
Satu minggu sejak aku meninggalkan rumah Ihsan, untuk pertama kalinya hari itu ibuku menelepon Reza dan menanyakan kabar kami. Reza yang tidak mau ada kebohongan lagi memilih untuk berterus terang, dia mengatakan kalau aku sedang berada di rumah sakit. Tentu saja, tidak sampai setengah jam ibuku dan Ihsan langsung muncul di rumah sakit. Kebetulan itu adalah hari minggu dan Ihsan ada di rumah, dan itu juga pertama kali Ihsan dan Reza kembali bertemu semenjak kejadian heboh waktu itu. Tapi entah kenapa malah aku yang cemas. Tatapan mata Ihsan masih dipenuhi dengan kebencian terhadap Reza. Bahkan dia tidak mau menerima jabat tangan Reza sewaktu Reza mengulurkan tangan.
Aku melirik ke arahnya. "Hei, Oom Ihsan," sapaku canggung dan berusaha seceria mungkin.
"Kenapa kamu sampai sakit? Kamu kurang istirahat? Kelelahan? Kamu disuruh kerja berat oleh dia? Hmm?" cerocos Ihsan tanpa peduli pada sanggahanku.
Dengan ngeri aku menatapnya. "Ihsan!"
Dia balas menatapku. "Dia sudah berjanji akan menjagamu dengan baik. Ini bahkan baru seminggu."
"Nak, tidak perlu ribut," ibuku menegur dan itu membuat Ihsan memilih keluar dari ruang rawatku.
Kepalaku jadi pusing melihat sikap saudaraku yang seperti itu. Rasa tidak terimanya pada perlakuan kasar Reza terhadapku menanamkan kebencian yang seolah tak bisa terhapus. "Aku mau keluar. Aku harus bicara dengannya."
Ibuku melarang, tapi aku memohon. Aku tidak bisa membiarkan saudara kandungku bermusuhan dengan suamiku sendiri, karena mereka adalah dua lelaki terpenting dalam hidupku. Dan untung saja Ihsan tidak ke mana-mana. Dia hanya duduk di kursi tunggu di luar ruangan.
"Ihsan," kataku mulai bicara tanpa basa-basi. Aku duduk di sampingnya dan menggenggam erat tangannya. "Aku sedang berusaha memperbaiki rumah tanggaku. Aku tidak ingin anak-anakku kelak tumbuh besar sepertiku, gadis korban broken home yang rusak mental gara-gara masa lalu yang buruk. Aku tidak ingin mereka hidup tanpa sosok ayah. Dan aku juga tidak ingin mereka melewati masa kecil yang serba kekurangan seperti kita dulu. Tolong kamu mengerti itu."
__ADS_1
Ihsan meringis. "Ada aku. Aku bisa menghidupi kalian semua."
"Tapi kamu tidak akan bisa menjadi sosok ayah untuk anak-anakku."
Menggeleng, Ihsan mengepalkan tangan. "Aku bisa berperan sebagai paman sekaligus ayah untuk mereka. Kamu tahu itu."
"Ihsan...."
"Please...?"
"Tapi, Ihsan--"
Oh Tuhan, aku menatapnya dengan nanar. Aku tidak pernah menyangka kebenciannya pada Reza sudah mengakar kuat sampai-sampai dia bisa berbicara seperti itu terhadapku.
Kuhela napas panjang. Tidak ada gunanya memperdebatkan perkataan Ihsan yang sudah terlanjur emosi. Aku melorot ke lantai, bersimpuh di kakinya. Aku yakin, dia tidak akan sanggup apalagi membiarkan aku sampai menyembah kepadanya.
"Apa yang kamu lakukan? Berdiri sekarang," katanya sambil meraih lenganku.
__ADS_1
Aku yang tahu caraku pasti berhasil -- berusaha sekuat tenaga memeluk kakinya. "Maafkan suamiku. Tolong? Demi aku. Aku mohon, Ihsan?"
"Iya. Oke," sahutnya dengan nada kesal dan terpaksa. "Bangun, kembali ke kamar sekarang."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Kali ini Ihsan-lah yang membuatku menangis, meski aku sadar betul hatiku sama sekali tidak sakit dan air mata itu tidak akan berlangsung lama. Dan aku bersyukur dia masih mau mengalah.
"Kakiku keram," kataku.
Ihsan mendesa* keras. Aku tahu dia masih sangat kesal. "Gendong istrimu," katanya pada Reza yang berdiri di pintu.
Reza pun mengangguk dan langsung menghampiriku.
"Tunggu," kataku. Aku kembali duduk ke kursi dan meminta mereka untuk duduk di samping kanan dan kiriku, lalu kugenggam tangan -- kedua lelaki yang kucintai itu. "Mas, aku mau kamu meminta maaf pada Ihsan. Aku mau tangan kalian berjabat, bukan saling memukul."
Bertolak belakang dengan sikap kasarnya padaku satu setengah bulan yang lalu, kali ini Reza menunjukkan sikap lelakinya yang gentle. Dia tidak keberatan untuk meminta maaf pada Ihsan, sekaligus pada ibuku, jelas itu juga karena dia menyadari sepenuhnya -- memang dirinyalah yang bersalah. Pun Ihsan, meski agak terpaksa dia mau memaafkan Reza. Atau mungkin hanya berpura-pura saja untuk membuatku senang? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Aku mencintai kalian. Please, peluk aku."
__ADS_1
Uh, senangnya. Mereka berdua mau menuruti mauku tanpa protes sedikit pun. Sungguh, mereka adalah dua lelaki terbaik dalam hidupku -- yang paling berharga.