
Tapi dulu dia tidak pernah ada, Inara....
Diamlah, Setan! Kali ini kau tidak akan bisa memengaruhiku.
Pecundang! Hanya karena kali ini dia mau melindungimu -- kau akan melupakan dua puluh dua tahun kesalahannya?
Bukan. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli apakah aku sudah memaafkannya atau belum. Aku tidak peduli esok dan seterusnya. Yang aku tahu -- saat ini -- aku menginginkan pelukan ini. Pelukan ayahku.
Di saat yang bersamaan, aku melihat Reza dan ibuku tersenyum bahagia dari balik pintu.
Bunda tidak pernah gagal. Ketidakharmonisan antara Ayah dan anak-anaknya -- itu mutlak karena kesalahan Ayah. Bukan Bunda yang salah mendidik, juga bukan karena kami durhaka. Sikapku dan Ihsan selama ini -- itu adalah cerminan bagaimana sikap Ayah pada kami, yang tak pernah peduli pada kami sejak kecil. Mungkin, aku belum bisa sepenuhnya memaafkan. Tapi mulai saat ini, aku mau menerima kehadiranmu, Ayah. Anda ayahku.
"Seandainya bisa Ayah mau terus memelukmu seperti ini. Tapi kamu butuh istirahat," katanya. Lalu dia tertawa kecil -- tawa bahagia.
Aku mengangguk. "Ayah boleh datang mengunjungiku -- kapan pun yang Ayah mau."
__ADS_1
Aku tahu, ayahku tertegun mendengar kalimat itu -- untuk pertama kalinya aku memanggilnya Ayah. Seakan tidak percaya, ia melepaskan pelukan, lalu memegangiku kedua bahuku dengan tangan tuanya. Dia menatapku dengan matanya yang berlinang. "Ayah sayang padamu." Lalu ia kembali memelukku dengan erat. "Ayah pulang, ya."
"Emm, ya."
Saat dia melepaskan pelukan, dia mengusap air mataku. "Jangan menangis dan jangan takut. Ayah akan melindungimu dengan nyawa Ayah. Ayah tidak akan membiarkanmu mencicipi jeruji besi, meski sedetik. Tidak akan pernah."
Aku mengangguk dalam tangis haru yang berderai. Siapa yang menyangka jalan hidupku akan seperti ini? Kematian Salsya yang kuharapkan selama ini -- justru menjebakku ke dalam masalah hukum, sekaligus mengembalikan sosok ayahku yang selama ini hilang, juga menyelipkan setitik kasih ke dalam hatiku untuknya yang selama ini kubenci.
"Ayah pulang, ya." Lalu ia menaruh kedua tangannya di sisi kepalaku, dia mencium keningku dengan penuh perasaan. Sejenak kemudian, ia mengelus perutku. "Sehat selalu jagoan-jagoan Kakek. Kakek sangat menantikan kalian," katanya. Terakhir dia mengusap kepalaku. "Jaga kesehatan. Kabari Ayah kalau ada apa-apa."
Dan, mereka pulang. Ayahku kembali mengusap air matanya sesaat sebelum membuka pintu. Pun Rizki, dia pun ikut meneteskan air mata karena haru.
"Aku ikut bahagia untukmu. Untuk yang tadi, yang baru saja terjadi."
Aku tersenyum. "Sini," kataku. "Duduk di dekatku."
__ADS_1
Ihsan menurut. Sementara ibuku dan Reza duduk di sofa.
"Jadi, bagaimana denganmu? Apa mungkin kalian juga akan berbaikan?"
Ihsan menggeleng. "Tidak tahu suatu saat nanti. Tapi sekarang tidak. Aku anak lelaki, aku tidak membutuhkannya."
"Apakah tidak ada niat sedikit pun, Ihsan?"
Lagi. Dia menggeleng. "Dia sudah menyelingkuhi Bunda sejak aku masih di dalam kandungan. Sewaktu aku lahir dan bahkan aku masih di rumah sakit, dia malah sibuk pacaran dengan selingkuhannya. Terus, aku baru empat bulan, dia malah minggat. So...?" Ihsan mengedikkan bahunya. "Sudahlah. Toh, aku sama sekali tidak kenal, belum pernah memanggilnya ayah satu kali pun, kan? Jangankan untuk menjalin hubungan ayah dan anak, bisa menerimanya sebagai teman pun, rasanya itu tidak mungkin."
Ibuku diam saja, begitu pun aku. Memang sih, sudah sangat percuma. Besi yang bengkok bisa kembali diluruskan. Tapi hubungan ayahku dan Ihsan itu seperti kayu. Hal yang mustahil untuk meluruskan kayu yang sudah patah. Atau...
Mungkinkah mukjizat itu ada?
Mungkin, selagi ada harapan.
__ADS_1
Tapi Ihsan jelas tidak mengharapkan hal itu sama sekali.
Dia terlanjur menjadi seorang yatim.