Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Kamu Sempurna


__ADS_3

Hari itu, saat pagi menjelang siang, setelah ibuku pulang, dan Ihsan juga Aarin berangkat ke kantor, kejahilan Reza semakin menjadi. Waktu itu aku sedang mencuci pakaian dan berdiri di depan mesin cuci. Reza, dengan watak jahilnya itu sengaja menghampiriku dan berdiri rapat di belakangku.


"Basah, ya?"


"Namanya juga cucian, ya basahlah."


"Kalau kamu?"


"Mas...," pekikku


Dia cengengesan. Berat sekali puasaku...


Dan, siangnya...


"Sayang," panggilnya. Masih dengan nadanya yang menggoda.


Dan sewaktu aku menoleh...


Dia sedang memamerkan tubuhnya yang seperti roti sobek.


"Mas... pakai bajumu...."


Lagi-lagi dia cengengesan. "Berenang, yuk?" ajaknya.


"Dasar suami gila."


Aku berdiri dan langsung mendorongnya ke kolam, kemudian segera menutup pintu -- beserta gordennya. Tahan, Nara....


Lebih parahnya, di sore hari saat aku berdiri di depan wastafel, aku sedang membersihkan ikan yang baru saja ia siang -- dia jahil lagi. Dengan sengaja Reza menyibakkan rambutku dan mendaratkan bibirnya di leherku, dia memang tidak menghisap. Tapi kehangatan bibirnya yang menempel di area sensitifku itu jelas membuatku harus menahan diri ekstra kuat.


"Jangan begitu, Mas. Nanti batal puasanya."


"Aku kan cuma mencium, masa batal?"


"Kan bisa ciumnya di pipi, di kening, atau di kepalaku."


"Memangnya kenapa kalau di sini? Aku maunya di sini."


Ya Tuhan... sekali lagi, Reza menempelkan bibirnya di leherku.


"Mas..."


"Apa...?"


"Jangan--"


"Jangan apa?"


Aku memutar tubuhku dan kami saling berhadapan. Reza malah semakin cengengesan dan menatap ke bola mataku. "Jangan seperti ini..."


"Kenapa, Sayang? Emm?"


Aduh... suaranya.

__ADS_1


Eh?


Dia mengangkatku, mendudukkan aku di sisi wastafel. Lalu dengan cepat merenggangkan pahaku dan menarikku lebih rapat. Perut kami saling menempel. Aku berharap anak-anaknya terbangun lalu menendangnya. Tapi mereka sepertinya lebih pro pada ayahnya. Cocok!


"Jahilnya dikurang-kurangi dong, Mas..."


"Sehari tidak menjahilimu rasanya ada yang kurang."


"Kemarin bisa. Masa sekarang tidak bisa ditahan?"


"Kemarin kita terlalu sibuk menyiapkan acara anniversary semalam."


Hmm....


"Please, jangan pas puasa begini jahilnya."


"Kenapa?"


"Nanti kebablasan, bisa batal puasa kita."


Dia terkikik. "Pikiranmu yang perlu dijaga. Berarti di dalam sini dipenuhi hal-hal mesum," katanya sambil mengunyeng-unyeng kepalaku.


"Pikiranmu yang kotor."


"Kamu."


"Kamu...."


"Kamu, Sayang."


"Kamu...."


"Terserah. Turunkan aku."


"Malam ini malam jumat. Jangan lupa jatahku, ya."


Eh?


"Dasar edan...."


"Memang...."


"Turunkan aku. Aku mau masak."


"Nope."


"Nanti kamu makan apa buka puasanya?"


"Kan ada kamu. Makan kamu saja."


"Sudah, Mas. Nanti aku tidak kuat...."


"Aku serius, aku maunya makan kamu."

__ADS_1


"Sudah, ya. Mending kamu ke belakang."


"Ke belakang? Ngapain?"


"Hu'um, ambilkan bayam. Oke, Papa?"


"O-ke. Biar kuat, kan?"


"Hmm... dasar sinting!"


Dia tergelak, lalu mengelus perutku, kemudian menurunkan aku dan langsung bergegas ke belakang. Bahkan dia merebus sendiri bayam itu dengan sedikit garam. Yeah, seperti yang dia katakan, itu salah satu yang membuat tubuhnya sehat, kuat, dan bugar selain olahraga, dia selalu makan sayur setiap hari. Katanya kebugaran itu bukan untuk diri sendiri, tapi juga untuk istri. Jadi makanlah sayur setiap hari. Hah!


Are you Popeye?


Atau kambing?


Eh, embek kali, ya....


Apa sajalah.


Kurang dari tiga jam kemudian, azan magrib pun berkumandang, waktunya berbuka. Kemarin plus hari ini, aku ikut berpuasa sehari penuh kendati aku hamil besar, kata ibuku itu bagus untuk kandunganku. Meskipun...


Aku tidak tahu sah atau tidak, ya, puasaku hari ini?


Kalau berdasarkan niat, jelas aku berpuasa, tapi berdasarkan otak dan pemikiranku yang rada-rada...?


Entahlah. Gara-gara punya suami sableng tidak ketulungan.


"Sayang, duduk sini."


"Kenapa minta aku duduk di pangkuan?"


"Duduk di sini...."


"Iya, iya...."


Aku pun menurut duduk di pangkuannya. Lalu...


Reza memejamkan matanya sejenak, sepertinya membaca doa berbuka puasa. Kemudian...


Eummmmm....


Jahilnya kumat lagi. Tahu-tahu dia melahap bibirku. "Kamu tu, ya. Bukannya minum dulu."


"Kamu pernah dengar ceramah, kan, berbukalah dengan yang manis-manis? Dan bagiku, tidak ada yang lebih manis selain kamu."


Hah! Aku mendadak kenyang. "Terima kasih, ya, atas kegombalannya. Walaupun garing."


"Biar saja, yang penting kamu senang dan kamu bahagia."


Yeah. Aku senang. Aku bahagia. Dan aku tahu kamu berusaha mati-matian untuk membuatku bahagia. Terima kasih, ya, Mas. Kamu selalu berusaha mengobati semua luka di hatiku. Aku pun tersenyum. "Terima kasih, ya... kamu sudah membuatku senang plus bahagia lahir batin. Aku sangat bahagia punya suami rada-rada sepertimu."


Kami pun berpelukan dengan hangat. Lalu, kami melanjutkan momen berbuka kami hari itu. Meski dengan menu sederhana, tapi rasa nikmatnya sungguh luar biasa. Kau tahu, kan, karena apa? Karena di hati ini ada cinta dan ada rasa syukur. Dan yang terpenting: tidak ada makhluk bernama Salsya.

__ADS_1


Kamu sempurna andai tak ada dia di antara kita.


__ADS_2