
"Apa yang bisa dimasak?"
Nyaris tidak ada bahan makanan yang tersisa. Hanya ada bawang, setoples sosis, dan bumbu-bumbu instan. Aku tidak akan mau menangkap ikan dan kupikir mungkin Reza juga bosan makan ikan. Tidak ada pilihan, hanya bisa masak nasi goreng dan itu pun tanpa telur. Mau bagaimana lagi?
Begitu Reza selesai mandi, wajahnya sudah bersih dan nampak klimis. Dia turun sambil mengenakan kaus yang nge-pas membalut tubuhnya, persis saat aku menaruh nasi goreng dan setoples sosis ke atas meja, plus kerupuk yang baru selesai kugoreng. Dia tersenyum tipis dan sempat mendaratkan kecupan di keningku sebelum duduk.
"Maaf, ya. Tidak ada yang bisa dimasak. Ini pun untungnya ada nasi di rice cooker," kataku. Aku sudah bisa bicara sedikit lepas padanya meski hubungan kami belum sepenuhnya membaik.
Dia mengangguk. "Tidak apa-apa. Apa pun yang kamu masak, pasti akan kumakan." Dia menggenggam tanganku, tapi sesaat kemudian seolah tersadar, dia langsung menarik tangannya.
Aku tahu. Kamu takut aku histeris lagi, kan? Kuhela napas panjang, dan di saat yang bersamaan, Reza hendak menyendokkan nasi ke piringnya. "Biar aku saja," kataku.
Lagi-lagi Reza tersenyum dengan mata berkaca. Pun ketika dia menyuapkan nasi ke mulutnya, seolah yang ia kunyah itu adalah butiran pasir yang membuatnya sulit menelan.
"Aku ke sini bukan untuk melihatmu menangis," gumamku.
__ADS_1
Dia berusaha mengulum senyum dan ingin menyuapiku, tapi tidak jadi. Dia menaruh lagi sendoknya ke piring.
Ya ampun... ibaratkan kotak kaca, rumah tangga kami seolah sudah retak di segala sisi dan hanya perlu sedikit senggolan, kaca-kaca itu akan runtuh menjadi seratus juta keping.
Tapi tidak. Kuyakinkan diriku bahwa kami masih memiliki bagian dasarnya yang masih utuh. "Ini nasi goreng masakanku. Bukan...." Air mataku menetes. "Jangan membahas ini. Habiskan makananmu."
Hening selama beberapa menit, barulah Reza buka suara lagi, "Sayang, kamu akan tinggal di sini lagi, kan? Aku mohon, ya?"
Aku mengangguk. "Tapi kamu jangan lupa menelepon Bunda. Bilang kalau aku akan tinggal di sini. Dan... tolong yakinkan Bunda kalau kamu akan menjagaku dengan baik. Kamu... yakinkan kalau kamu tidak akan menyakitiku lagi. Tidak akan kasar dan main tangan lagi."
Sama halnya denganku, air mataku tak terasa sudah menetes lagi.
Saat malam datang, seolah masih takut menggangguku, Reza memilih tidur di ruang galeri. Aku tahu ketika dia mengendap-endap dan menyelinap masuk ke kamar sekadar untuk merapikan selimutku, membelaiku sebentar, lalu mengecup keningku. Setelah itu dia keluar lagi. Pagi besoknya, sewaktu aku selesai mandi dan masih memakai handuk, Reza mengetuk pintu dan bertanya dulu apa dia boleh masuk?
Nyesss... rasanya, seperti luka yang ditaburi garam. Perih. Dia pun masuk setelah aku mengangguk. "Aku mau ambil pakaian ganti," katanya.
__ADS_1
"Mandi di sini saja," kataku. "Tidak apa-apa."
Reza pun mengangguk dan menurut, setidaknya itu lebih baik.
Hari ini, aku dan Reza sepakat pergi supermarket, belanja sebanyak mungkin untuk persediaan masa isolasi mandiri dari virus bernama Salsya19. Begitu aku menyebutnya sekarang. Dia seperti corona yang selalu mengancam kami sekeluarga. Kau tahu, menerapkan aturan #dirumahaja seperti anjuran pemerintah yang kuterapkan selama kami di kampung, padahal kampung kami steril dari wabah Covid19 -- tidaklah membuatku merasa bodoh. Tapi sembunyi dari Salsya, jujur, aku merasa yang kami lakukan ini sungguh sangat bodoh. Tapi aku seakan tidak punya pilihan. Demi suami, demi anak-anak dalam kandunganku, dan demi keutuhan keluarga kecilku, aku mau melakukan ini.
Supaya tidak dicurigai oleh siapa pun, kami berangkat dengan taksi online, dan kami menunggu agak jauh dari rumah. Dengan begitu, tidak ada orang yang akan melihat mobil Reza berkeliaran di jalan, apalagi terparkir di parkiran mall. Dan pulangnya, kami meminta Erik untuk menjemput.
Pada malam kedua kebersamaan kami, sewaktu Reza kembali menyelinap masuk ke kamar untuk memeriksaku seperti malam sebelumnya, aku tidak lagi membiarkannya keluar. "Tidur di sini saja," kataku.
Reza yang sudah memegang gagang pintu seketika berhenti. Dia memutar badan dan mengiyakan. Tetapi, keadaan itu justru membuat kami tidak bisa tidur nyenyak. Terutama Reza, dia malah seperti gelisah sepanjang malam. Kasak-kusuknya di tempat tidur membuatku yang tidur memunggunginya merasa terganggu.
Hampir menjelang dini hari, aku yang juga tidak bisa tidur -- tahu betul kalau malam itu dia kepingin menyentuhku, sebab dia sempat mencium leherku dan deru napasnya membuat tengkukku merinding. Tetapi dia mengurungkan niatnya, padahal tangannya sudah menarik gaun tidurku sampai ke paha.
Sepanjang siang aku jadi terpikir dengan kejadian malam itu dan merasa bersalah. Caraku yang menghukumnya selama empat puluh hari lebih itu, membuatnya begitu hati-hati dan juga membuatnya takut untuk menyentuhku. Pada akhirnya, semua yang terjadi malah membuat kami sama-sama tersiksa.
__ADS_1