
"Jadi, Salsya sudah melahirkan?" tanyaku, tanpa aba-aba.
Reza terkejut dan mulai mengerti maksud dan tujuan makan malam itu. "Kamu sedang hamil. Aku tidak mau apa pun tentang Salsya mengganggu pikiranmu."
Aku berdeham. "Jawab saja iya atau tidak, sudah atau belum. Berikan jawaban yang singkat."
"Tidak tahu."
"Sudah atau belum?"
"Aku tidak tahu."
"Sudah atau belum?"
"Aku sudah bilang aku tidak tahu."
"Bohong!"
"Sayang."
"Kalau kamu tidak jujur, aku akan pergi."
"Ap--"
"Jangan harap kamu bisa melihat anak-anakku."
Tercengang. Reza sampai menganga. "Apa sih kamu?"
"Baik." Aku berdiri.
Takut aku akan benar-benar pergi, Reza pun mengalah dan menjawabku dengan jujur. "Oke, Salsya sudah melahirkan," katanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Aku...."
"Kamu menemuinya?"
Reza mengangguk.
"Bagus. Lalu, kamu mengazani anaknya?"
Dia mengangguk lagi. "Tidak salah, kan? Aku melakukan perbuatan baik."
"Iya, tidak salah. Itu perbuatan baik. Menghasilkan pahala dan akan membuatmu masuk surga. Sementara aku... aku akan jadi bahan bakar di neraka karena aku tidak ikhlas suamiku melakukan itu."
__ADS_1
Aku tahu suaraku menggelegarkan seisi resto. Dadaku bergemuruh karena amarah yang benar-benar memuncak. Tapi mau bagaimana? Api amarahku sudah benar-benar berkobar membakarku dari dalam.
Dadaku sesak. Bukan karena kamu mengazaninya, Mas. Tapi caramu yang melakukan itu diam-diam di belakangku. Aku ikhlas kamu mengazani bayi mana pun, bahkan seribu bayi sekalipun. Tapi jangan berlaku tidak jujur padaku. Kamu jahat....
"Mengertilah. Aku mohon. Itu perbuatan yang baik."
Aku menggeleng. "Kupikir anakku akan menjadi anak pertama yang akan diazani ayahnya."
"Sayang, jangan membesar-besarkan masalah. Oke?"
Aku mengangguk seperti perempuan sinting. "Yeah. Benar. Kamu benar. Ini hanyalah masalah kecil. Benar-benar masalah kecil, untuk apa dibesar-besarkan? Kamu benar, tidak ada gunanya." Aku tersenyum -- selebar mungkin di hadapannya.
"Ayo, makan lagi." Ia menyodorkan sepotong udang di depan mulutku.
Aku pura-pura hendak membuka mulutku, tapi tidak jadi.
"Aku mau makan yang lain," kataku.
"Apa?"
"Aku ngidam nasi goreng kaki lima."
Reza tertegun sesaat. "Baiklah. Kita cari nasi goreng kaki lima."
"Aku mau yang di Bogor."
"Kenapa?" Aku berdiri. "Kamu bisa menuruti ngidamnya Salsya, bahkan kamu menyuapinya. Kenapa kamu tidak bisa melakukan itu untukku?"
Setelah sekian puluh menit manahan diri dan berlagak sok elegan, akhirnya emosiku meluap dan aku mulai bicara jauh lebih tinggi. Terkejut melihat emosi yang keluar dari dalam diriku, semua tamu dan karyawan resto melihat ke arah kami. Mereka menonton pertengkaran kami.
"Sayang, tolong. Jangan mempermalukan diri kita di depan orang banyak. Duduk, ya? Tenangkan dirimu, please?"
Aku menggeleng dan mulai meledak dalam tangis. Tapi aku tidak berkeras ketika Reza menggiringku untuk kembali duduk. "Kamu membohongiku terlalu banyak, Mas."
"Tapi aku punya alasan."
Argh! Aku geram. "Berhenti memberiku alasan! Kamu keluar rumah tengah malam saat aku tidur. Ketika kamu kembali ke kamar dan kutanya kamu dari mana, kamu bilang kamu dari dapur karena lapar. Tapi ternyata kamu menemui *elacurmu itu. Demi menuruti ngidamnya kamu tega membohongiku. Dan hebatnya kamu menyuapinya. Waw, Mas. Tega, ya, kamu menyelingkuhi aku."
"Sayang...." Reza meraih tanganku dan menggenggamnya. "Salsya waktu itu di rumah sakit. Dia dehidrasi karena tidak mau makan dan tidak mau minum."
Praktis aku melotot. "Persetan dengan semua alasanmu."
Kasak-kusuk, kasak-kusuk. Rumpian para pengunjung mulai terdengar.
"Sayang, please. Aku hanya berusaha menolongnya dan membujuknya makan. Dia mau nasi goreng kaki lima, jadi aku membelikan nasi goreng itu untuknya. Tidak ada niatan lain."
__ADS_1
Oh, kutelan ludah getir. "Lalu, dia memintamu untuk menyuapinya, dan kamu menurut saja, ya kan?"
Mengangguk. Reza menuturkan permintaan maaf. Raut wajah menyesal jelas tergambar di wajahnya. Tapi itu tidak lantas membuat hatiku luluh.
"Ceritakan, kenapa waktu itu kamu sakit?"
"Itu...."
"Aku tidak ingin mendengar kebohongan."
"Hari itu hujan deras, aku masih di Bogor."
"Lanjutkan!"
"Salsya datang dalam keadaan basah kuyup. Dia berdiri di luar pagar, aku tidak tahu kenapa -- dia pingsan. Aku keluar untuk menolongnya dan membawanya masuk ke rumah. Saat itu kondisiku memang sedang tidak fit, karena itu aku jatuh sakit. Tapi sumpah, tidak terjadi apa-apa. Di rumah ada Mbok Tin yang mengurusnya. Sumpah. Kamu bisa tanya pada Mbok kalau kamu tidak percaya."
Kuhela napas panjang, menekan kuat-kuat gelombang emosi yang meluap. "Bagaimana sewaktu dia melahirkan? Kamu menggunakan alasan ke resto untuk mengelabuhiku? Iya? Supaya aku tidak curiga? Begitu, kan?"
"Maaf."
"Apa dia sudah lama di Jakarta?"
"Em."
"Memang berencana lahiran di sini? Supaya kamu bisa menemaninya saat dia melahirkan?"
Dia menggeleng. "Bukan itu niatku."
"Katakan kalau ini bukan idemu? Bukan kamu yang merencanakannya?"
Tidak ada jawaban.
"Jawab, Mas!"
Hening.
"Jawab!"
Emosiku sudah sampai ke ubun-ubun hingga aku tidak tahan dan membentaknya, barulah Reza mengangguk.
"Maaf.
Prank!
Aku berdiri dan sengaja menghempaskan sebuah gelas ke lantai. "Dasar lelaki sampah! Bajingan kamu, Mas! Kenapa kamu menyakiti aku? Aku ini istrimu, aku sedang mengandung anakmu, kenapa kamu jahat? Kenapa, Mas? Demi dia kamu tega menyakiti aku? Atau... atau jangan-jangan... jangan-jangan bayi itu memang anakmu? Hasil perselingkuhanmu dengan Salsya? Hmm? Jawab aku! Kamu pernah membawa wanita jalan* itu ke ranjang, kan? Kamu pernah tidur dengan pelacu* itu? Iya, kan? Jawab, Berengsek!"
__ADS_1
Plak!
Sebuah tamparan keras menyambar pipiku.