
Seperti biasanya, sebelum tidur, Reza dan aku menikmati waktu dengan bersantai di sofa. Tapi bukannya bisa rileks, kakiku justru terasa kebas dan semakin terasa pegal. Aku mesti menyendiri dulu, pikirku. Aku mesti mengatasi rasa pegal ini, atau, kalau tidak, aku tidak akan bisa tidur semalaman dan malah akan jatuh sakit.
"Aku ke kamar duluan, ya, Mas," kataku.
Tertegun. Reza agak melongo sesaat, barangkali dia merasa heran. "Kamu ngantuk? Baringan di sini dulu, Sayang. Bobo di pangkuanku, yuk?" katanya sambil menepuk pahanya. "Nanti kugendong ke kamar."
Ah, aku sangat mau kalau saja kakiku tidak pegal. "Aku mau ke kamar," rengekku. "Kamu nonton saja dulu, tidak apa-apa."
"Benaran?"
Aku mengangguk. "Iya," sahutku. "Kamu tidurnya jangan terlalu larut."
__ADS_1
Dia balas mengangguk. "Selesai acara ini nanti aku langsung ke kamar," ujarnya.
"Oke. Aku naik, ya."
Sesampainya di kamar, kubuka laci dan kuambil minyak urut, lalu mengoleskannya ke kaki, pinggang, dan punggungku. Sambil mengurut betisku aku memikirkan apa jawabanku seandainya nanti Reza bertanya aku kenapa, karena dia pasti bisa mencium aroma minyak urut itu nantinya kalau dia masuk ke kamar. Kenapa sampai kelelahan? Memangnya habis ngapain saja kamu? Apa dong alasannya? Aku tidak mau berbohong.
Lo? Tidak apa-apa. Dia sendiri sering sekali, kan, membohongimu? Balas saja....
Akhirnya aku memilih untuk memejamkan mata demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Reza. Lihat saja besok -- seandainya ia masih bertanya, mungkin besok aku bisa jujur.
Tetapi kenyataan berkata lain, aku sama sekali tidak bisa tidur. Bahkan sampai malam telah larut, kebas dan pegal yang semakin jadi malah berkolaborasi menghasilkan sakit dan nyeri di sekujur tubuhku, belum lagi rasa khawatir takut hal itu memengaruhi kandunganku. Seandainya saat itu siang hari -- aku bisa pergi ke tempat spa. Berhubung saat itu sudah larut malam dan aku tidak mau mengganggu Reza dengan kegelisahanku plus aroma jenis minyak-minyakan yang menyengat, aku keluar dari kamar dan duduk di sofabed, merasakan sendiri nyeri yang kuderita akibat ulah dan kebodohanku sendiri. Dan seandainya aku berada di dekat ibuku -- badanku tidak akan sesakit ini, aku tidak akan segan meminta tolong padanya untuk memijatku, sebab dia tidak akan membiarkan aku menanggung semua ini sendiri.
__ADS_1
Malam itu aku meringkuk sendirian sambil menangis dan merenung: begini yang dirasakan ibuku dulu sewaktu hamil. Dan andainya aku tidak pernah bertanya pada ibuku bagaimana sikap ayahku sewaktu ia hamil, aku pasti berani dan tidak segan meminta Reza untuk memijatku.
Sejenak kemudian, karena haus dan tenggorokan yang terasa tercekat -- aku terseok-seok turun ke bawah menuju dapur untuk minum, setelahnya aku berdiam diri dan duduk di sofabed di ruang makan -- merintih sendirian.
"Kamu kenapa?"
Kebiasaan! Suara Reza yang muncul tiba-tiba di tengah malam membuatku kaget. Buru-buru kuseka air mata yang sebenarnya percuma, sebab Reza sudah terlanjur melihatnya. Dia duduk berjongkok lutut di sampingku.
"Sayang, kenapa menangis? Apa aku ada salah?" Matanya menatapku dengan cemas. "Kalau aku ada berbuat salah, tolong beritahu aku. Kamu jangan diam begini. Cerita, ya, please?"
Aku menggeleng dan mengusap air mata yang kembali jatuh membasahi pipi.
__ADS_1
Apa yang harus aku katakan?