
"Jangan... jangan bunuh aku. Tolong, jangan. Tidak, jangan lakukan itu. Jangaaaaan...."
Mataku terbuka.
Mimpi? Apa aku tadi hanya bermimpi?
Aku terbangun dengan mata terbelalak dan napasku terengah. Saat itu, satu-satunya yang bisa kudengar hanyalah debaran jantungku. Bahkan otakku serasa lumpuh, aku tidak bisa memakainya hanya sekadar untuk membedakan antara kenyataan dan mimpi. Aku tidak tahu di mana keberadaanku, apa aku masih di dunia ini atau sudah berganti alam? Kupejamkan kembali mataku, aku butuh waktu beberapa saat untuk mendapatkan kesadaranku seutuhnya.
Lalu...
Ada kata-kata. Kata-kata yang lembut. Kata-kata yang tak bisa tertangkap oleh otakku tapi tahu akan kuikuti ke mana pun karena dia yang mengucapkannya.
"Sayang."
Aku menoleh mengikuti suara itu, tetapi tetap menutup mata kalau-kalau itu tidak nyata. Kalau-kalau aku hanya bermimpi.
__ADS_1
"Sayang, kamu bisa mendengarku?"
Aku membuka mata perlahan dan mendapati Reza berada di sampingku. Bibirnya menyunggingkan senyum kendati matanya berkaca-kaca. Begitu pun denganku, air mata terasa menyekat, dan tenggorokanku terbakar.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?"
Aku sudah bisa mendengar suara itu dengan jelas. Dan aku mulai mendapatkan kesadaranku secara perlahan.
Hari sudah pagi. Aku sudah berada di dalam ruangan yang terang, bukan lagi ruangan gelap seperti semalam. Kubiarkan mataku mengembara di seputar ruangan itu, ada slang infus yang mencuat di tanganku dan cairan bening yang tergantung di tiang di sisi tempat aku terbaring. Aku menyadari -- aku berada di rumah sakit.
Sesaat kemudian, ibuku yang baru masuk ke ruangan langsung menghampiriku lalu duduk di sampingku. Dia juga langsung memeluk dan menciumku berkali-kali. "Kamu baik-baik saja, Sayang? Kamu ingat apa yang terjadi?"
Katakan pada siapa pun yang bertanya kalau kamu tidak tahu apa-apa. Akui kalau kamu sudah pingsan lebih dulu sebelum semua ini terjadi. Mengerti?
Suara itu mendengung di otakku. Dan sekonyong-konyong, seluruh peristiwa itu kembali membanjiri ingatanku. Apa yang diucapkan oleh orang itu? Permintaan? Atau justru sebuah ancaman? Siapa dia? Malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk melindungiku? Atau malaikat maut yang sebenarnya ada di sekitarku? Kenapa dia tidak membunuhku? Kasihan? Atau memang datang untuk melindungiku? Menyelamatkanku dari Salsya? Semua ini membingungkan. Lalu aku teringat mimpiku barusan, di mana keadaan justru terbalik. Dalam mimpiku orang itu menghampiriku lebih dulu, tersenyum, mengelus perutku, lalu bicara padaku. Aku ingat betul dia mengatakan bahwa akulah pemenangnya. Setelah itu barulah dia menghunjamkan senjata ke Salsya, dan aku... apa semalam aku berteriak histeris? Mana yang benar? "Auw! Sakit...," aku meringis menahan sakit di kepalaku sebab segala pemikiran itu membebani otakku.
__ADS_1
"Mungkin sebaiknya kita panggil dokter, Bund."
Dokter? Iya, benar. Panggil dokter. Suntik saja aku biar aku tertidur. Aku ingin terus tertidur. Kenyataan ini membuatku takut. "A--" Tenggorokanku sangat perih, dan kucoba berdeham. "Ak--," kataku parau. "Aku... air...."
"Air? Kamu mau minum?" Reza mengambilkan air dan membantuku minum. Ada rasa dingin melegakan yang menjalari tenggorokanku, terasa sungguh menyenangkan.
Beberapa detik berikutnya dokter dan seorang perawat datang untuk memeriksa keadaanku dan meminta Reza juga ibuku untuk keluar sebentar.
Setelah pemeriksaan itu dan beberapa catatan yang dituliskan suster, dokter mengatakan kalau keadaanku sudah membaik.
"Bisa beri saya obat tidur, Dok?"
Dokter menatapku dengan prihatin. "Yang Ibu butuhkan saat ini adalah asupan makanan untuk kandungan Ibu, dan Ibu mesti banyak minum air putih."
Kandunganku? Anak-anakku?
__ADS_1
Saat aku menyadari itu -- dengan sigap aku menyentuh perutku. Tapi...