demam biasa, tapi panasnya malah semakin tinggi sampai harus dilarikan ke rumah sakit dan aku harus pulang. Di sisi lain, kabar buruk juga datang dari keluarga Bagus. Ibunya meninggal. Reza tidak enak hati kalau ia tidak datang melayat. Dulu Bagus datang melayat sewaktu ibunya Reza meninggal, dan membantu mengurus banyak hal sampai selesai takziah, meskipun waktu itu aku belum mengenal Bagus.


Akhirnya kami sepakat, aku pulang ke kampung duluan, sedangkan Reza pulang ke Bogor. Dia akan menyusulku sepulang dari kediaman Bagus. Keadaan memaksa kami untuk berpisah sejenak.


Sebenarnya terdengar berlebihan, aku sangat merasa sedih sewaktu kami berpisah di bandara.


"Hati-hati, Sayang. Nanti di bandara aku akan suruh orang untuk menjemputmu. Kabari aku terus."


Hoaaa... aku mewek. "Aku takut kalau kamu jauh dariku."


"Cuma sebentar, kan lusa aku juga akan menyusulmu. Jangan sedih, ya."


Well, kuhela napas dengan berat. Kuraih dan kuciumi tangan Reza sebelum aku meninggalkannya. "Jaga dirimu juga hatimu baik-baik. Segera susul aku."


"Pasti. Jangan khawatir." Dia memelukku plus mencium keningku dan kami berpisah.


Tetapi, dua hari kemudian, sore harinya Reza mengabarkan kalau dia belum bisa menyusulku.


》 Sayang, aku meriang. Tunggu keadaanku membaik, ya. Nanti aku langsung menyusulmu.

__ADS_1


Aku langsung meneleponnya, tapi tidak ada jawaban.


《 Kamu di mana? Minum obat, ya. Kalau kamu di rumah, obat-obatan ada di laci dapur. Kalau kamu di jalan, di mobil juga ada obat.


Whatsapp balasan dari Reza baru masuk setengah jam kemudian.


》 Sudah. Aku istirahat, ya.


《 Oke. Cepat sembuh, Mas.


》 Ya, Sayang.


"Kenapa?" tanya ibuku.


"Maaf, ya. Gara-gara Bunda--"


"Bund...." Kugenggam tangannya. "Nara anak Bunda, Nara harus ada di sini. Lagipula mau bagaimana lagi, Nara sudah terlanjur ada di sini, Mas Reza-nya di sana. Semoga dia cepat sembuh dan menyusul ke sini. Jangan jadikan masalah ini sebagai beban pikiran Bunda. Oke?"


Ibuku mengangguk. "Iya, Nak. Maaf, ya."


"Sudah, jangan maaf-maafan terus. Pokoknya, nanti, kalau Bunda sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit, Bunda ikut Nara pulang ke Jakarta, ya?"

__ADS_1


Ditolak.


"Tunggu kamu hamil saja, baru Bunda pulang ke Jakarta. Bunda bisa bantu-bantu kamu mengurus semuanya nanti."


Aku merengut. Ibuku itu memang susah dibujuk.


Sebentar, tanggal berapa hari ini?


Ya ampun. Aku sampai tidak sadar kalau aku terlambat datang bulan. Memang baru tiga hari, tapi perasaan senang langsung menyelinap ke sanubari.


"Bund, Nara keluar sebentar, ya."


"Mau ke mana?"


"Ke apotek. Sebentar saja."


Aku pun langsung bergegas ke apotek membeli 2 pcs testpack, alat uji kehamilan. Satu untuk langsung kupakai saat itu juga, dan satunya lagi untuk besok pagi. Oh Tuhan... hatiku jadi deg-degan.


Dalam beberapa menit berikutnya aku sudah kembali ke ruang rawat ibuku dan langsung melesat ke kamar mandi.


Sujud syukur, dua garis merah meledakkan kebahagiaan yang tak terkira dalam hatiku. Hasilnya positif. Aku sampai menangis saking harunya. Tapi kuputuskan untuk merahasiakan dulu soal kehamilanku dari siapa pun. Aku ingin Reza menjadi orang pertama yang tahu tentang kehamilanku. Toh, besok pagi aku harus cek ulang untuk hasil yang lebih pasti. Dan...

__ADS_1


Hasilnya sama. POSITIF.


Dengan perasaan bahagia, aku langsung mendaftarkan diri untuk USG ke dokter spesialis kandungan untuk mendapatkan kepastian -- yang benar-benar pasti.


__ADS_2