Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 2
Makan Malam?


__ADS_3

Karena tidak ingin ibuku tahu kekacauan dalam rumah tanggaku, kuajak Reza untuk makan malam di luar, dengan alasan aku bosan berada di rumah terus, plus kepingin makan malam di resto, Reza bersedia menuruti permintaanku. Kami pun pergi ke resto dan menikmati makan malam berdua. Tidak, bukan untuk menikmati.


Selama hidangan pembuka, kami mengobrolkan tentang segala macam dan hal-hal remeh: tentang nama calon anak kembar kami. Reza ingin nama yang sederhana saja untuk anak kembar kami, seperti: Angga-Anggi, Laura-Naura, atau Aldo-Aldi. Kemudian kami membahas tentang kemungkinan-kemungkinan fisiknya akan lebih mirip sang ayah atau mirip ibunya. Lalu hobinya, dia akan menyukai hal-hal yang menantang dan menguji adrenalin seperti hobinya atau sesuatu yang bersifat seni dan keindahan seperti hobiku. Atau kombinasi keduanya? Hobi ayah dan ibunya yang menjadi satu? Bisa jadi. Bayangkan saja.


"Omong-omong, dari sekian banyak keinginanku yang sudah kamu wujudkan, ada dua hal yang tidak pernah kutuliskan dalam buku notes-ku. Tanya kenapa."


Reza menurut. "Kenapa?" tanyanya santai sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Karena aku berusaha menguburnya dalam-dalam. Hal yang dulu kusadari bahwa itu adalah hal yang sulit untuk kuraih. Untuk dua hal ini aku sangat pesimis."


Dia mulai tertarik. "Apa itu? Boleh aku tahu?"


"Pertama, ice skating. Aku dulu sangat kepingin bisa ice skating, maksudku ice skating dance. Tapi, karena hal itu tidak memungkinkan, aku mengubur impian itu dalam-dalam."

__ADS_1


Dahinya menyeringai. "Kenapa begitu?"


"Karena di Palembang dulu tidak ada tempat untuk belajar ice skating. Baru sekarang adanya. Sedangkan di usia dua puluhan, aku sudah tidak senyerekel dulu, maksudku tidak pecicilan seperti dulu. Aku sudah tidak berani lagi belajar sesuatu yang kira-kira akan menghasilkan cidera. Ngeri, sih."


Ia mengangguk. "Oke. Aku paham. Lalu, yang kedua?"


"Piano. Harganya yang mahal tidak mampu kubeli. Dan andaipun aku punya uang setelah menjadi penulis, sayang sekali kalau aku harus menghabiskan tabunganku hanya untuk sebuah piano."


Reza menjulurkan tangannya di atas meja, sambil menggenggam tanganku dan tersenyum, dia berkata, "Aku akan membelikannya untukmu."


Reza pun mengangguk. "Iya, pasti. Aku ingin semua impianmu tercapai."


"Terima kasih," ucapku. "Kamu memang tipe suami idaman semua wanita. Kurasa itu akan sangat berguna. Aku akan menghabiskan waktu luangku selama masa kehamilan ini. Mudah-mudahan itu akan efektif untuk mengusir stres, ya kan?"

__ADS_1


Dia yang mulanya tersenyum karena pujian, tiba-tiba menatapku sambil menyeringai. "Stres? Kenapa stres?"


Well, dia memang tidak peka. Aku terkekeh sambil mengangkat gelas minumanku. "Hampir semua ibu hamil akan mengalami stres. Kurasa aku juga akan mengalaminya. Dan itu pasti."


"Ada aku. Aku akan selalu menemanimu melalui semuanya. Semuanya akan terasa mudah kalau kita melewatinya bersama. Iya, kan?"


Uuuuuh... sok manis. "Aku orang ke berapa yang kamu perlakukan dengan istimewa seperti ini?"


"Apa sih, Sayang?"


Ada yang sensi, bestie....


"Ini, lo, Mas, hidangan utama ini membuatku teringat masa lalu. Aku hanya ingin bernostalgia seperti dinner pertama kita. Kamu mau, kan, mengupaskan udang ini untukku? Aku mohon...."

__ADS_1


Mata kelam Reza langsung beralih ke hidangan di depan kami. Dan senyuman dinginnya menandakan perasaannya mulai terusik.


Wait and see, tak selamanya selingkuh itu indah, Baby....


__ADS_2