
Jumat pagi, matahari kembali memancarkan sinarnya yang hangat setelah beberapa hari hujan seakan tak mau berhenti mengguyur sebagian besar wilayah Jakarta dan membuat kami menghabiskan waktu hanya di dalam ruangan -- meringkuk seperti sepasang ayam. Hari ini, langit kembali cerah berawan dan akhirnya Reza bersedia memenuhi permintaanku, dia mau mengajakku jalan-jalan, menikmati suasana luar yang sejak lama kurindukan.
"Mau ke mana?"
"Ke pantai. Tapi mampir dulu ke minimarket."
"Siap, Nyonyaku. Apa pun untukmu."
Aku mengikik karena merasa geli atas ucapannya. "Terima kasih, Mas."
"Apa pun untukmu. Asal ingat jangan lari-larian apalagi sampai melompat-lompat."
Jiaaaaah... aku menggeleng-gelengkan kepala. "Tanpa kamu ingatkan aku juga tidak akan melakukan itu. Memangnya aku anak kecil?"
"Siapa yang tahu?"
"Sekalian saja kamu gendong aku terus."
"Akan kulakukan kalau kamu tidak keberatan."
Mau tak mau aku tersenyum mendengarnya. "Ayo, berangkat. Lama-lama aku bisa diabetes mendengar celotehanmu yang manis itu."
"Mau bagaimana, aku suka semua hal yang manis."
Reza pun menstarter mobil. Setelah itu dia hendak menekan tombol on pada radio, tapi aku segera menghalanginya.
"Aku lebih suka kamu bernyanyi untukku."
"Mau lagu apa?"
"Sampai Tutup Usia dan Bintang Terindah. Aku sedang suka-sukanya dengan kedua lagu itu."
Reza mengerlingkan mata. "Oke."
Ya ampun. Ini dia: saat yang sudah kutunggu-tunggu setelah sekian lama mengalami huru-hara rumah tangga dan hidup dalam persembunyian. Kubentangkan telapak tanganku hingga Reza bisa menelusupkan jemarinya di antara jari-jariku. Dan sungguh, tanpa harus kuminta, dia langsung mengerti maksudku. Jemari kami langsung menaut sempurna.
__ADS_1
Kau tahu, aku merasa hidup yang kujalani saat ini kadang aneh sekaligus lucu. Kadangkala aku merasakan sebuah keberuntungan yang orang lain belum tentu punya kesempatan yang sama. Di hari lain justru aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling sial di muka bumi ini. Dulu aku selalu merasa kekurangan, merasa kesepian dan merasa tidak diinginkan. Tapi sekarang, justru aku percaya -- aku bisa hidup bahagia. Sekarang kusadari, aku tak perlu datang ke tempat-tempat mewah dan menghabiskan banyak uang, apalagi pergi jauh dari rumah hanya untuk mencari sebuah kebahagiaan. Sebab kebahagiaan itu bukan sesuatu yang harus kukejar, namun untuk kuciptakan. Dan itu hanya bersamanya. Suamiku, Reza Dinata.
"Tunggu di sini, kunci pintunya, dan jangan ke mana-mana," kata Reza sesampainya kami di minimarket. Seperti biasa, hanya untuk membeli es krim. Reza pun memakai maskernya dan langsung keluar.
Beberapa menit sepeninggal Reza, ada sebuah mobil yang parkir di sebelah kami, penumpang mobil itu adalah seorang cowok keren yang menjemput kekasihnya, seorang cewek mungil yang baru saja keluar dari minimarket. Dan sepertinya mereka tidak tahu dengan keberadaanku di dalam mobil. Mereka berciuman bibir ketika bertemu dan itu terjadi persis satu meter di sampingku. Dan entah kenapa aku menikmati pemandangan itu -- dan -- aku tidak tahu, tiba-tiba rasa penasaran menyelinap ke relung hatiku, bagaimana rasanya berciuman di publik area? Maksudku, di tempat yang kita tidak tahu siapa saja yang ada di sekitar kita.
"Hei!" suara Reza dan ketukan di kaca mobil membuatku tersadar dari lamunan. "Kamu melamun?"
Aku nyengir. "Yap. Ada pemandangan seru tadi. Sepasang merpati yang sedang memadu kasih."
"Seseru itu?" Reza menunjuk pada sepasang kucing yang sedang kawin. Si jantan menggigit betinya sambil membenamkan diri.
Uuuuuh... ngiluuuuuu....
Dengan wajah agak memerah, aku mengangguk. "Yang ini sepertinya lebih seru. Enak kali ya digigit seperti itu?"
"Dasar mesum!" tegur Reza sambil menjitak kepalaku.
Aku terkikik. "Memangnya kamu tidak kepingin? Belum pernah, lo, kita bercinta di mobil. Bagaimana kalau kita coba? Yuk?"
"Jangan memancing harimau, Sayang...."
"Bahaya. Nanti kamu tidak bisa mengendalikannya."
Mengendalikan? "Justru aku akan membiarkannya menerkamku dengan ganas."
"O ya?"
"He'em."
"Serius?"
"Ayo...."
"Menarik, sih. Tapi kurasa kamu tidak akan suka kalau pakaian dalammu jadi lengket. Jadi sebaiknya kita langsung bergegas ke pantai."
__ADS_1
What?
Aku melotot tak percaya. Dia menolakku?
"Tunggu kamu benar-benar sehat, oke Sayang?"
Aneh. Untuk pertama kalinya Reza menolakku. Dia benar-benar menolakku. Kesan yang kudapat mungkin akan berbeda seandainya dia memberikan alasan: nanti, tunggu kita pulang. Atau oke, kita pulang sekarang. Tapi dia mengatakan: tunggu aku sehat?
"Aku sudah sehat, Mas. Memangnya aku sakit apa sampai kamu bilang aku belum benar-benar sehat?"
Hmm... Reza menghela napas dengan berat, lalu ia mengangkat tangannya untuk membelai rambutku. "Aku tidak mau kamu sampai ngedrop lagi seperti waktu itu. Kamu paham, kan?"
Aku mengedikkan bahu sambil menatap pada es krim di tanganku. Aku bukannya kecewa atau apa, hanya merasa ada yang aneh, seolah Reza sedang menutupi sesuatu dariku. "Kamu aneh, Mas. Sudah seminggu, tapi kamu...."
"Aku juga ingin, tapi kondisimu sedang rentan. Jadi... kita jangan egois. Harus sedikit mengalah demi anak. Kamu paham, kan, Sayang?"
Aku mengangguk. "Aku takut kalau itu karena hal lain."
"Jangan berpikir aneh-aneh. Tidak ada sedikit pun yang berubah. Hasratku tetap sama, dan aku tidak pernah bosan denganmu. Tidak akan pernah."
Ini membuatku merasa khawatir kalau apa yang kupikirkan dan yang kutakutkan -- seperti itulah kenyataannya. Aku jadi berpikir apakah itu karena keadaan fisikku yang mungkin berubah karena sekarang sedang hamil? Aku jadi tidak percaya diri. "Aku mau ke salon," kataku. "Tidak jadi ke pantai."
"Ide bagus! Itu yang kalian bertiga butuhkan. Kita meluncur sekarang."
Aduh... kamu kenapa, sih, Mas? Kamu aneh....
Sejak saat itu, pikiranku mulai terganggu meski Reza berusaha meyakinkanku kalau semuanya baik-baik saja. Tapi setidaknya sikapnya cukup membuatku tenang. Dia tetap hangat kepadaku, tetap memelukku sepanjang malam, makan bersamaku, bahkan bersantai dan bercanda denganku hampir sepanjang waktu, hingga dua hari berikutnya dia mengajakku pulang.
"Tapi kamu harus janji, tidak boleh mengerjakan pekerjaan yang berat-berat dan harus banyak istirahat. Kalau tidak, aku terpaksa mengajak Mbok Tin ke Jakarta. Deal?"
Aku setuju. "Deal." Kupandangi sekeliling ruangan untuk mulai mengepak barang-barang kami untuk dibawa pulang.
"Aku ada pekerjaan. Nanti kita bertemu di jam makan siang. Kamu jangan ke mana-mana, istirahat saja di sini. Istirahat. Oke, Sayang?" Dia mencondongkan tubuhnya -- mendekat. "Kamu bisa mendengarku, kan?"
Gemas. Kuletakkan tanganku di lengannya lalu *eremasnya. "Iya, Suamiku yang cerewet...."
__ADS_1
Reza tersenyum dan berjalan ke pintu. "Temui aku dua jam lagi. Akan kupesankan meja di pojokan, oke? Sampai jumpa." Dia langsung keluar dan menutup pintu.
Aneh. Biasanya juga makan di kamar. Tapi terserahlah. Yang penting hari ini kami akan pulang.